Sejarah Singkat Konflik Houthi Di Yaman Bersama Arab Saudi, Begini Mulanya


Jakarta –

Serangan kelompok Houthi Di Yaman Di bandara Riyadh, Arab Saudi, menyebabkan korban luka-luka Di Sabtu (10/10/2026). Serangan ini merupakan yang ketiga kalinya Dari awal Oktober 2026. Bagaimana awal mula konfliknya?

Sebagai memahami konflik ini, perlu membedakan Antara kelompok Houthi, Yaman (pemerintah), dan Arab Saudi. Untuk Situasi Ini, kelompok Houthi tidak sama Bersama Pemerintah Yaman, ya!

Houthi adalah kelompok bersenjata yang muncul Di Area pegunungan Saada Di utara Di 1990-an, menurut Al Jazeera. Dari awal 2000-an pemberontakan sudah muncul, tetapi perlawanan kepada Pemerintahan Yaman dimulai Di 2014. Dari inilah Pertempuran saudara Di Yaman dimulai.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Januari 2015, Houthi merebut istana Kepala Negara Di Sanaa, memaksa Kepala Negara Abd-Rabbu Mansour Hadi Sebagai melarikan diri Di kota pelabuhan Aden Di selatan. Sang Kepala Negara Yaman Setelahnya Itu pindah Di Arab Saudi Bersama tetap menjalankan pemerintahannya Untuk pengasingan hingga pengunduran dirinya Di 2022.

Bagaimana Houthi dan Arab Saudi Bisa Memanas?

Kelompok Houthi telah menguasai sebagian besar Area barat laut Yaman dan beberapa Lokasi yang berdekatan Bersama Arab Saudi. Dari September 2026, Houthi telah memperketat kendali atas pantai Laut Merah yang vital Di Yaman.

Akan Tetapi, keterlibatan Arab Saudi telah dimulai Di memimpin Aliansi Politik militer melawan Houthi Di Maret 2015, Bersama tujuan memulihkan pemerintahan Kepala Negara Hadi Di itu. Houthi Setelahnya Itu menuduh Arab Saudi melakukan serangan Sebagai mendukung pemerintah Yaman.

Pada bertahun-tahun, Houthi terus melakukan serangan menggunakan rudal dan drone bersenjata Di Area Arab Saudi. Terbaru Di 2022, Houthi dan Arab Saudi dimediasi Sebagai melakukan gencatan senjata.

Tanding tersebut menyebabkan hampir setengah Penduduk Dunia Di Yaman, atau Di 22 juta warga, sangat membutuhkan Pemberian kemanusiaan. Situasi ini membuat Yaman menjadi Bangsa Bersama krisis kemanusiaan terburuk Di dunia.

Hal ini diperparah Dari sistem Keadaan dan air yang rusak akibat Pertempuran saudara. Ditambah, jutaan warga Yaman terpapar Penyakit kolera dan menjadikan Bangsa tersebut sebagai Area wabah kolera terburuk Di dunia.

Setelahnya Kepala Negara Hadi mundur Di 2022, dibentuklah Dewan Pimpinan Kepala Negara (Presidential Leadership Council/PLC). Dewan beranggotakan delapan orang tersebut mewakili pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

Tujuan dibentuknya PLC adalah Sebagai mengelola urusan politik, Keselamatan, dan militer Bangsa tersebut, serta Sebagai mengarahkan Dialog Antar Negara Di gencatan senjata permanen. Dewan ini diketuai Dari Rashad al-Alimi, seorang penasihat Kepala Negara Hadi dan mantan Pembantu Presiden Tim Menteri Untuk negeri Di pemerintahan mendiang Kepala Negara Saleh.

PLC didukung Dari Arab Saudi dan aliansi yang dipimpin Riyadh. Meski tujuannya Sebagai menyatukan Yaman, keterlibatan Arab Saudi Lebih memperpanjang ketegangan.

Pada konflik, kelompok Houthi didukung Dari Iran Sebagai melawan Aliansi Politik militer (termasuk pemerintahan Yaman) yang dipimpin Dari Arab Saudi.

Apa Keinginan Houthi Sebenarnya?

Sampai Di ini Pertempuran saudara Di Yaman masih terus berlangsung. Konflik Bersama Arab Saudi kembali memanas Dari Juli 2026 usai runtuhnya kesepakatan gencatan senjata. Pertempuran pun kembali dimulai.

Di awal September, pasukan bersenjata Yaman yang didukung Arab Saudi terlibat Tanding Bersama Houthi Di Marib selatan serta Taiz, Lahj, al-Jawf dan al-Bayda. Houthi meraih Kemenangannya Bersama merebut kota Mocha Di Laut Merah yang sangat penting, memperluas kendali atas Selat Bab al-Mandeb yang strategis.

Sebagai kelompok poros perlawanan, Houthi Mengharapkan kekuasaan yang lebih besar Di Yaman. Bersama anggota yang sudah mencapai 350.000 orang per 2025, Houthi telah menguasai Antara seperempat dan sepertiga Area Yaman.

Houthi juga ingin blokade Arab Saudi diakhiri, Supaya mereka bisa mengendalikan seluruh Yaman, termasuk akses Di pendapatan Energi dan gas Untuk negeri, demikian menurut laporan BBC.

Kini, kelompok Houthi telah melarang pelayaran kapal-kapal Arab Saudi yang telah menggunakan Laut Merah sebagai alternatif Selat Hormuz. Di pertengahan September 2026, pipa Energi Timur-Barat diserang Bersama sebuah drone Sebagai mengganggu Perdagangan Keluar Negeri Energi Arab Saudi. Serangan ini menyebabkan harga Energi Dunia melampaui USD 100 per barel.

Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan Arab Saudi telah mendesak Kepala Negara Trump Sebagai ‘ikut’ menyerang Houthi usai serangan Di pasokan Energi tersebut. Akan Tetapi, Trump tidak melakukannya Sebab Houthi telah setuju Sebagai tidak menyerang aset-aset milik Amerika Serikat.

(faz/nah)



Fahri Zulfikar


Jurnalis detikcom. Bergabung Bersama detikcom Dari 2019. Aktif meliput Permasalahan-Permasalahan Belajar, iklim, Kajian & analisis, konten seputar Gen Z serta menyukai dunia sepak bola. Kini Dari Sebab Itu penulis Bacaan.

`;
constructor() {
super()
this.attachShadow({ Gaya: “open” })
this.shadowRoot.innerHTML = TentangPenulis.html
}

async connectedCallback() {

if (elementType === ‘single’) return false;

this.SwiperClass = Swiper;
const swiperContainer = this.shadowRoot.querySelector(‘.mySwiper’);
new this.SwiperClass(swiperContainer, {
slidesPerView: 1,
spaceBetween: 18,
navigation: {
nextEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-next”),
prevEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-prev”),
},
pagination: {
el: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-pagination”),
clickable: true,
},
});
}
}
customElements.define(elementTemplate, TentangPenulis)

Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Sejarah Singkat Konflik Houthi Di Yaman Bersama Arab Saudi, Begini Mulanya

nagabet76slot gacorslot online slot gacor terpercaya
server slot thailand
slot gacor mudah maxwin
nagabet76 login
situs slot gacorbr Slot Gacor Resmi Hari Ini