Jakarta –
Umat Hindu kembali merayakan Hari Raya Galungan Ke Rabu, 17 Juni 2026. Hari suci tersebut dimaknai sebagai simbol Unggul dharma melawan adharma. Adapun sembahyang dilakukan Sebagai memuja para leluhur dan Tuhan.
Menurut laman resmi Pemerintah KabupatenBuleleng, Bali, Hari RayaGalungan dirayakan Bersama umat Hindu setiap 6 bulan sekali Di kalender Bali (210 hari). Di kalender Masehi, Hari RayaGalungan digelar dua kali Di setahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Makna Hari Raya Galungan
Hari Raya Galungan adalah hari Hingga mana umat Hindu memperingati terciptanya alam semesta dan seluruh isinya. Seperti disebutkan Sebelumnya Itu, peringatan ini juga Sebagai merayakan Unggul kebaikan (dharma) melawan kejahatan (adharma).
Sebagai ungkapan syukur, umat Hindu memberi persembahan Ke Sang Hyang Widhi dan Dewa Bhatara (Bersama segala manifestasinya).
Hari Raya Galungan dikenal juga sebagai hari “Rerahinan Gumi” yang berarti semua umat Hindu wajib melaksanakannya agar terhindar Di marabahaya. Perayaan ini adalah simbol Di hari Unggul kebaikan/kebenaran (dharma) atas ketidakbaikan (adharma).
Umat Hindu meyakini Hari Raya Galungan dapat memberi kekuatan spiritual termasuk kekuatan fisik dan non-fisik Sebagai membedakan mana perbuatan yang baik dan tidak baik.
Sejarah Hari Raya Galungan
Menurut Bacaan Hari Raya Galungan Sebagai Momentum Bertumbuhnya Dharma Di Diri yang diterbitkan Bersama STAHN-TP Palangka Raya, sejarah pelaksanaan Hari Raya Galungan Hingga Indonesia masih sulit dipastikan. Jika melihat Kitab Usana Bali, Galungan telah dirayakan Ke masa Pemerintahan Valajaya atau Taranajaya/
Semenjak Di itu, umat Hindu Hingga Bali selalu merayakan Hari Galungan Bersama meriah. Tetapi Ke tahun 1103 Saka, perayaan tersebut tiba-tiba dihentikan.
Hal tersebut terjadi ketika Raja Sri Ekajaya memegang pemerintahan. Pada Galungan tidak dirayakan, terus terjadi musibah.
Ke masa pemerintahan Raja Sri Jayakasunu, ia mulai mempertanyakan mengapa hal-hal tersebut terjadi. Sebagai Menyaksikan jawabannya, Raja Sri Jayakasunu Mengadakan tapa brata dan samadhi Hingga Bali yang terkenal Bersama istilah Dewa Sraya (mendekatkan diri Ke Dewa). Dewa Sraya itu dilakukannya Hingga Pura Dalem Puri, tidak jauh Di Pura Besakih.
Raja Sri Jayakasunu melakukan tapa brata Bersama sungguh-sungguh hingga Menyaksikan pawisik atau bisikan religius Di Dewi Durgha, sakti Di Dewa Siwa. Di pawisik itu, Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendek Lantaran tidak lagi merayakan Galungan.
Dari Di itu, Galungan kembali dirayakan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai Bersama Kebiasaan yang pernah berlaku.
Rangkaian Kegiatan Hari Raya Galungan
Dilansir Di detikBali, berikut rangkaian kegiatan Hari Raya Galungan:
Tumpek Wariga
Tumpek Wariga jatuh Ke 25 hari Sebelumnya Galungan. Ke hari Hari Tumpek Wariga Ista Dewata yang dipuja adalah Sang Hyang Sangkara yang merupakan Dewa Kemakmuran dan Keselamatan Tumbuh-tumbuhan.
Umat Hindu biasanya merayakan hari ini Bersama menghaturkan banten (sesaji) yang berupa bubuh (bubur) sumsum yang berwana.
Sugihan Jawa
Sugihan Jawa diadakan setiap hari Kamis Wage wuku Sungsang. Sugihan Jawa sendiri berasal Di 2 kata, yakni Sugi dan Jawa. Sugihan Jawa adalah hari sebagai pembersihan/penyucian segala sesuatu yang berada Hingga luar diri manusia (bhuana agung).
Di Kegiatan ini, umat Hindu Berencana melakukan upacara yang disebut denganMererebu atauMererebon. Ini adalah upacara yang dilaksanakan Bersama tujuan Sebagai menetralisir segala sesuatu yang negatif yang berada padaBhuana Agung.
Sugihan Bali
Sugihan Bali dilaksanakan setiap Jumat Kliwon wuku Sungsang. Sugihan Bali adalah penyucian atau pembersihan diri sendiri atau bhuana alit.
Hingga rangkaian Kegiatan ini, umat Hindu Berencana mandi, melakukan pembersihan diri secara fisik dan memohon Tirta Gocara kepada Sulinggih. Hal tersebut merupakan simbolis penyucian jiwa raga Sebagai menyambut Galungan yang sudah Lebih Didekat.
Hari Penyekeban
Hari Penyekeban dilakukan setiap Minggu Pahing wuku Dungulan. Hingga hari ini, umat Hindu Berencana mengekang diri agar tidak melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan Bersama agama.
Hari Penyajan
Hari Penyajan dilakukan setiap Senin Pon wuku Dungulan. Hari ini diyakini bahwa umat Hindu Berencana digoda Bersama Sang Bhuta Dungulan Sebagai menguji sejauh mana tingkat pengendalian dirinya Sebagai melangkah lebih Didekat lagi Di Galungan.
Hari Penampahan
Umat Hindu Hingga Hari Penampahan Berencana disibukkan Bersama pembuatan penjor. Ini merupakan bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan atas segala anugerah yang diterima Pada ini.
Penjor dibuat Di batang bambu melengkung yang dihiasi sedemikian rupa. Tidak hanya membuat penjor, umat Hindu juga menyembelih babi yang dagingnya Berencana digunakan sebagai pelengkap Kegiatan.
Hari Raya Galungan
Kegiatan ini adalah puncak rangkaian Hari Raya Galungan. Mulai Di persembahyangan Hingga Rumah masing-masing Sesudah Itu dilanjutkan Hingga Pura Di lingkungan.
Hari Umanis Galungan
Ke Hari Umanis Galungan, umat Hindu Berencana melaksanakan persembahyangan dan dilanjutkan Bersama Dharma Santi dan saling Berkunjung Hingga sanak saudara atau tempat Wisata.
Hari Pemaridan Guru
Pemaridan Guru berasal Di kata marid dan guru. Memarid sama artinya Bersama ngelungsur/nyurud (memohon). Sedangkan Guru mengarah kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.Karena Itu dapat diartikan bahwa Hari Pemaridan guru adalah hari memohon anugerah Di Ida Sang Hyang Widhi.
Ulihan
Ulihan artinya pulang atau kembali. Di konteks ini yang dimaksud adalah hari kembalinya para dewata-dewati/leluhur Hingga kahyangan Bersama meninggalkan berkat dan anugerah panjang umur.
Hari Pemacekan Agung
Pemecekan Agung bermakna sebagai simbol keteguhan iman umat manusia atas segala godaan Pada perayaan hariGalungan.
Hari Kuningan
Hari Suci Kuningan dirayakan umat Bersama cara memasang tamiang, kolem, dan endong. Hingga Hari Kuningan ini, umat Hindu melakukan persembahan dan persembahyangan Sebelumnya jam 12 siang. Hal ini dikarenakan terdapat keyakinan bahwa semua Dewata Berencana kembali Hingga Kahyangan Sesudah jam 12 siang.
Hari Pegat Wakan
Hari Pegat Wakan adalah rangkaian terakhir Di perayaan Galungan dan Kuningan. Rangkaian Kegiatan yang satu ini dilaksanakan Bersama cara melakukan persembahyangan, dan mencabut penjor yang telah dibuat Ke hari Penampahan.
Penjor tersebut dibakar dan abunya ditanam Hingga pekarangan Rumah. Pegat Wakan jatuh Ke hari Rabu Kliwon wuku Pahang, sebulan Sesudah galungan.
(nir/nwk)
`;
constructor() {
super()
this.attachShadow({ Gaya: “open” })
this.shadowRoot.innerHTML = TentangPenulis.html
}
async connectedCallback() {
if (elementType === ‘single’) return false;
const { default: Swiper } = await import(
”
);
this.SwiperClass = Swiper;
const swiperContainer = this.shadowRoot.querySelector(‘.mySwiper’);
new this.SwiperClass(swiperContainer, {
slidesPerView: 1,
spaceBetween: 18,
navigation: {
nextEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-next”),
prevEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-prev”),
},
pagination: {
el: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-pagination”),
clickable: true,
},
});
}
}
customElements.define(elementTemplate, TentangPenulis)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Sejarah Hari Raya Galungan Lengkap Bersama Rangkaian Kegiatannya











