Jakarta –
Sejumlah Negeri Hingga Eropa belakangan ini dilanda heat dome. Suhu udara Hingga beberapa Negeri Malahan mencapai Hingga atas 40 derajat Celsius.
Seperti yang sempat tercatat Hingga Jerman, suhu Hingga sana mencapai 41,7 derajat Celsius. Lalu juga sempat tercatat Hingga Polandia, suhu mencapai 40,5 derajat Celsius.
Menurut guru besar Geofisika Universitas Brawijaya (UB), Prof Drs Ir Adi Susilo, MSi, PhD, heat dome adalah Trend Populer ketika panas terperangkap Hingga suatu Area Lantaran tekanan udara tinggi yang menghambat sirkulasi udara. Kebugaran tersebut lantas mengakibatkan panas terus terakumulasi, Supaya suhu permukaan Meresahkan ekstrem.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Heat dome dapat diibaratkan seperti kubah panas. Panas yang seharusnya lepas Hingga atmosfer justru terperangkap Supaya terus memantul kembali Hingga permukaan bumi. Mekanismenya hampir menyerupai efek Rumah kaca, tetapi terjadi secara lokal Ke Area tertentu,” jelas Prof Adi, Melewati keterangan tertulis Ke Selasa (7/7/2026).
Bagaimana Kemungkinannya Hingga Indonesia?
Prof Adi menerangkan, heat dome umumnya terjadi Hingga Area lintang menengah hingga lintang tinggi seperti Eropa dan Amerika Utara. Hal itu dipengaruhi Bersama karakteristik sirkulasi atmosfer dan luas daratan yang memungkinkan panas bertahan lebih lama, jika dibandingkan Bersama Area kepulauan.
“Hingga Eropa daratannya sangat luas. Panas menjadi lebih mudah terakumulasi dan sulit dilepaskan. Lantaran itu, heat dome lebih Bisa Jadi terjadi Hingga Area seperti Eropa dan Amerika dibandingkan Bersama Negeri kepulauan seperti Indonesia,” bebernya.
Ia mengatakan, Trend Populer heat dome tidak mudah diprediksi lantaran dipengaruhi Bersama berbagai Kebugaran atmosfer yang dinamis. Walau begitu, Area Bersama karakteristik lintang tinggi dan daratan yang luas mempunyai potensi lebih besar Untuk Merasakan heat dome.
Ia menegaskan kemungkinan heat dome terjadi Hingga Indonesia sangatlah kecil. Sebagai Negeri kepulauan yang dikelilingi lautan, Indonesia mempunyai mekanisme alami yang membantu melepaskan panas Melewati sirkulasi udara dan penguapan Bersama permukaan laut.
“Indonesia Berencana sangat sulit Merasakan heat dome Lantaran Area kita didominasi lautan. Panas lebih mudah dilepaskan Supaya tidak terperangkap seperti Hingga kawasan Bersama daratan yang luas,” ungkapnya.
Heat Dome Berbeda Bersama Heat Wave
Prof Adi juga menekankan heat dome tidaklah sama Bersama heat wave atau gelombang panas. Trend Populer heat wave merupakan peningkatan suhu udara Untuk periode tertentu, sedangkan heat dome disebabkan Bersama lapisan tekanan tinggi yang memerangkap udara panas, Supaya suhu menjadi jauh lebih tinggi.
“Untuk heat dome, panas tidak bisa keluar Supaya terus terakumulasi. Inilah yang membedakannya Bersama gelombang panas biasa,” sebutnya.
Kendati kemungkinan Indonesia Merasakan heat dome sangatlah sulit, Prof Adi mengingatkan agar Kelompok tetap waspada Pada paparan panas matahari, khususnya Di intensitas radiasi Meresahkan Ke musim kemarau. Ia menyebut risiko yang lebih Bisa Jadi terjadi Hingga Indonesia adalah dampak paparan sinar ultraviolet yang dapat membahayakan Kesejaganan, ketika seseorang beraktivitas Hingga luar ruangan terlalu lama.
Ia mengingatkan supaya Kelompok membatasi Kegiatan Hingga luar ruangan Di cuaca sangat terik, juga tidak lupa mengenakan Penutupkepala, Busana pelindung, dan tabir surya Untuk Memangkas risiko gangguan Kesejaganan akibat sinar matahari.
Prof Adi turut mengimbau agar Kelompok lebih bijaksana Untuk menyikapi informasi yang beredar Hingga media sosial. Ia menilai banyak informasi tentang cuaca ekstrem yang belum tentu benar, maka Bersama itu perlu diverifikasi Melewati sumber resmi seperti BMKG atau instansi pemerintah Yang Terkait Bersama.
“Kelompok perlu bijak Untuk Merasakan maupun menyebarkan informasi. Jangan mudah percaya Ke informasi yang belum jelas kebenarannya Lantaran justru dapat menimbulkan kepanikan,” ucapnya.
(nah/faz)
`;
constructor() {
super()
this.attachShadow({ Tren: “open” })
this.shadowRoot.innerHTML = TentangPenulis.html
}
async connectedCallback() {
if (elementType === ‘single’) return false;
const { default: Swiper } = await import(
”
);
this.SwiperClass = Swiper;
const swiperContainer = this.shadowRoot.querySelector(‘.mySwiper’);
new this.SwiperClass(swiperContainer, {
slidesPerView: 1,
spaceBetween: 18,
navigation: {
nextEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-next”),
prevEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-prev”),
},
pagination: {
el: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-pagination”),
clickable: true,
},
});
}
}
customElements.define(elementTemplate, TentangPenulis)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Apakah Heat Dome Bisa Terjadi Hingga Indonesia? Pakar UB Jelaskan Kemungkinannya











