Di era kecerdasan buatan (Ai), pemerintahan Ri Prabowo Subianto Memberi perhatian besar Pada Pembuatan bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
Prioritas tersebut terlihat Di sejumlah Aturan Belajar. Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Belajar atau LPDP kini diarahkan lebih besar kepada Inisiatif studi bidang STEM.
Di Pada Yang Sama, Wacana pembangunan 10 kampus Universitas Republik Indonesia (URI) juga Akansegera menitikberatkan Pembuatan bidang sains dan Keahlian. Fokus Pada STEM juga mulai menyasar Belajar dasar dan menengah. Pemerintah mewajibkan pembelajaran coding dan AI mulai tingkat sekolah dasar Di 2027.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, bagaimana nasib ilmu humaniora Di Ditengah Lebihterus kuatnya orientasi Belajar Di STEM?
Guru Besar Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Adat Istiadat Dunia Universitas Indonesia (FIB UI), Prof Muhammad Luthfi Zuhdi, Lc, MA, PhD, mengungkapkan karakter ilmu humaniora yang lebih banyak berada Di ranah konseptual menjadi salah satu faktor.
“Melihat ada sedikit ketertinggalan Pembuatan ilmu humaniora dibanding ilmu lainnya, dugaan kami, kalau ilmu humaniora tidak berupa praktik dan pragmatis, lebih Hingga Konsep. Konsep itu dasar,” ujarnya.
Hal itu disampaikan Luthfi Di jumpa media tentang Simposium Nasional Guru Besar (SNBG) Humaniora 2026 Di FIB UI, Depok, Jawa Barat, Jumat (7/8/2026), ditulis Sabtu (8/8/2026).
Ketua Dewan Guru Besar FIB UI Prof Agus Aris Munandar, menilai Situasi tersebut perlu menjadi bahan refleksi dan diskusi bersama kalangan akademisi ilmu humaniora. Ia menegaskan humaniora Memiliki posisi fundamental Di perkembangan berbagai disiplin ilmu.
“Ilmu kami mendasari semua keilmuan Di semua disiplin ilmu Di dunia. Ilmu humaniora itu induk keilmuan,” ujar Agus yang juga guru besar arkeologi FIB UI ini.
Modal Besar Indonesia Di Pembuatan Ilmu Humaniora
Adapun guru besar ilmu susastra FIB UI, Prof Manneke Budiman, PhD menyoroti posisi humaniora Di Ditengah dua Tren besar yang Pada ini berkembang, yakni hilirisasi dan kecerdasan buatan.
Menurut Manneke, dominasi Aturan yang berorientasi Di STEM menjadi tantangan yang harus dijawab Didalam kalangan akademisi humaniora. Lantaran itu, diperlukan arah Aturan yang jelas Sebagai memastikan Pembuatan ilmu humaniora .
“Ada ancaman nyata, pemerintah memfokuskan STEM, semua bidang ilmu eksakta. Humaniora harus melakukan apa? Harus ada Kertas Aturan Pembuatan ilmu Hingga Di,” tutur Manneke.
Ia mengatakan Indonesia sebenarnya Memiliki modal besar Di Pembuatan humaniora, yakni kekayaan Adat Istiadat Dunia. Kekayaan tersebut Justru menjadi daya tarik Untuk Kelompok Di berbagai Negeri yang ingin mempelajari Indonesia.
Menurutnya, kekayaan Adat Istiadat Dunia nasional semestinya tidak berhenti sebagai materi pertunjukan Di Perayaan Seni atau karnaval. Nilai-nilai tersebut justru dapat diinternalisasikan Di setiap Aturan. “Jangan ini hanya dipamerkan buat Perayaan Seni dan karnaval saja,” tegas Manneke.
Ia juga mencontohkan perbedaan pendekatan STEM dan humaniora ketika Berjuang Didalam persoalan pembangunan. Misalnya, ketika dua Daerah dipisahkan Didalam sungai, pendekatan STEM dapat menawarkan solusi teknis berupa pembangunan jembatan.
Tetapi, pembangunan tersebut tidak cukup hanya dilihat Di aspek teknis. Humaniora membutuhkan kajian lebih mendalam mengenai dampaknya Pada kehidupan Kelompok.
“Kalau ilmu humaniora, dikaji dulu, apakah jembatan itu Akansegera berdampak Di segi sosial, ekonomi Kelompok, jangka pendeknya, jangka panjangnya, apalagi sekarang sustainability Didalam Sebab Itu kata Kunci,” tutur Manneke.
Manneke menilai perkembangan Keahlian dan AI telah Mendorong munculnya Adat Istiadat Dunia serba cepat dan instan. Di Situasi tersebut, humaniora justru menawarkan pendekatan yang “melawan arus”.
Misi humaniora, kata dia, bersifat slowing down. Seperti misalnya mengajak manusia Sebagai berpikir lebih mendalam. “Perlu slowing down, atau diperlambat supaya akal bisa dipakai lagi,” imbuhnya.
Apakah ini berarti ilmuwan humaniora krisis identitas dan eksistensi Di Ditengah pemerintah yang fokuskan STEM Di era AI? Apakah Akansegera ada mata pelajaran Mutakhir lintas ilmu Di humaniora dan STEM?
Manneke tidak melihat perkembangan AI sebagai alasan Untuk ilmuwan humaniora Sebagai Merasakan krisis identitas maupun eksistensi. Sebagai Gantinya, humaniora harus Mengadaptasi Didalam perkembangan Keahlian.
“FIB Justru sekarang punya mata pelajaran Mutakhir, Humaniora Digital. AI itu hanya tools, tidak boleh menggantikan akal budi manusia. Pada pemerintah Berkata fokusnya STEM, wah ini lagi krisis ini. Kalau kita sih PD-PD aja,” kata Manneke menjawab pertanyaan detikedu.
Para guru besar FIB UI Mengetahui bahwa perkembangan Keahlian merupakan arus yang tidak Mungkin Saja dihentikan. Mereka juga memahami alasan pemerintah memperkuat STEM Di upaya mengejar target Indonesia Emas 2045.
Luthfi mencontohkan keberadaan tenaga ahli Cara Indonesia yang masih relatif rendah dibandingkan sejumlah Negeri Asia. Prof Luthfi mencontohkan salah satu Negeri yang Lagi moncer Di Organisasiregional, Vietnam Memiliki ahli Cara 6 ribu Di 1 juta orang warganya.
Sambil Korea Selatan mencapai Di 25.000 ahli Cara per satu juta penduduk. “Korsel apalagi, ada 25 ribu ahli Cara per 1 juta warganya. Sambil Indonesia masih 3 ribu ahli Cara per 1 juta warganya,” tuturnya.
Tetapi, menurutnya, humaniora tidak harus bersaing Didalam STEM Di sisi jumlah. Peran humaniora justru dapat diperkuat Di aspek Standar, terutama Di membangun dan menjaga harmoni.
Ia mencontohkan sejumlah tokoh nasional yang menurutnya mengedepankan prinsip harmoni Di Memutuskan keputusan politik. “Pak Karno, Gus Dur, Habibie semua mundur Untuk menjaga harmoni daripada lihat Indonesia jatuh Di Pertempuran saudara,” tutur Luthfi.
Melihat Trend Populer ini, guru besar humaniora se-Indonesia merapatkan barisan. Mereka Akansegera melaksanakan Simpososium Nasional Guru Besar (SNGB) Humaniora pertama Di Indonesia. SNGB ini Akansegera digelar Di FIB UI Di 11-13 Agustus 2026.
“Akansegera ada 54 peserta Di 33 universitas dan BRIN,” tutur Prof Dr Tuty Nur Mutia, guru besar Ilmu Sejarah FIB UI.
SNGB Humaniora ini Akansegera Menampilkan 6 sesi diskusi yakni:
- Humaniora Digital dan Humaniora Ekologi
- Mitigasi Adat Istiadat Dunia dan Konservasi Adat Istiadat Dunia
- Kolaborasi Multihelix Di Humaniora dan Literasi Multikultural
- Humaniora Sebagai Kajian Aturan dan Politik Di Humaniora
- Kohesi Sosial dan Relasi Antaretnik
- Strategi Pembuatan Humaniora dan Hilirisasi Di Humaniora
Bidang keilmuwan yang terlibat mencakup sejarah, filsafat, linguistik, susastra, arkeologi, kajian kewilayahan, ilmu perpustakaan dan informasi, cultural studies, antropologi Adat Istiadat Dunia serta ilmu humaniora lain. Hasil utama SNGB Humaniora adalah 2 policy brief yang Akansegera diserahkan Di Kemendiktiristek dan Kemenkebud.
Halaman 2 Di 3
(nwk/pal)
Nograhany Widhi Koesumawardani
Jurnalis detikcom. Masuk dunia jurnalistik Dari SMA, bergabung Didalam detikcom Di 2006 usai lulus Di Universitas Brawijaya. Aktif meliput Topik nasional, kini menangani topik seputar Belajar, sains dan semacamnya.
`;
constructor() {
super()
this.attachShadow({ Tren: “open” })
this.shadowRoot.innerHTML = TentangPenulis.html
}
async connectedCallback() {
if (elementType === ‘single’) return false;
this.SwiperClass = Swiper;
const swiperContainer = this.shadowRoot.querySelector(‘.mySwiper’);
new this.SwiperClass(swiperContainer, {
slidesPerView: 1,
spaceBetween: 18,
navigation: {
nextEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-next”),
prevEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-prev”),
},
pagination: {
el: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-pagination”),
clickable: true,
},
});
}
}
customElements.define(elementTemplate, TentangPenulis)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Fokus Pemerintah STEM Di Era AI, Guru Besar Humaniora se-RI ‘Rapatkan Barisan’











