Sesudah berkenalan sekilas tentang ‘neuroscience’, detikers ada yang berminat mengincar Inisiatif studi (prodi) Neuroscience? Kalau iya, sabar dulu. Lantaran prodi ini ternyata belum ada Ke Indonesia.
Menurut Trisa Triandesa, neuroscience communicator lulusan MSc Cognitive Neuroscience and Neuropsychology Bersama Birkbeck, University of London, prodi neuroscience belum ada Ke Indonesia. Makanya, Trisa mengejar ilmu ini sampai Hingga London, Inggris.
“Semoga Indonesia Hingga depannya Berencana ada prodinya juga. Karena Itu kalau yang mau belajar neuroscience enggak usah jauh-jauh Hingga luar negeri gitu, kan, ibaratnya. Karena Itu semoga nanti juga lapangan pekerjaannya bisa dibuka juga gitu,” ujar Trisa Di berbincang Bersama detikEdu, Ke Gedung Transmedia, Jl Pemimpin Tendean, Jakarta, Selasa (2/6/2026), ditulis Kamis (4/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Trisa, banyak Eksperimen Ke bidang neuroscience bisa dikembangkan Ke Indonesia. Banyak Eksperimen neuroscience Ke luar negeri Berpeluang direplikasi Ke Indonesia, yang penduduk dan budayanya beragam.
“Terutama Eksperimen neuroscience yang perlu dikembangkan juga Ke Indonesia. Lantaran kan Eksperimen itu, maksudnya kita juga perlu mereplikasi Eksperimen yang udah ada kan. Tapi kan kita perlu mereplikasi apakah Bisa Jadi hasilnya Berencana sama Bersama manusia-manusia Indonesia gitu, kan. Lantaran kan ada cultural bias juga kan, ada perbedaannya,” ujar penulis Literatur ‘Moving Forward Not Moving On: Belajar Ngerti Perasaan Sendiri Lewat Neurosains’ ini.
Menurut penelusuran detikedu, memang belum ada satu pun perguruan tinggi Ke Indonesia yang Memiliki jurusan atau prodi Neuroscience. Akan Tetapi, neuroscience atau neurosains ini sudah menjadi mata kuliah atau peminatan Ke beberapa PTN atau Malahan menjadi pusat Eksperimen sendiri.
Ke Universitas Indonesia (UI) misalnya, Ke bawah Indonesia Medical Education and Research Institute Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (IMERI FKUI), ada klaster Neuroscience and Brain Development Research Center (Pusat Eksperimen Pembuatan Otak dan Neurosains).
Ke UPN Veteran Jakarta, ada peminatan Neuroscience yang mempelajari sistem saraf Bersama perspektif biologi modern yang Memiliki keterkaitan erat Bersama Eksperimen Kesejajaran, neurologi, dan perkembangan Ilmu Pengetahuan medis. Peminatan ini Ke bawah prodi S1 Biologi Ke bawah Fakultas Kedokteran.
Ke Universitas Gadjah Mada (UGM), Fakultas Psikologi gencar Mengintroduksi pendekatan neuroscience. Ke Institut Ilmu Pengetahuan Bandung (ITB) ada mata kuliah Advanced Neuroscience atau Neurosains Lanjut Untuk mahasiswa pascasarjana Bersama latar Dibelakang biologi dan biologi sel.
Untuk perguruan tinggi swasta (PTS), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Memiliki mata kuliah neuroscience yang aplikasinya Di Pembelajaran anak usia dini. Mahasiswa Berencana mempelajari perkembangan otak anak, pembelajaran dan memori, emosi dan regulasi emosi, serta pengaruh lingkungan Ke perkembangan otak anak.
Sambil Itu Ke tingkat dunia, dilansir Bersama US News, berikut kampus top 10 Bersama bidang neuroscience dan perilaku Antara lain: Harvard University, Stanford University, Massachusetts Institute of Technology (MIT), University College London, Oxford University, Columbia University, Yale University hingga Pennsylvania University.
Prospek Lulusan Neuroscience
Berhubung jurusan Neuroscience adalah ilmu multidisiplin yang terbilang Terbaru, prospek Hingga depannya juga Berencana banyak dibutuhkan. Menurut Trisa, itu tergantung Ke bidang neuroscience yang ditekuni.
“Balik lagi tergantung cabang neuroscience-nya apa gitu kan. Kalau misalkan clinical neuroscience berarti bisa bekerja Ke klinis, Ke setting klinis kayak Ke Puskesmas contohnya. Atau enggak, kalau misalkan educational neuroscience bisa bekerja Ke bidang Pembelajaran gitu,” lanjutnya.
Lulusan Neuroscience juga bisa memilih jalur Eksperimen atau industri Ke dunia korporat.
“Cuman kalau Ke Indonesia sendiri Lantaran jurusannya sendiri kan belum ada ya, prodinya belum ada. Karena Itu Bisa Jadi Berencana agak sedikit sulit Lantaran Bisa Jadi employer (pemberi kerja) juga kayak kurang awam ya Bersama bidang ini gitu. Tapi ya hal-hal yang bisa dilakukan sebenarnya banyak sih. Kalau aku memilih jalur science communication, kan Untuk mengomunikasikan sains Hingga khalayak umum gitu. Tapi ya banyak sih kemungkinannya,” tutur Trisa.
Buat detikers yang masih SMP-SMA tapi berminat mempelajari neuroscience, Trisa merekomendasikan membaca Literatur atau Malahan situs gratis tentang neuroscience.
“Bisa Jadi kalau buat adik-adik yang pengen belajar neuroscience bisa mulai baca-baca Bersama resource yang gratis, ada banyak banget. Salah satunya brainfacts.org, itu bisa banget buat Karena Itu sumber referensi Untuk belajar neuroscience. Lantaran Ke situ ada dibahas kayak anatominya seperti apa, strukturnya kayak apa, dan juga fungsinya seperti apa. Karena Itu Untuk memulai bisa belajar Bersama situ dulu aja,” jelasnya.
“Oh iya, Literatur aku juga bisa dong. Judulnya ‘Moving Forward, Not Moving On’. Itu Merundingkan soal bagaimana kita meregulasi emosi dan juga Topik-Topik Kesejajaran mental, tapi Bersama perspektif neuroscience,” tutur Trisa sambil promosi tipis-tipis mengakhiri wawancara detikedu hari itu.
Halaman 2 Bersama 2
Simak Video “Video Universitas Indonesia Belum Pernah Tutup Inisiatif Studi“
[Gambas:Video 20detik]
(nwk/faz)
Nograhany Widhi Koesumawardani
Jurnalis detikcom. Masuk dunia jurnalistik Dari SMA, bergabung Bersama detikcom Ke 2006 usai lulus Bersama Universitas Brawijaya. Aktif meliput Topik nasional, kini menangani topik seputar Pembelajaran, sains dan semacamnya.
`;
constructor() {
super()
this.attachShadow({ Tren: “open” })
this.shadowRoot.innerHTML = TentangPenulis.html
}
async connectedCallback() {
if (elementType === ‘single’) return false;
const { default: Swiper } = await import(
”
);
this.SwiperClass = Swiper;
const swiperContainer = this.shadowRoot.querySelector(‘.mySwiper’);
new this.SwiperClass(swiperContainer, {
slidesPerView: 1,
spaceBetween: 18,
navigation: {
nextEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-next”),
prevEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-prev”),
},
pagination: {
el: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-pagination”),
clickable: true,
},
});
}
}
customElements.define(elementTemplate, TentangPenulis)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Incar Prodi Neuroscience? Sayangnya Belum Ada Ke PTN/PTS Indonesia











