Jakarta –
Guru Besar Universitas Indonesia (UI) menyoroti jutaan orang Indonesia yang berhasil keluar Di Kemiskinan Global sebenarnya masih tergolong rentan.
Temuan tersebut disampaikan Bersama Prof DrDra Indera RatnaIrawatiPattinasarany, MA Di pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Tetap Di bidang Stratifikasi Sosial Di Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Ke Rabu (10/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, temuan ini berkaitan Bersama Trend Populer bernama insecure mobility yakni Pada mobilitas sosial tetap berlangsung tetap tidak diikuti Bersama rasa aman yang setara. Walaupun jutaan penduduk Indonesia telah berhasil keluar Di Kemiskinan Global dan masuk Di kategori Kandidat kelas menengah, banyak Di antaranya masih Berusaha Mengatasi kerentanan berupa keretanan ekonomi, pekerjaan tidak stabil, dan tekanan biaya hidup yang Meresahkan.
“Sukses pembangunan harus dilihat bukan hanya Di seberapa jauh Kelompok mampu bergerak naik, tetapi juga Di apakah mereka dapat mempertahankan posisi dan hasil mobilitas tersebut Bersama aman dan Di jangka panjang. Mobilitas tanpa rasa aman Berencana melahirkan paradoks: Kelompok tampak maju, tetapi tetap hidup Di kecemasan,” ungkap Prof. Ira Di pidato bertajuk Di Balik Mobilitas: Ketidakamanan Sosial Di Kelompok Indonesia dikutip Di laman resmi UI, Minggu (15/6/2026).
Menurut data BPS dan kajianLPEM FEB UI, terjadi penurunan jumlah kelas menengah Di 57 juta jiwa (21,4 persen) Ke 2019 menjadi 48 juta jiwa (17,1 persen) Ke 2024, Sambil Itu kelompok Kandidat kelas menengah justru Meresahkan. Situasi ini Menunjukkan mobilitas sosial Di Indonesia masih rapuh dan mudah tergerus Bersama guncangan ekonomi maupun sosial.
Pekerjaan Formal yang Stabil Lebih Sulit Diperoleh
Prof. Ira juga menyinggung tingginya fenomenaprekariat atau precarious employment rate (PER) yang mencapai 43,6 persen Ke 2025. Sebagai informasi, precarious employment seperti dilansir Di laman Science Direct adalah pekerjaan yang tidak stabil dan kurangnya perlindungan hukum.
Istilah ini menggambarkan kelas sosial Mutakhir yang tumbuh Di Ditengah fleksibilitas pasar kerja modern, ditandai Bersama ketidakpastian pendapatan, keterbatasan akses jaminan sosial, serta risiko tinggi kehilangan pekerjaan. Prof. Ira menyoroti tingginya angka PER Di Indonesia Menunjukkan jika kelompok Kandidat kelas menengah dan kelas menengah tetap Berusaha Mengatasi ketidakamanan kerja. Artinya, mobilitas sosial yang telah dicapai masih tergolong rapuh.
“Mobilitas sosial tetap menjadi aspirasi penting Kelompok Indonesia. Tetapi, Sukses Sebagai bergerak secara ekonomi dan sosial harus dikonversi menjadi rasa aman yang dapat dipertahankan Di jangka panjang. Tanpa itu, mobilitas hanya Berencana melahirkan kecemasan Mutakhir. Harapannya, tulisan yang mengangkat perihal insecure mobility ini menawarkan ragam cara pandang kepada publik Sebagai memahami berbagai perubahan sosial yang Ditengah terjadi Di Indonesia,” ungkap Ketua Departemen Sosiologi FISIP UI itu.
(nir/pal)
`;
constructor() {
super()
this.attachShadow({ Tren: “open” })
this.shadowRoot.innerHTML = TentangPenulis.html
}
async connectedCallback() {
if (elementType === ‘single’) return false;
const { default: Swiper } = await import(
”
);
this.SwiperClass = Swiper;
const swiperContainer = this.shadowRoot.querySelector(‘.mySwiper’);
new this.SwiperClass(swiperContainer, {
slidesPerView: 1,
spaceBetween: 18,
navigation: {
nextEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-next”),
prevEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-prev”),
},
pagination: {
el: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-pagination”),
clickable: true,
},
});
}
}
customElements.define(elementTemplate, TentangPenulis)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Gubes UI Soroti Jutaan Orang RI Kandidat Naik Di Kelas Menengah Tapi Rentan Miskin Lagi











