Jakarta –
Pakar sekaligus ekonom Di Fakultas Ekonomika dan Usaha Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) Wisnu Setiadi Nugroho beri pendapat soal polemik penutupan sejumlah Inisiatif studi (prodi) yang dinilai sepi peminat atau tidak relevan Di industri. Keputusan penutupan prodi disebut Wisnu kini dibungkus Di jargon link and match.
Wisnu mempertanyakan Dari kapan pasar kerja menjadi penentu tunggal arah Pembelajaran. Narasi link and match justru Berpeluang memaksa kampus Sebagai tunduk Di logika pasar jangka pendek menurutnya.
Persoalan pertama yang muncul Di Keputusan tersebut dijelaskan Wisnu berkaitan Di asumsi yang Berkata bila kebutuhan industri dapat diprediksi dan diikuti secara stabil. Padahal faktanya, perubahan Keahlian lebih cepat dibandingkan siklus Pembelajaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
World Economic Forum (WEF) Di Future of Jobs 2023 melaporkan, 44 persen Kekuatan inti pekerja diperkirakan berubah Di waktu lima tahun Hingga Didepan (2023-2027). Melihat hal ini, Wisnu menilai apa yang Dikatakan relevan hari ini bisa Di cepat menjadi usang Hingga masa Didepan.
“Di Situasi seperti ini, memaksa kampus mengejar kebutuhan industri justru seperti berlari mengejar bayangan,” tuturnya dikutip Di laman resmi UGM, Kamis (4/6/2026).
Keputusan yang Abaikan Dinamika Masa Didepan
Lebih Jelas, Wisnu menjelaskan bila arah Pembelajaran tinggi sepenuhnya diserahkan Di pasar, artinya pemerintah telah mengabaikan fungsi sosial dan politik kampus. Perguruan tinggi seharusnya menjadi ruang produksi pengetahuan, Penilaian, dan refleksi.
Sebagai itu, ketika fungsi ini dilemahkan, Kelompok bisa kehilangan kemampuan Sebagai memahami perubahan. Jika memahami saja kesulitan, bagaimana Kelompok bisa mengoreksi Kesalahan Individu yang terjadi nantinya.
“Pemikir Martha Nussbaum telah lama memperingatkan bahwa pengabaian Pada humaniora Berpeluang menurunkan Standar deliberasi publik dan daya kritis warga Negeri,” paparnya.
Wisnu mengingatkan bahwa Pembelajaran tinggi bukanlah balai Pelatihan kerja tambahan Untuk industri. Jika indikator Sukses hanya ditentukan Di serapan kerja jangka pendek, bidang-bidang yang berkaitan Di pembangunan jangka panjang bisa terpinggirkan.
Baginya, Negeri yang mampu bertahan Di Situasi disrupsi adalah Negeri yang punya kapasitas refleksi dan Perkembangan. Di Cara Itu, menutup prodi menjadi Keputusan yang menurutnya mengabaikan dinamika masa Didepan.
“Menutup Inisiatif studi hanya Sebab tidak sesuai Di selera pasar hari ini adalah bentuk keputusan rabun jauh yang mengabaikan dinamika masa Didepan,” tekannya.
Ia kembali menegaskan kampus tidak seharusnya berfungsi sebagai pabrik penghasil tenaga kerja yang sesuai pesanan. Kampus merupakan tempat manusia Di kemampuan berpikir, Mengadaptasi, dan mencipta bisa terbentuk.
Alih-alih Karena Itu baling-baling cuaca yang berputar mengikuti arah angin ekonomi, kampus seharusnya bisa menjadi kompas yang bisa mengarahkan peradaban. Karenanya, Wahyu mengingatkan agar logika pasar tak perlu dipaksakan.
“Jika kita terus memaksakan logika pasar sebagai satu-satunya ukuran relevansi, yang dihasilkan bukanlah generasi yang siap Berjuang Di masa Didepan, melainkan generasi yang dilatih Sebagai masa lalu,” tandasnya.
Bantahan Kemdiktisaintek
Hingga kesempatan berbeda, Pejabat Tingginegara Pembelajaran Tinggi, Sains, dan Keahlian (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto membantah pihaknya melakukan penutupan prodi Di rangka menyesuaikan Di industri yang Akansegera berkembang Hingga masa Didepan. Bukan ditutup, ia menyebut prodi-prodi Merasakan Pembuatan substansi.
Contoh pengembangannya yakni prodi Metode elektro menjadi prodi Kecerdasan Buatan (AI) atau machine learning atau robotik. Lanjutnya ada penggantian prodi matematika menjadi aktuaria, Sebab ada lebih banyak fokus mata kuliah aktuaria yang dibutuhkan Di industri.
“Karena Itu Yang Berhubungan Di Di Topik yang Lalu berkembang bahwa Kementerian Pembelajaran Tinggi Akansegera melakukan penutupan Inisiatif studi Sebagai penyesuaian Di industri yang Akansegera berkembang Hingga masa Didepan, kami dapat menyampaikan bahwa hal tersebut tidak menjadi Keputusan kami,” kata Brian Hingga hadapan Komisi X Wakil Rakyat RI Di Pertemuan kerja, Selasa (2/6/2026) lalu, disiarkan ulang Hingga YouTube TVR Dewan.
Hingga Didepan, ia Akansegera meminta badan kerja Inisiatif studi melakukan evaluasi setiap 3-4 tahun sekali. Tujuannya, Sebagai mencari dan mengoptimalkan keilmuan.
“Memang itu yang Lalu kita meminta Lewat badan pekerja, badan koordinasi atau badan kerja Inisiatif studi biasanya itu mereka setiap 3 atau 4 tahun melakukan evaluasi Sebagai mencari dan mengoptimalkan bagaimana perkembangan keilmuan Hingga bidang tersebut, Supaya nantinya mereka Akansegera melakukannya merekomendasikan seperti apa sebenarnya penyesuaian yang perlu dilakukan,” imbuhnya.
(det/twu)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Keputusan yang Abaikan Dinamika Masa Didepan











