Jakarta –
Pernahkah detikers merasa linimasa media sosial kini dipenuhi Didalam unggahan yang membuat kesal? Sebuah studi ungkap alasan kenapa alogoritma kita bisa berubah.
Sebelumnya, ada anggapan bahwa Logika Berencana menyesuaikan konten-konten yang sering kita lihat. Akan Tetapi, studi yang dipublikasikan Di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences menemukan fakta lain.
Ternyata konten yang tidak kita sukai bisa sering muncul Di linimasa Lantaran kebiasaan kita. Kok bisa?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Munculnya Logika yang Tidak Sesuai
Peneliti melakukan Eksperimen Di media sosial X (twitter) Didalam melibatkan 715 Pemakai Di Amerika Serikat (AS). Hasilnya, peneliti menemukan bahwa Logika lini masa X cenderung memperkuat unggahan tentang menjunjung tinggi Kearifan Lokal, mengikuti aturan, atau menjaga Keselamatan Kelompok.
Di Di Yang Sama, unggahan yang bertema kepedulian Pada sesama, Di orang Di tempat jauh, sikap dapat diandalkan, dan perlindungan alam dinilai lebih sedikit ditemukan Di linimasa X, demikian dilansir phys.org.
Peneliti juga menemukan bahwa Logika X ternyata lebih sering mempromosikan unggahan yang justru bertentangan Didalam nilai-nilai yang dianut Pemakai, dibanding yang selaras. Ini kenapa, kita lebih sering menemukan konten yang tidak kita sukai.
Padahal, ditemukan bahwa Sebelum awal Pemakai X cenderung mengikuti akun-akun yang sesuai Didalam prinsip dan nilai yang mereka pegang.
Kenapa Konten yang Tidak Kita Sukai Bisa Muncul?
Untuk hipotesis yang digunakan peneliti, terdapat analisis jenis Komitmen yang dilakukan Pemakai, mulai Didalam like hingga komentar. Hasilnya, banyak Pemakai Merespons unggahan yang bertentangan Didalam mereka.
Jenis Komitmen ini penting Lantaran X Menyita sinyal komentar lebih penting Didalam jumlah ‘like’. Peneliti berpendapat bahwa Logika X belajar paling kuat Didalam kolom komentar. Dampaknya, Logika cenderung menampilkan unggahan yang bertolak Dibelakang Didalam preferensi Pemakai.
Sebenarnya, Apa Itu Logika?
Mengutip Tech Times, Logika merupakan model komputasi yang dirancang Untuk Menyaksikan apa yang Mungkin Saja disukai Pemakai berdasarkan pola data Pemakai berupa riwayat tontonan, pencarian, hingga Komitmen Untuk Menyediakan rekomendasi yang dipersonalisasi.
Di balik media sosial, terdapat berbagai jenis Logika yang masing-masing disesuaikan Didalam jenis data dan pola perilaku Pemakai. Terdapat setidaknya tiga jenis Logika.
1. Penyaring Kolaboratif, mendasarkan rekomendasi Di kesamaan Pemakai. Jika dua penonton menonton Peristiwa yang serupa, sistem Berencana merekomendasikan judul yang disukai satu orang kepada orang lainnya.
2. Penyaring Konten, Berorientasi Di atribut yang terdapat Di konten tersebut. Misalnya, Spotify merekomendasikan lagu-lagu Didalam tempo yang mirip Didalam yang sering didengar Dari Pemakai.
3. Sistem hibrida, menggabungkan kolaboratif dan konten Untuk Memperbaiki akurasi. Sistem ini juga diklaim menciptakan rekomendasi yang lebih personal.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker Di detikcom.
(faz/faz)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Kini Medsos Cenderung Perlihatkan Konten yang Tidak Kita Sukai, Logika Berubah?











