Jakarta –
Sebagian Bersama roket SpaceX menabrak Bulan Ke Rabu dini hari Eastern Time (ET). Roket tersebut melaju Bersama Kelajuan lebih Bersama 5.000 mil per jam.
Fasilitas astronomi Very Large Telescope milik European Southern Observatory (ESO) yang berlokasi Hingga Observatorium Paranal Hingga Cile, mendeteksi dampak tabrakan tersebut. Asisten profesor Studi astronomi Hingga Boston University yang memimpin pengamatan menggunakan Very Large Telescope, Carl Schmidt, Mengungkapkan peristiwa tumbukan tersebut terjadi Di pukul 02.35 pagi waktu setempat (Easter Time/ET) Hingga Didekat Kawah Einstein Hingga Bulan, sesuai Bersama Prakiraan.
Menurut Schmidt, ukuran semburan gas natrium dan litium tersebut mencapai puluhan kilometer. Para ilmuwan Mengantisipasi semburan itu Berencana menjadi unsur yang paling terlihat Bersama peristiwa tumbukan ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepulan Gas Beberapa Menit
Sambil Itu, Instruktur Media Departemen Komunikasi ESO, Dr Bárbara Ferreira mengatakan pihaknya dapat mengonfirmasi bahwa teleskop mendeteksi garis spektrum gas natrium dan litium Ke kepulan material akibat tabrakan yang berlangsung Pada 5-10 menit Sesudah benturan.
“Natrium kemungkinan berasal Bersama tanah bulan, sedangkan litium bisa Dari Sebab Itu berasal Bersama roket itu sendiri,” jelas Ferreira Lewat surel kepada CNN Science, dikutip Kamis (6/8/2026).
Roket Falcon 9 meluncur Ke 15 Januari 2025 Bersama membawa dua wahana pendarat bulan komersial. Ketika fase pertama roket, yaitu pendorong yang digunakan Sebagai peluncuran kembali Hingga Bumi, fase kedua (tahap atas) berfungsi sebagai penggerak utama Sebagai melontarkan wahana pendarat robotik tersebut Di Bulan dan tetap berada Hingga luar angkasa Sesudah misinya selesai.
Menurut Direktur Langkah Sains NASA dan Dragon Hingga SpaceX, Julianna Scheiman, Untuk konferensi pers (3/8/2026), Sebagai misi yang Di orbit rendah bumi, SpaceX dan operator lainnya biasanya membuang tahap atas roket Bersama membiarkannya terbakar habis Hingga atmosfer bumi.
“Akan Tetapi, Sebagai misi berenergi tinggi, kami perlu melakukan manuver yang berbeda guna memastikan tahap kedua tersebut tetap aman sesuai Bersama aturan dan regulasi yang berlaku,” kata Scheiman.
“Kami melakukan hal itu Sebagai tahap kedua Ke misi Ispace dan Blue Ghost, dan apa yang terjadi Ke dasarnya adalah kombinasi Di Karya matahari dan gaya gravitasi yang mengarahkannya Hingga jalur Di Bulan,” ungkapnya.
Apa Dampaknya Untuk Bulan?
SpaceX merilis pernyataan Hingga media sosial X Ke Rabu Sesudah terjadinya tabrakan tersebut.
“Benturan seperti ini jarang terjadi, tetapi bisa menimpa objek yang berada Hingga orbit semacam ini, dan kami telah bekerja sama Bersama NASA Sebagai menentukan solusi limbah yang optimal,” demikian bunyi unggahan tersebut.
Berdasarkan sebuah studi pracetak yang disusun Dari Fernando dan sekelompok ilmuwan, tabrakan ini tidak menimbulkan bahaya Untuk Bumi, tetapi Berpotensi Sebagai menciptakan kawah berdiameter 20 hingga 30 meter Hingga permukaan bulan.
Dampak tabrakan tersebut tidak dapat dilihat Bersama mata telanjang Bersama Bumi, Lantaran jaraknya berkisar 225.623 mil (363.104 km) dan sulit diamati Lewat teleskop.
Para astronom Hingga Area Amerika, yang Memperoleh Kemungkinan terbaik Sebagai Merasakan tabrakan tersebut, telah mengarahkan teleskop berbasis darat maupun antariksa Hingga arah Bulan Bersama harapan dapat Memperhatikan peristiwa itu. Gambar-gambar Yang Berhubungan Bersama diperkirakan Berencana tersedia Hingga Lalu hari.
Para ilmuwan dapat memanfaatkan peristiwa langka ini Sebagai mempelajari Lebih Jelas tentang satelit alami Bumi tersebut, sekaligus Merencanakan langkah pelindungan Untuk astronaut dan infrastruktur masa Di yang Berencana dikirim Hingga sana.
NASA berencana membangun kehadiran manusia yang lebih berkelanjutan Hingga permukaan bulan Lewat Langkah Artemis. Akan Tetapi, seiring Bersama meningkatnya jumlah misi Di Bulan, pengelolaan akumulasi sampah antariksa Hingga orbit bulan Berencana menjadi problem yang Lebihterus krusial.
(nah/nwk)
`;
constructor() {
super()
this.attachShadow({ Gaya: “open” })
this.shadowRoot.innerHTML = TentangPenulis.html
}
async connectedCallback() {
if (elementType === ‘single’) return false;
this.SwiperClass = Swiper;
const swiperContainer = this.shadowRoot.querySelector(‘.mySwiper’);
new this.SwiperClass(swiperContainer, {
slidesPerView: 1,
spaceBetween: 18,
navigation: {
nextEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-next”),
prevEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-prev”),
},
pagination: {
el: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-pagination”),
clickable: true,
},
});
}
}
customElements.define(elementTemplate, TentangPenulis)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Roket SpaceX Terbaru Saja Tabrak Bulan, Apa Dampaknya?











