Jakarta –
Sejumlah dosen Indonesia mengisi kuliah umum dan dialog Ke Jepang, Selasa (20/1/2026). Para dosen menyoroti Pembelajaran anak Ke hadapan mahasiswa internasional Soka University dan perwakilan komunitas Soka Gakkai Ke Toda International Memorial Hall.
Associate Professor Inisiatif Vokasi Universitas Indonesia (UI) Dr Devie Rahmawati Di kuliahnya mengatakan, Pembelajaran bukan hanya jalur akademik, melainkan instrumen sosial. Fungsinya termasuk Untuk menjaga kemanusiaan, khususnya Ke Ditengah tantangan digital.
Pandangan tersebut selaras Bersama pemikiran filsuf buddhis, penyintas Pertempuran Dunia II, dan pendiri Soka Gakkai International (SGI) Daisaku Ikeda. Menurut Ikeda, sederhananya, memberi nilai adalah kemampuan seseorang Untuk menemukan makna, Memperbaiki eksistensi, dan berkontribusi Ke Keadaan orang lain Di keadaan apa pun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Ke Ditengah dunia yang Lebihterus bising dan terfragmentasi, Pembelajaran harus menjadi tempat anak menemukan makna, arah, dan keberanian Untuk menciptakan nilai Untuk orang lain,” ujar Devie, dikutip Bersama keterangan yang diterima detikEdu.
Transformasi Pembelajaran menurut Devie harus dimulai Bersama Pengalaman Hidup sehari-hari anak. Caranya yaitu Bersama membangun hubungan positif Bersama figur dewasa, menumbuhkan Adat Istiadat Dunia dialog yang konsisten, dan mendukungnya Bersama Karya kolektif yang memberi makna.
“Ke dunia digital, tidak cukup hanya memberi informasi. Yang dibutuhkan adalah activation, ruang offline yang membangun kebiasaan dialog, tanggung jawab, dan kontribusi sosial. Kami menilai pendekatan ini penting agar anak-anak cerdas tidak terperangkap Di ekosistem digital yang dapat Mendorong isolasi sosial, radikalisasi ide, atau normalisasi Kekejaman,” kata Devie.
Wakil Pembina Yayasan Pembelajaran Kader Bangsa Indonesia (YPKBI) ini mengatakan, penerapannya Di lain dilakukan Ke sekolah.
“Ke masa ketika kebaikan mudah hilang Di kesibukan, kita harus merawatnya Bersama sistem. Pembelajaran adalah salah satu cara paling nyata Untuk itu,” ucapnya.
Sekolah sebagai Tempat Dialog dan Tumbuh Bersama
Ke kesempatan yang sama, Wakil Dewan Pengawas YPKBI, Zaky Ramadhan memaparkan inisiatif Pembelajaran yang dilaksanakan pihaknya. Yayasan ini diketahui Ditengah Membuat jaringan sekolah asrama Ke Indonesia. Sekolah-sekolahnya menerapkan kurikulum International Baccalaureate (IB).
Salah satu sekolah jaringan YPKBI, SMA Kemala Taruna Bhayangkara, memberi Pembelajaran gratis dan asrama Untuk 160 siswa yang diterima Bersama 14 ribu pendaftar. Bersama kurikulum IB, pembelajaran siswa ditekankan Ke cara berpikir kritis, refleksi, dan pembentukan karakter.
“Di dunia digital yang penuh percepatan, anak muda sering diposisikan hanya sebagai Kandidat pemimpin masa Didepan. Padahal, mereka adalah Aktor Atau Aktris moral hari ini. Sebab itu, YPKBI memandang Pembelajaran sebagai praktik humanisme yang hidup,” ucap praktisi transformasi organisasi Bersama Folks Strategic ini.
“Selaras Bersama gagasan Daisaku Ikeda bahwa Keamanan Dunia dibangun Lewat manusia, satu per satu, Lewat Pembelajaran yang menumbuhkan keberanian, kebijaksanaan, dan welas asih,” sambungnya.
Kuliah umum ini juga Memperkenalkan kontribusi akademik Bersama dosen Binus University dan Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Assoc Prof Dr La Mani SIP M Sc Bersama Binus University menilai, inisiatif Pembelajaran semacam ini dapat memungkinkan dialog Bersama anak muda, pembelajaran bersama, dan pengelolaan perbedaan secara sehat dan berkelanjutan. Cara ini juga memungkinkan anak muda punya ruang sosial yang terstruktur.
Selaras, Dr Wiratri Anindhita SIP M Sc Bersama UNJ menilai sekolah dapat menjadi institusi tempat anak belajar berdialog dan bertumbuh bersama.
“Di konteks Kelompok yang Lebihterus terfragmentasi, inisiatif seperti YPKBI penting Sebab menyediakan wadah institusional tempat anak muda belajar berinteraksi, berdialog, dan bertumbuh bersama. Ini bukan sekadar proyek Pembelajaran, tetapi Penanaman Modal jangka panjang,” ucap Wiratri.
(twu/pal)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Dosen RI Isi Kuliah Umum-Dialog Ke Jepang, Soroti Pembelajaran Anak











