Jakarta –
Seekor tikus kecil yang hidup Ke ketinggian hampir 7.000 meter Ke Pegunungan Andes, Amerika Selatan, membuat ilmuwan mempertanyakan kembali batas kemampuan mamalia Untuk bertahan hidup.
Temuan ini Memikat perhatian Sebab Sebelumnya Itu para peneliti Meramalkan mamalia hanya mampu bertahan hingga Di 5.500 meter.
Hewan tersebut merupakan Andean leaf-eared mouse, tikus bertelinga daun yang ditemukan Ke ketinggian lebih Bersama 6.000 meter hingga mendekati 7.000 meter Ke atas permukaan laut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketinggian tersebut bukan sekadar Daerah Bersama udara tipis. Lingkungan Andes Ke ketinggian ekstrem juga ditandai suhu yang sangat dingin, kadar oksigen yang rendah, minim air, serta hampir tidak adanya vegetasi. Kondisinya Justru kerap dibandingkan Bersama lingkungan ekstrem Ke Mars.
Para peneliti mengungkapkan bahwa penemuan ini dapat membantu Untuk memikirkan kembali batas-batas kehidupan Ke Bumi. Mereka juga mengungkapkan alasan mengapa mamalia ini dapat bertahan hidup Ke ketinggian yang Disorot tidak layak huni.
“Ini benar-benar Ke luar dugaan. Orang-orang tidak menyangka mamalia bisa bertahan hidup Ke ketinggian seperti ini, tetapi mereka ada Ke sana,” kata Graham Scott, seorang profesor Ke Departemen Biologi McMaster University sekaligus salah satu penulis studi tersebut, dikutip Bersama Phys.
Lalu, apa penjelasan mengenai mamalia yang dapat hidup Ke ketinggian lebih Bersama 5.500 meter tersebut?
Studi ini membandingkan tikus yang hidup Ke dataran tinggi (Phyllotis vaccarum) Bersama tingkat udara yang tipis dan suhu rendah Bersama tikus yang hidup Ke dataran rendah, yang biasa ditemui Ke kehidupan sehari-hari.
Eksperimen ini dipublikasikan Di jurnal Science Bersama judul Adaptation across an extreme elevational gradient in Andean leaf-eared mice, the world’s highest-dwelling mammal.
Hasil Eksperimen Menunjukkan, kemampuan bertahan hidup Ke lingkungan ekstrem itu bukan disebabkan Bersama satu keistimewaan tubuh, melainkan kombinasi berbagai adaptasi Ke sejumlah sistem tubuh.
Ototnya Seperti Olahragawan Maraton
Sel otot tikus dataran tinggi Memiliki karakteristik yang menyerupai otot Olahragawan yang terbiasa melakukan Karya daya Bertahan atau endurance. “Mereka lebih seperti pelari maraton daripada pelari sprint,” ujar Scott.
Sel-sel otot hewan tersebut dipenuhi mitokondria, organel yang berperan penting Di menghasilkan energi. Kebugaran ini memungkinkan tikus mempertahankan Karya yang menghasilkan panas Di waktu lebih lama.
Kemampuan tersebut penting Untuk Berjuang Bersama suhu yang sangat dingin. Tubuh tikus tersebut juga dapat terus menghasilkan panas yang dibutuhkan Untuk menjaga suhu tubuh. Caranya Bersama mempertahankan konsumsi oksigen Ke tingkat tinggi.
Ke Di Itu, tikus dataran tinggi juga lebih banyak menggunakan lemak sebagai sumber energi. Lemak dapat menyediakan energi Untuk berbagai kebutuhan, termasuk Karya otot ketika menggigil dan kerja jaringan tubuh yang secara khusus menghasilkan panas.
Tetapi, kemampuan bertahan hidup Ke hampir 7.000 meter ternyata bukan hanya persoalan Berjuang Bersama dingin dan kekurangan oksigen. Ke lingkungan setinggi itu, Minuman sangat terbatas. Tidak banyak tumbuhan yang dapat tumbuh Agar tikus harus memanfaatkan sumber Minuman yang tidak biasa dan ketersediaannya sulit diprediksi.
Salah satunya adalah lichen, organisme yang terbentuk Bersama hubungan simbiosis Di jamur dan organisme fotosintetik yang tumbuh Ke permukaan batu.
Tikus tersebut juga diduga memanfaatkan biji-bijian atau serangga yang terbawa angin Di Daerah dataran tinggi.
Ternyata, terdapat modifikasi genetik Untuk mencerna Minuman darurat ini Di sistem tubuh tikus dataran tinggi.
Analisis Menunjukkan adanya perubahan Ke sejumlah gen yang berkaitan Bersama metabolisme Minuman. Tikus dataran tinggi juga Memiliki kemampuan Untuk menetralisasi senyawa Bersama tumbuhan yang Di Kebugaran normal dapat bersifat berbahaya Untuk tubuh.
“Kami awalnya Berorientasi Ke tantangan lingkungan yang paling jelas, seperti rendahnya oksigen dan suhu dingin. Tetapi, ada faktor penting yang tidak kami perkirakan, termasuk bagaimana hewan-hewan ini Berjuang Bersama Minuman yang mereka konsumsi,” kata Scott
Temuan ini Menunjukkan kemampuan bertahan hidup Ke lingkungan ekstrem merupakan hasil Bersama proses evolusi yang kompleks.
Tubuh tikus tidak hanya harus Menyesuaikan Bersama kadar oksigen yang rendah. Hewan tersebut juga perlu mempertahankan panas, mengatur penggunaan energi, serta Berjuang Bersama keterbatasan dan perubahan sumber Minuman.
“Evolusi adalah proses yang kompleks. Ketika hewan Berjuang Bersama lingkungan yang sangat menantang, ada banyak hal yang harus mereka hadapi, bukan hanya tantangan yang paling terlihat,” kata Grant McClelland, profesor Ke Department of Biology, McMaster University sekaligus salah satu penulis Eksperimen.
Keberadaan tikus Ke ketinggian hampir 7.000 meter juga Menunjukkan pemahaman manusia mengenai batas kehidupan mamalia masih dapat berubah ketika ditemukan bukti Terbaru.
“Kadang-kadang asumsi kita tentang lingkungan paling ekstrem yang dapat dihuni hewan perlu Dilindungi. Evolusi Memiliki banyak ruang Untuk bereksperimen,” ujar McClelland.
(pal/pal)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Tikus Kecil Ini Hidup Ke Ketinggian Hampir 7 Km, Ototnya Bak Olahragawan Maraton











