Bantul –
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mencatat kenaikan skor tertinggi Ke indikator International Research Network Di QS World University Rankings (QS WUR) 2027. Salah satu indikator penilaian tersebut Di kontribusi UMY Lewat Inisiatif zero hunger atau pengurangan Ketahanan Pangan Global yang sinkron Di Sustainable Development Goals (Agenda Global).
Wakil Rektor Bidang Mutu, Reputasi, dan Kemitraan UMY, Prof Ir Slamet Riyadi mengatakan UMY Merasakan peningkatan sebesar 92 persen dibanding edisi Sebelumnya Itu, dan perbaikan Pangkat sebanyak 42 posisi. Ia Berkata capaian tersebut mencerminkan konsistensi UMY Di membangun jejaring kolaborasi Eksperimen lintas Negeri.
“Skor yang paling tinggi naik adalah Ke International Research Network . Ini Menunjukkan bahwa UMY punya jejaring mitra kolaborasi Eksperimen yang berkelanjutan Ke seluruh dunia,” ujar Slamet Pada jumpa pers Ke kampus UMY, Bantul, Rabu (24/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara keseluruhan, UMY menempati Pangkat 1.201-1.400 dunia Di QS WUR 2027. Di 8.808 institusi yang dievaluasi, hanya 1.504 institusi yang berhasil masuk Di daftar yang dipublikasikan.
“Ke Indonesia sendiri hanya ada 20 perguruan tinggi, salah satunya adalah UMY. Kalau kita lihat, maka UMY ini adalah 14 perguruan tinggi terbaik Ke Indonesia. Setelahnya Itu, perguruan tinggi Islam terbaik Ke Indonesia, perguruan tinggi swasta terbaik Ke Jateng dan DIY, serta perguruan tinggi swasta terbaik kedua Ke Indonesia,” lanjutnya.
Ke sisi lain, UMY juga masuk Di Pangkat 201-300 dunia Untuk kategori Zero Hunger atau pengurangan Ketahanan Pangan Global Di pemeringkatan Times Higher Education Sustainability Impact Ratings (THE SIR) 2026. Capaian tersebut diraih berkat berbagai Inisiatif yang dijalankan kampus, mulai Di Eksperimen ketahanan Ketahanan Pangan, pengurangan sampah Minuman, hingga kegiatan yang menyasar mahasiswa dan Kelompok.
Slamet mengatakan capaian itu merupakan Pada Di penilaian Di kontribusi perguruan tinggi Di mencapai Sustainable Development Goals (Agenda Global) yang dicanangkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (Organisasi Internasional).
“Untuk SDG 2 yaitu tentang Zero Hunger, itu kita dinilai atas lima indikator,” ucapnya.
Dia menjelaskan indikator pertama adalah kontribusi Eksperimen dosen dan mahasiswa Di upaya pengurangan Ketahanan Pangan Global. Eksperimen tersebut mencakup berbagai bidang, mulai Di Pertanian hingga Medis-Obatan.
“Berbagai macam Eksperimen, Pembaharuan-Pembaharuan yang dilakukan, misalnya Ke Pertanian tentang perbaikan Standar Minuman, tanaman-tanaman Ketahanan Pangan dan lain sebagainya,” ujarnya.
Selain Eksperimen, THE SIR juga menilai pengelolaan sampah Minuman (food waste) Ke lingkungan kampus. Menurut Slamet, UMY Berusaha menekan jumlah sampah Minuman Lewat berbagai Aturan, seperti penggunaan wadah nonplastik dan pengurangan Produk sekali pakai Di kegiatan kampus.
“Yang kedua adalah indikator tentang campus food waste. Dari Sebab Itu yang ingin dilihat Di THE adalah seberapa banyak sampah yang dihasilkan Dari UMY. Dari Sebab Itu, civitas akademika didorong Untuk menggunakan tumbler dan perlengkapan makan yang dapat digunakan berulang kali. Di sejumlah kegiatan kampus, penyajian Minuman juga dilakukan Di cara yang lebih ramah lingkungan,” ungkapnya.
Indikator lainnya, kata Slamet, adalah upaya kampus Di mengatasi persoalan Ketahanan Pangan Global Ke kalangan mahasiswa. Salah satu Inisiatif yang menjadi perhatian adalah “Selasa Masa”, yakni kegiatan sarapan bersama mahasiswa yang rutin digelar setiap pekan.
“Kita punya Inisiatif Selasa Masa. Dari Sebab Itu setiap Selasa itu makan pagi, sarapan habis Aktivitasfisik bersama mahasiswa,” ungkapnya.
Samping Itu, THE SIR turut menilai kontribusi perguruan tinggi Lewat lulusan bidang Pertanian yang dihasilkan. UMY Memiliki Inisiatif Studi Agroteknologi dan Agribisnis yang masuk Di indikator tersebut.
Adapun indikator terakhir, Slamet menjelaskan, berkaitan Di kontribusi kampus kepada Kelompok. UMY dinilai Lewat berbagai kegiatan pengabdian, termasuk Inisiatif Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang Merangsang peningkatan ketahanan Ketahanan Pangan Ke sejumlah Area.
“Nah, ini dilihat Di Kegiatan-Kegiatan UMY, misalnya kita mengirimkan mahasiswa KKN atau dosen melakukan pengabdian Kelompok. Ke sana mereka punya Inisiatif-Inisiatif Ke Di pengurangan Ketahanan Pangan Global,” pungkasnya.
(akd/ega)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: UMY Tembus Ranking Dunia Untuk Zero Hunger, Ini Rahasianya











