Apakah Abu Vulkanik Anak Krakatau Cemari Laut? Pakar Kelautan IPB Bilang Begini


Jakarta

Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) 9 September 2026 pukul 07.00 WIB terpantau bergerak Hingga arah barat laut. Sebarannya mencakup sebagian Teluk Lampung.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan pembaruan tersebut berdasarkan analisis citra RGB Himawari-9. Klaster sebaran abu vulkanik mencapai 7.000 kaki atau Disekitar 2,1 km.

Hingga darat, abu vulkanik dapat mengganggu Keadaan mata, kulit, hingga sistem pernapasan. Hingga DKI Jakarta, BMKG Berkata, abu vulkanik juga membaur Bersama polusi atau pencemaran udara perkotaan.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, apakah abu vulkanik Anak Krakatau mencemari perairan seperti Hingga laut?

Apakah Abu Vulkanik Anak Krakatau Cemari Laut?

Merespons pertanyaan tersebut, pakar oseanografi IPB University, Prof Agus Atmadippoera mengatakan abu vulkanik Untuk erupsi Gunung Anak Krakatau tidak serta-merta menjadi bahan pencemar atau racun Untuk ekosistem laut.

Menurut Agus, dampak abu vulkanik GAK sangat bergantung Ke intensitas dan jumlah material vulkanik yang masuk Hingga laut. Material abu vulkanik yang jatuh Hingga laut juga perlu dilihat berdasarkan konsentrasi, sebaran, serta proses fisik yang terjadi Hingga perairan.

“Abu vulkanik yang jatuh Hingga perairan laut tidak serta-merta menjadi bahan pencemar atau racun Untuk ekosistem. Itu bergantung Ke intensitas dan besarannya,” kata Agus Untuk keterangan resmi IPB, dikutip Rabu (9/9/2026).

Dampak Risiko Abu Vulkanik Untuk Makhluk Laut

Agus mengatakan, jika material vulkanik masuk Hingga perairan Untuk jumlah besar, maka dampak ekologis bisa terjadi. Ia menjelaskan, banyaknya abu vulkanik Hingga perairan bisa Meningkatkan kekeruhan air.

Dampaknya, cahaya matahari yang dapat masuk Hingga Untuk kolom air Dari Sebab Itu berkurang. Situasi ini bisa mengganggu proses fotosintesis organisme laut.

Faktor Abu Vulkanik Menyebar-Mengencer Hingga Laut

Hingga perairan, material abu vulkanik dapat menyebar dan mengencer, Supaya dampaknya Ke ekosistem laut juga berubah. Agus menjelaskan, penyebaran dan pengenceran abu vulkanik tersebut juga dipengaruhi Situasi fisik perairan, seperti adanya gelombang, arus, dan pasang surut, yang membantu abu vulkanik teraduk Hingga laut.

Guru besar IPB yang ikut terlibat Untuk Studi bawah laut kerja sama Indonesia dan China, Cinodex ini mengatakan, dasar laut Hingga Disekitar pulau-pulau yang Didekat Bersama kawah Anak Krakatau cenderung tertutup material kasar, seperti pasir, kerikil, dan sisa longsoran material vulkanik. Karakter ekosistem tersebut relatif lebih sederhana dan ekstrem.

Sambil Itu, Daerah yang lebih jauh Untuk kawah Anak Krakatau, terutama Hingga Dibagian utara perairan, Memperoleh lapisan sedimen yang lebih banyak didominasi lumpur tebal. Situasi ini justru area ini dihuni makhluk hidup dasar perairan atau organisme bentik yang relatif lebih tinggi.

Manfaat Abu Vulkanik Hingga Laut

Prof Setyo Budi Susilo Untuk Departemen Ilmu dan Ilmu Pengetahuan Kelautan IPB University mengatakan, abu vulkanik halus yang terbawa Hingga perairan tidak sepenuhnya Menyediakan dampak lingkungan yang buruk Lantaran Memperoleh manfaat ekologis.

“Material tersebut mengandung sejumlah mikronutrien, termasuk silika dan besi,” kata Setyo.

Ia menjelaskan, unsur-unsur pembentuk abu vulkanik tersebut dapat memperkaya ekosistem laut dan mendukung proses fotosintesis Sesudah Merasakan pengadukan Dari arus, gelombang, dan pasang surut.

“Karenanya, abu vulkanik tidak selalu menjadi ancaman Untuk ekosistem laut,” ucapnya.

Menurut Setyo, ikan juga secara alami bergerak Ke perairan yang lebih aman Pada terjadi semburan dan hujan abu vulkanik. Ia menjelaskan, ikan Akansegera menyebar Lantaran pengaruh perubahan Situasi lingkungan, termasuk peningkatan suhu dan kekeruhan perairan.

“Ikan dapat bergerak Ke Daerah yang lebih jauh Untuk sumber erupsi, termasuk Hingga arah perairan Samudera Hindia maupun Laut Jawa, bergantung Ke Situasi oseanografi dan lingkungan Pada erupsi berlangsung,” terangnya.

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof Henry Munandar Manik mengatakan, Pada ini ada Ilmu Pengetahuan akustik yang dapat digunakan Sebagai mengeksplorasi sumber daya dan lingkungan lautan, termasuk Sebagai memetakan distribusi abu vulkanik secara vertikal dan horizontal Hingga Untuk kolom air.

Ilmu Pengetahuan tersebut juga dapat difungsikan Sebagai mengetahui waktu yang dibutuhkan material vulkanik sampai mengendap (settling time). Penggunanya juga bisa Meninjau Situasi ekosistem laut Sesudah erupsi.

Bersama menggunakan Ilmu Pengetahuan akustik tersebut, Henry berharap hasil Kajian Sesudah Itu bisa Menyediakan gambaran ilmiah sebaran material vulkanik dan dampaknya Pada ekosistem dan sumber daya laut Hingga Disekitar kawasan Anak Krakatau.

“Pemantauan juga Akansegera mencakup tutupan terumbu karang dan lamun serta potensi bioakumulasi material tertentu Ke organisme laut,” ucapnya.

(twu/pal)

Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Apakah Abu Vulkanik Anak Krakatau Cemari Laut? Pakar Kelautan IPB Bilang Begini

nagabet76slot gacorslot online slot gacor terpercaya
server slot thailand
slot gacor mudah maxwin
nagabet76 login