Jakarta –
Sebuah studi Di peneliti Universitas Leiden Hingga Belanda mengungkapkan bahwa Kerajaan Belanda Ke masa lalu Merasakan keuntungan besar Di Keputusan kolonialisme Pada berabad-abad. Keuntungan diperkirakan mencapai Rp 11 triliun Di nilai Kurs Matauang sekarang.
Di studi tersebut, para peneliti mempelajari peran keluarga Kerajaan Belanda Di tahun 1600 hingga Di ini. Salah satu keluarga penguasa, Wangsa Oranye-Nassau, terbukti terlibat Di kolonialisme. Semua pejabat (termasuk militer), raja dan ratu hingga Wilhelmina menganggap kolonialisme sebagai hal yang sah dan penting Bagi Belanda.
Eksperimen sejarawan Gert Oostindie Menunjukkan bahwa para pejabat dan Raja Willem I tidak keberatan Di perdagangan budak atau perbudakan itu sendiri. Menurut peneliti, keluarga kerajaan mendukung Keputusan yang didasarkan Ke superioritas Eropa dan kulit putih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wangsa Oranye, sebagai keluarga kerajaan yang memegang peran penting Di politik masa itu, termasuk Di pembuatan Keputusan kolonial. Sambil Itu pejabat-pejabat Memperoleh kekuasaan yang terbatas atas urusan kolonial, demikian menurut temuan studi.
“Keterlibatan Wangsa Oranye-Nassau sepenuhnya dan tanpa keraguan sedikit pun,” demikian kesimpulan para sejarawan dan pakar Ham Belanda Setelahnya melakukan studi Pada tiga tahun.
Keuntungan yang Didapat Di Kolonialisme Hingga Indonesia
Studi tersebut mengungkapkan bahwa keluarga kerajaan memperoleh keuntungan yang sangat besar Di sistem kolonial. Hal ini terutama berasal Di perdagangan Hingga Hindia Belanda atau Area Indonesia.
Misalnya, Ke abad Hingga-19, keuntungan yang didapatkan mencapai Di USD 650 juta. Di Kurs Mata Uang Di ini, jumlahnya mencapai Rp 11 triliun.
Raja Willem-Alexander, yang menugaskan studi ini, menyayangkan atas sejarah yang terjadi. Baginya, itu adalah temuan yang menyakitkan.
“Ini adalah kesimpulan yang menyakitkan dan menantang. Sebuah kesimpulan yang memengaruhi saya, Kendati saya sudah tiga generasi jauhnya,” ungkap Willem-Alexander Di pidatonya Ke presentasi Eksperimen tersebut, dikutip Di Al Jazeera.
“Kita tahu dampak kolonialisme dan perbudakan masih terasa hingga Di ini. Diskriminasi dan eksploitasi ekonomi sayangnya terjadi setiap hari,” imbuhnya.
Raja Belanda Minta Maaf tanpa Ganti Rugi
Ke 2023, Raja Belanda telah meminta maaf atas tindakan leluhurnya Di perbudakan Hingga masa lalu. Akan Tetapi, permintaan maaf Di pihak Belanda memicu perdebatan Lantaran tidak ada ganti rugi.
Misalnya, Ke 2022, Belanda bertanggung jawab atas perbudakan transatlantik. Akan Tetapi, Belanda menolak pemberian ganti rugi dan sebagai gantinya menciptakan dana sebesar USD 238 juta (Di Rp 4,2 miliar) Sebagai inisiatif sosial, yang Dari para aktivis anti-rasisme Disorot tidak cukup.
Sejarawan Belanda, Oostindie, menjelaskan bahwa pejabat dan raja memperoleh sedikit atau Justru tidak memperoleh apa pun Di perdagangan budak transatlantik dan perbudakan Karibia. Ke Di itu, pihak Belanda tidak berhasil Membahas keuntungan.
Kini, Lewat penelitiannya, Oostindie percaya bahwa Belanda menentang perbudakan. Institut Nasional Sebagai Masa Lalu dan Warisan Perbudakan Belanda (NiNsee) mengatakan Eksperimen harus dilanjutkan Hingga fase berikutnya.
“Eksperimen berdampak Ke Kelompok ketika wawasan Mutakhir tentang masa lalu berkontribusi Ke kesadaran, dialog, koreksi, dan penambahan Ke sejarah nasional kita Di kurikulum sekolah serta percakapan tentang tanggung jawab dan keadilan reparatif,” ujar direktur NiNsee, Bianca Groen Gallant.
(faz/nwk)
Fahri Zulfikar
Jurnalis detikcom. Bergabung Di detikcom Dari 2019. Aktif meliput Permasalahan-Permasalahan Pembelajaran, iklim, Eksperimen & analisis, konten seputar Gen Z serta menyukai dunia sepak bola. Kini Karena Itu penulis Literatur.
`;
constructor() {
super()
this.attachShadow({ Tren: “open” })
this.shadowRoot.innerHTML = TentangPenulis.html
}
async connectedCallback() {
if (elementType === ‘single’) return false;
this.SwiperClass = Swiper;
const swiperContainer = this.shadowRoot.querySelector(‘.mySwiper’);
new this.SwiperClass(swiperContainer, {
slidesPerView: 1,
spaceBetween: 18,
navigation: {
nextEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-next”),
prevEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-prev”),
},
pagination: {
el: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-pagination”),
clickable: true,
},
});
}
}
customElements.define(elementTemplate, TentangPenulis)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Belanda Untung Rp 11 Triliun Di Kolonialisme Hingga RI











