Jakarta –
Badan Gizi Nasional mengusulkan agar setiap kampus mendirikan minimal satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Apakah usulan tersebut termasuk langkah yang tepat?
Pakar Keadaan Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Dede Nasrullah, menegaskan fungsi kampus adalah sebagai pusat Pembuatan ilmu pengetahun dan semestinya tidak bergeser menjadi pelaksana teknis layanan gizi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kampus harus membumi dan berdampak Pada ilmu pengetahuan-dikenal Lewat Kajian unggulan, Aturan berbasis data, dan Pembaharuan strategis, bukan Sebab keberhasilannya mengelola teknis dapur dan distribusi Konsumsi,” ujarnya Di laman UMSURA dikutip Rabu (6/5/2026).
Dede mendukung keterlibatan kampus Di MBG. Tetapi, ia menekankan jika peran tersebut harus Memperoleh nilai akademik yang terukur.
SPPG Dapat Menjadi Laboratorium Pembelajaran
Menurutnya, fasilitas SPPG dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium pembelajaran dan pusat Kajian Ketahanan Pangan. Kampus dapat berkontribusi Di Pembuatan Pembaharuan olahan Konsumsi berbasis potensi lokal hingga peningkatan Mutu gizi.
“Misalnya,SPPG bisa dijadikan laboratorium hidup Bagi Kajian Ketahanan Pangan lokal, Pembuatan Ilmu Pengetahuan pengolahan Konsumsi, serta model distribusi gizi berbasis komunitas. Hingga situ ada nilai akademik yang kuat,” jelasnya.
Dede menyarankan agar kontribusi kampus diarahkan Di Kajian-Kajian strategis yang dapat memperkuat Aturan gizi nasional. Hingga antaranya adalah Eksperimen Yang Berhubungan Bersama status gizi Komunitas, evaluasi dampak Inisiatif MBG, hingga desain model penyediaan Ketahanan Pangan berbasis petani lokal.
“Kajian tentang dampakMBG, desain menu berbasis kearifan lokal, hingga model rantai pasok yang melibatkan petani lokal itu yang seharusnya menjadi fokus kampus,” tambahnya.
Menurutnya, pendekatan berbasis Kajian Akansegera Menyediakan kontribusi jangka panjang yang lebih signifikan dibanding keterlibatan Di aspek operasional. Ia menekankan Pemberian kampus Bagi Inisiatif prioritas pemerintah tetap penting, tetapi bentuk dukungannya harus sesuai kapasitas dan peran strategis universitas.
“Kampus tetap harus fokus Di Kajian dan Pembaharuan Bagi mendukung Sukses Inisiatif MBG, bukan terlibat langsung Di urusan teknis operasional,” pungkas Dede.
(nir/nah)
`;
constructor() {
super()
this.attachShadow({ Tren: “open” })
this.shadowRoot.innerHTML = TentangPenulis.html
}
async connectedCallback() {
if (elementType === ‘single’) return false;
const { default: Swiper } = await import(
”
);
this.SwiperClass = Swiper;
const swiperContainer = this.shadowRoot.querySelector(‘.mySwiper’);
new this.SwiperClass(swiperContainer, {
slidesPerView: 1,
spaceBetween: 18,
navigation: {
nextEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-next”),
prevEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-prev”),
},
pagination: {
el: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-pagination”),
clickable: true,
},
});
}
}
customElements.define(elementTemplate, TentangPenulis)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Pembangunan Dapur MBG Bersama Kampus Bersama Sudut Pandang Pakar











