Jakarta –
Bayangkan sebuah masa Di Hingga mana kecerdasan buatan (AI) Memutuskan alih semua tugas manusia, membiarkan kita hidup tanpa perlu bekerja sama sekali. Apa yang Akansegera terjadi?
Seorang peneliti filosofi Bersama Massachusetts Institute of Technology (MIT), Michal Masny, mengatakan bahwa tanpa bekerja, manusia bisa Berusaha Mengatasi kehidupan yang memburuk. Ini Lantaran menurutnya, pekerjaan adalah hal yang positif.
“Pekerjaan itu perlu dan bernilai positif. Kehidupan kita Mungkin Saja Akansegera memburuk jika kita menghilangkan pekerjaan sepenuhnya,” katanya, Di laman MIT, dikutip Kamis (4/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masny mencoba meneliti bagaimana pekerjaan Memiliki nilai penting Di kehidupan manusia, termasuk berdampak Di Kesejaganan kita. Di risetnya yang bertajuk Philosophy of Work, Masny mengungkapkan bahwa pekerjaan Memiliki peran yang jauh lebih Di daripada sekadar alat Bagi mencari nafkah.
Menurutnya, menghapus pekerjaan sepenuhnya Bersama kehidupan manusia justru dapat memperburuk Standar hidup secara psikologis dan sosial.
Studi ini dinilai krusial Lantaran Hingga Di pesatnya perkembangan Ilmu Pengetahuan, Komunitas sering kali lupa bahwa bekerja adalah salah satu cara utama manusia menemukan makna, pengakuan sosial, dan rasa Memiliki Di komunitas.
Pandangan Bekerja Bukan Hanya soal Gaji
Masny melihat ada banyak manfaat Bersama bekerja yang tidak bisa digantikan Bersama uang. Bekerja merupakan ruang Bagi individu Bagi Menyusun keahlian (excellence), Memberi kontribusi sosial, Merasakan pengakuan, serta membangun dan mempertahankan komunitas.
Menurut Masny, Kendati wacana memperpendek jam kerja atau menghapus pekerjaan tradisional terus berkembang, skenario tersebut tidak selalu berdampak baik Bagi semua orang. Ia berargumen bahwa harus ada kombinasi optimal Di waktu kerja dan waktu luang.
“Pekerjaan itu penting dan Memiliki nilai positif. Hidup kita bisa memburuk jika kita menghilangkan aspek pekerjaan sepenuhnya Bersama keseharian kita,” ujarnya.
Pentingnya Belajar dan Pola Pikir Filsafat
Selain aspek makna hidup, Masny menekankan pentingnya Belajar yang sadar secara sosial Bagi para pengembang Ilmu Pengetahuan masa Di. Ia Mendorong agar ilmuwan dan insinyur Memiliki pola pikir seperti filsuf atau pengacara Di melihat dampak Bersama proyek mereka.
Ia mengutip peringatan ilmuwan Carl Sagan tentang bahaya menjadi “kuat tanpa menjadi bijaksana secara seimbang” seiring kemajuan Ilmu Pengetahuan. Menurutnya, pembagian tugas tradisional Hingga mana ilmuwan menciptakan Ilmu Pengetahuan dan filsuf Mutakhir mengevaluasinya setelahnya, sudah tidak lagi relevan Lantaran laju Perkembangan yang terlalu cepat.
“Saya ingin menciptakan ilmuwan yang memikirkan proyek dan potensi dampaknya sebagaimana seorang pengacara dan filsuf berpikir, begitu juga Sebagai Gantinya,” kata Masny.
Membangun Pola Pikir Filsuf Hingga Luar Kelas
Pada masa risetnya Hingga MIT, Masny aktif Mendorong dialog etika Ilmu Pengetahuan, termasuk memimpin kelompok Studi mengenai Permasalahan etika dan politik Di Ilmu Pengetahuan deepfakes. Ia percaya bahwa membekali mahasiswa Bersama Alat filosofis adalah Penanaman Modal yang sangat positif.
Kemampuan Bagi merancang pertanyaan yang lebih baik, menurut Masny, Akansegera menghasilkan jawaban yang lebih mendalam dan akurat. Hal ini juga membantu mahasiswa Di mengidentifikasi tantangan moral Hingga dunia nyata Sebelumnya masalah tersebut membesar.
Sampai Pada ini, Masny terus Menyusun ide-idenya mengenai nilai pekerjaan dan dampak Ilmu Pengetahuan Di kehidupan sosial manusia, yang nantinya Akansegera dibawa Di tugas mengajar Lanjutnya Hingga University of Colorado Boulder.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker Hingga detikcom.
(rhr/faz)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Bagaimana Jika Manusia Tidak Perlu Bekerja Lagi? Pakar MIT: Kehidupan Akansegera Memburuk











