Jakarta –
Realisasi Biaya Belajar hingga September 2026 mencapai Rp 574,2 triliun. Begini rinciannya.
Nilai realisasi tersebut melonjak 39,5% secara tahunan (year on year) dibandingkan periode yang sama tahun Sebelumnya sebesar Rp 411,7 triliun.
Dilansir Bersama Di, Pejabat Tingginegara Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara Untuk Konferensi Pers APBN KiTa Di Kantor Kementerian Keuangan Jakarta, Jumat (9/10/2026) merinci sebagai berikut:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Rp184,3 triliun Melewati Langkah Indonesia Pintar (PIP), Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, serta Makan Bergizi Gratis (MBG)
- Rp177,9 triliun Untuk pembayaran gaji serta tunjangan profesi tenaga pendidik
- Rp204,1 triliun dimanfaatkan Untuk mendukung operasional dan peningkatan fasilitas sekolah maupun perguruan tinggi, termasuk Melewati Pemberian Operasional Sekolah (BOS) dan Pemberian Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN).
Bersama sisi mekanisme penyaluran, realisasi Biaya Belajar terdiri atas:
- Rp330,9 triliun belanja pemerintah pusat
- Rp228,1 triliun Peralihan Ke Lokasi
- Rp15 triliun pembiayaan
Suahasil menekankan bahwa belanja Belajar Melewati pemerintah pusat dan Lokasi perlu dilihat sebagai satu kesatuan Untuk mendukung penyelenggaraan layanan Belajar.
Sebelumnya, dilansir Bersama arsip CNBC, Biaya Belajar 2026 ditetapkan Rp 769,1 triliun.
Biaya Belajar Di 2026 digunakan Untuk memperluas akses dan peningkatan mutu Belajar, revitalisasi sekolah, mendukung Langkah Makan Bergizi Gratis (MBG), serta memperkuat pembiayaan beasiswa Melewati Lembaga Pengelola Dana Belajar (LPDP).
Samping Itu, pemerintah juga melakukan penajaman Keputusan beasiswa LPDP agar lebih selaras Bersama kebutuhan pembangunan nasional.
Jika Sebelumnya bersifat umum, kini beasiswa difokuskan Di bidang-bidang prioritas, terutama STEM dan industri strategis, seperti Ketahanan Pangan, energi, Kesejajaran, Defender, Transformasi Digital, kecerdasan artifisial, semikonduktor, hilirisasi, maritim, Pabrik dan material maju, serta kewirausahaan.
(nwk/pal)
Nograhany Widhi Koesumawardani
Jurnalis detikcom. Masuk dunia jurnalistik Dari SMA, bergabung Bersama detikcom Di 2006 usai lulus Bersama Universitas Brawijaya. Aktif meliput Permasalahan nasional, kini menangani topik seputar Belajar, sains dan semacamnya.
`;
constructor() {
super()
this.attachShadow({ Gaya: “open” })
this.shadowRoot.innerHTML = TentangPenulis.html
}
async connectedCallback() {
if (elementType === ‘single’) return false;
this.SwiperClass = Swiper;
const swiperContainer = this.shadowRoot.querySelector(‘.mySwiper’);
new this.SwiperClass(swiperContainer, {
slidesPerView: 1,
spaceBetween: 18,
navigation: {
nextEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-next”),
prevEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-prev”),
},
pagination: {
el: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-pagination”),
clickable: true,
},
});
}
}
customElements.define(elementTemplate, TentangPenulis)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Realisasi Biaya Belajar 2026 Per September Capai Rp 574,2 T











