Jakarta –
Bulan Ramadan Di Sebab Itu salah satu agenda Unjuk umat Islam Ke seluruh dunia, termasuk mahasiswa asal Indonesia yang berkuliah Ke Universitas Al Azhar, Kairo. Pasalnya, Di bulan puasa jam perkuliahan selesai lebih cepat Di biasanya.
“Di Sebab Itu biasanya kan perkuliahan itu Sesudah jam 9 sampai sore kadang. Ke bulan Ramadan ini khusus bulan ini itu biasanya cuma sampai siang. Di Sebab Itu biasanya satu hari cuma ada 2 matkul,” ujar Fahna Fathika, mahasiswi asal Boyolali dan content creator muslimah kepada detikEdu Ke Jumat (2/3/2026).
Kuliah Dipersingkat biar Fokus Ibadah
Pihak kampus memberi rukhsah (keringanan) Di bulan suci Untuk mahasiswanya Untuk fokus beribadah. Aturan ini disambut baik Di seluruh mahasiswa yang merasa lebih enjoy Untuk menjalankan ibadah puasa satu bulan penuh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Bisa Jadi bisa sampai jam, ada yang sampai jam Di jam 9 sampai jam 11, ada yang paling lama itu sampai jam 2, 2 siang. Di Sebab Itu ya dikasih waktu Untuk ibadah,” jelas Shafly Athif, mahasiswa asal Wonogiri.
Selain penyesuaian jam perkuliahan, mereka juga mengakui suasana Ramadan Ke Mesir sangat menyenangkan. Euforia Komunitas lokal Di menyambut bulan suci diperlihatkan lewat semangat berbagi yang tinggi.
Mereka seolah berlomba-lomba Untuk berbagi kepada siapa saja yang berpuasa, terlebih mahasiswa yang menuntut ilmu. Beberapa Tempattinggal Justru menyediakan hidangan berbuka Di tenda, Tatakan, Sofa, takjil, hingga Minuman berat Ke Didepan rumahnya yang disebut “maidaturrahman”.
“Di Sebab Itu Ke setiap Tempattinggal, bayangin aja setiap Ke Didepan Tempattinggal itu pasti ada yang benar, tadi katanya maidaturrahman. Di Sebab Itu Ke setiap Didepan Tempattinggal itu pasti ada yang buka puasa gratis, disediain tempat, Tatakan mereka yang nyediain, Di Tatakan, Sofa, makanannya disediain semuanya,” tutur Shafly.
Pihak Universitas Al Azhar sendiri juga menyediakan 10.000 porsi Minuman gratis setiap harinya Untuk para wafidin (mahasiswa non-Mesir). Inisiatif ini disambut antusias dan membuat antrian mengular kurang lebih 200 meter panjangnya.
Mayoritas masjid juga menyediakan hidangan berbuka mulai Di yang ringan hingga berat. Justru setiap sudut tempat ada saja yang berbagai walaupun sekadar air putih dan kurma Untuk membatalkan puasa. Sebab toleransi Ke sana cukup tinggi, sebagian penduduk nonmuslim juga ada yang ikut berbagi menu buka puasa.
Perbedaan Mencolok Ramadan Ke RI dan Mesir
Menurut Shafly, perbedaan yang paling mencolok yaitu banyaknya pedagang takjil dadakan Pada Ramadan Ke Indonesia. Sambil Ke Mesir, bulan Ramadan adalah bulannya mereka berlomba-lomba Untuk berbagi hampir setiap Tempattinggal.
“Perbedaan yang sangat jelas itu ketika Ke bulan Ramadan itu kalau Ke Indonesia kan biasanya bulan Ramadan banyak yang buka usaha tiba-tiba, buka jual takjil segala macam. Kalau disini itu benar-benar bulan Ramadan itu malah bukan waktunya Untuk mencari uang, tapi Untuk waktunya Untuk orang-orang Mesir itu berbagi Ke mana-mana,” jelasnya.
“Di Sebab Itu mereka itu kayak Ke sebelas bulan lain selain Ramadan itu mereka mencari uang dibagi-baginya Ke bulan Ramadan,” imbuhnya.
Meski merasa rindu Di kampung halaman, keduanya mengakui bahwa menjalani ibadah puasa Ke Mesir cukup menghibur.
(nah/nah)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Cerita Ramadan Mahasiswa RI Ke Mesir, Kuliah Dipersingkat biar Fokus Ibadah











