Jakarta –
Gangguan kecemasan Lebihterus Meresahkan Di kalangan kaum muda. Kejadian Luar Biasa tersebut berkaitan Bersama perubahan harapan dan nilai-nilai Komunitas Di Belajar.
Para peneliti Di Pusat Studi dan Perawatan Kesejajaran Mental (FBZ) Di Universitas Ruhr Bochum, Jerman, telah Membahas hal ini. Peneliti juga Menunjukkan bahwa kepercayaan Pada agama memainkan peran Kunci Di menjaga Kesejajaran mental anak-anak dan remaja.
Gangguan Kecemasan Meresahkan Di Negeri yang Makin Tidak Religius
Negeri-Negeri Di mana religiusitas telah kehilangan signifikansinya, Menunjukkan peningkatan yang relatif tinggi Di gangguan kecemasan. Data tersebut dilaporkan Di jurnal Developmental Science Volume 29 Issue 3 Di 11 Februari 2026 Bersama judul “Dunia Cultural Change and Anxiety in Children and Adolescents: Analyzing Specialization Goals Over Three Decades in 70 Countries“.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Studi ini para ilmuwan Membahas data Di 70 Negeri Di seluruh benua. Mereka Memperhatikan perkembangan Pada tiga dekade terakhir Di 1989 hingga 2022. Dasar analisisnya adalah data Kesejajaran tentang prevalensi gangguan kecemasan Di anak kecil, anak-anak, dan remaja Di Negeri-Negeri tersebut.
Data Kebiasaan Global Di World Values Survey juga disertakan. Jaringan ilmu sosial Dunia ini Memusatkan Perhatian Di pergeseran nilai-nilai Kebiasaan Global dan dampaknya Pada kehidupan politik dan sosial.
“Standar sosial tentang bagaimana anak-anak seharusnya berperilaku telah berubah secara signifikan Di seluruh dunia Di waktu Hingga waktu,” kata penulis utama studi tersebut, Leonard Kulisch, dikutip Di Phys.org.
“Lantaran itu, kami ingin mengetahui apakah pola harapan yang berubah ini berkorelasi Bersama peningkatan gangguan kecemasan,” imbuhnya.
Tidak seperti Sebelumnya Itu, nilai-nilai seperti kepatuhan memainkan peran sekunder Di Belajar Di Negeri-Negeri Barat, menurut studi tersebut. Aspek yang lebih diinginkan Di ini adalah Merangsang kemandirian dan individualitas anak-anak.
Analisis Menunjukkan pergeseran perspektif Barat ini dapat memicu perkembangan kecemasan Di anak-anak dan remaja Di Negeri-Negeri tersebut.
Perlu Cara Alternatif Sebagai Menumbuhkan Rasa Komunal
Di Di Yang Sama, Di seluruh benua, penurunan religiusitas Di pengasuhan anak merupakan faktor risiko paling signifikan Sebagai gangguan kecemasan.
Menurut Kulisch, hal ini bisa Karena Itu Lantaran religiusitas menumbuhkan rasa kebersamaan dan Memberi bimbingan Sebagai kehidupan seseorang. Hilangnya agama secara bertahap sebagai suatu sumber daya dapat meninggalkan rasa kekosongan.
Kulisch menyebut para keluarga menjadi lebih kesepian, Memperoleh jaringan sosial yang kurang stabil, dan rutinitas sehari-hari menghilang. Studi ini Memberi referensi penting Bagi orang tua dan sikap sosial.
“Individualitas dan kemandirian bermanfaat Di sistem ekonomi yang ada Sebagai tetap Tantangan dan Merangsang Perkembangan,” kata Kulisch.
“Tetapi Di Negeri-Negeri Barat, nilai-nilai ini telah melampaui ambang batas yang sehat,” imbuhnya.
Agama sebagai sumber komunitas dan makna Di Belajar, menurut Kulisch, kehilangan urgensinya Di banyak tempat. Maka Lebihterus penting Sebagai memperkuat cara alternatif Di menumbuhkan faktor-faktor pelindung Kesejajaran mental ini Di anak-anak.
“Kegiatan Di Skuat dan kelompok, serta keterlibatan Di kegiatan sipil dapat menjadi faktor penting Di menangkal perkembangan gangguan kecemasan,” ujarnya.
Menurutnya, pusat penitipan anak dan sekolah harus Berusaha secara khusus Sebagai Merangsang rasa komunal Di Di anak-anak dan remaja.
(nah/faz)
`;
constructor() {
super()
this.attachShadow({ Gaya: “open” })
this.shadowRoot.innerHTML = TentangPenulis.html
}
async connectedCallback() {
if (elementType === ‘single’) return false;
const { default: Swiper } = await import(
”
);
this.SwiperClass = Swiper;
const swiperContainer = this.shadowRoot.querySelector(‘.mySwiper’);
new this.SwiperClass(swiperContainer, {
slidesPerView: 1,
spaceBetween: 18,
navigation: {
nextEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-next”),
prevEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-prev”),
},
pagination: {
el: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-pagination”),
clickable: true,
},
});
}
}
customElements.define(elementTemplate, TentangPenulis)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Kurangnya Unsur Religi Di Kehidupan Anak Picu Risiko Gangguan Kecemasan











