Jakarta –
Tokyo merupakan salah satu Prefektur (setingkat provinsi) Di Jepang Di jumlah penduduk 9 juta jiwa. Di session-session tertentu jumlah penduduk Berencana Menimbulkan Kekhawatiran bersamaan Di musim liburan. Walaupun banyak ditempati Dari penduduk dan wisatawan, kota sangat tertata dan bersih. Menyusuri pusat-pusat kota seperti Shibuya, Shijnuku, Ginza, dan pusat kota Tokyo lainnya, kita disuguhi Di kebersihan kota dan manajemen sampah yang baik. Kelompok dan wisatawan seperti didorong secara alamiah Bagi menjadi Dibagian Di ekosistem Untuk pengelolaan sampah yang teratur dan sistematis.
Evolusi pengelolaan sampah Di Jepang, termasuk kepedulian masyarakatnya Di pengelolaan sampah diawali Di meningkatnya jumlah sampah perkotaan yang signifikan sebagai konsekuensi Di Kemajuan ekonomi yang pesat Di periode tahun 1960an. Di Di itu, Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) penuh Lantaran sampah yang ada tidak diolah Supaya TPA cepat penuh, Di sisi lain lahan Bagi TPA Lebihterus terbatas. Kebugaran tersebut, kurang lebih sama Di Kebugaran kota-kota besar Di Indonesia Di ini, dimana TPA banyak yang over capacity.
Berangkat Di Kebugaran tersebut, Di tahun 1971, muncul gerakan Waste War atau Konflik Bersenjata Di Sampah Di Pemerintah Prefektur Tokyo yang dipimpin langsung Dari Gubernur Tokyo Di itu. Sebuah gerakan Konflik Bersenjata Di sampah Di Memperbaiki metode pengelolaan sampah agar sampah dapat Di reduksi secara signifikan Di TPA Melewati metode insenerator dan Memperbaiki kepedulian Kelompok Di sampah Sebelum dini. Hasilnya, tingkat reduksi Di proses pengelolaan sampah Di Prefektur Tokyo Di ini berkisar Di 90%-95%. Artinya Di 100 ton sampah yang dihasilkan hanya tersisa 5 ton Setelahnya Melewati tahapan pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kunci reduksi sampah yang tinggi adalah pemilahan sampah Di tingkat Tempattinggal hingga tempat pengolahan sampah. Kesadaran tinggi pemilahan sampah Di Prefektur Tokyo diawali Di masuknya kesadaran lingkungan Ke Untuk kurikulum SD Sebelum kelas 4 yang secara konsisten diterapkan Sebelum inisiasi waste war. Indonesia sendiri, berencana memasukan Pembelajaran lingkungan kedalam kurikulum sesuai Di arahan Pemimpin Negara Prabowo Di Puncak Hari Guru Nasional 2025 Di Jakarta 28 November 2025. Semoga intruksi Pemimpin Negara tersebut dapat Memperbaiki kesadaran Untuk mengelola sampah Di Indonesia.
Pemerintah Kota Di bawah Prefektur mempunyai pusat Pembelajaran lingkungan yang mudah Di jangkau Dari Kelompok, salah satunya Ozenji Eco-Gurashi Kankyo Kan yang berada Di Kota Kawasaki. Pusat Pembelajaran tersebut digunakan Bagi anak-anak sekolah belajar tentang pentingnya pengelolaan sampah. Pusat Pembelajaran tersebut berada Untuk satu komplek Di insenerator dan fasilitas pemandian air panas yang bersumber Di insenerator Supaya anak-anak dapat melihat pengelolaan sampahnya dilakukan Di baik.
Cerobong Di insenerator tersebut tidak menimbulkan asap dan minim polutan Supaya Kelompok bisa Di nyaman tinggal Di sekelilingnya. Hal ini penting Bagi Menyaksikan kepercayaan Di Kelompok bahwa Pemerintahnya mengelola sampah Di ramah lingkungan.
|
Penulis Di Di Waste to Energy Hikarigaoka Incineration Plant yang bersih dan ramah lingkungan Foto: (Dokumentasi pribadi Yuki MA Wardhana)
|
Agar sampah dikelola Di baik, maka sampah harus dipilah sesuai spesikasi Keahlian pengelolaan sampahnya. Di pengelolaan sampah Di Prefektur Tokyo, sampah dibagi menjadi tiga jenis, yaitu pertama sampah yang dapat dibakar atau combustable waste, metode pengelolaan sampahnya menggunakan insenerator ramah lingkungan.
Kedua, sampah yang tidak dapat dibakar atau incombustable waste seperti alat elektronik dan Produk Di logam, pengolahannya Melewati Incombustible Waste Processing Center. Ketiga, sampah besar seperti bekas lemari dan kasur yang dikelola Di Pulverization Processing Plant for Large Size Waste.
Hasilnya, sampah tereduksi hingga 95% dan hanya 5% Di TPA. Kebugaran tersebut membawa manfaat Di umur teknis TPA yang panjang Supaya cocok Bagi kota-kota besar Di volume sampah tinggi seperti Jakarta.
Pengelolaan sampah yang besar dan efisien tentunya Berencana membawa dampak Di pembiayaan yang besar. Biaya pengelolaan sampah Di kota-kota Di bawah Prefektur Tokyo menggunakan skema blended finance, yaitu bersumber Di Prefektur, Kab/Kota, Obligasi dan Retribusi Negara yang dibayarkan Kelompok. Blended finance dipilih Lantaran biaya Penanaman Modal Untuk Negeri pengelolaan sampah sangat besar. Sedangkan Bagi operasional pengelolaan sampahnya menggunakan skema Public Private Partnership (PPP).
Terdapat beberapa Kunci yang dapat diambil Di pembelajaran pengelolaan sampah Di Prefektur Tokyo. Pertama, pengelolaan sampah bukan bersifat parsial tapi terintrgrasi sebagai satu kesatuan sebagai ekosistem. Kedua, biaya Penanaman Modal Untuk Negeri pengelolaan dan pengolahan sampah sangat besar Supaya blended finance Di Pemerintah pusat, provinsi, kota, pelaku usaha dan Kelompok sangat diperlukan. Ketiga, pentingnya Pembelajaran usia dini Di lingkungan dan pengelolaan sampah. Keempat, reduksi sampah Di pengolahan sampah sangat ditentukan Dari pemilhan sampah.
Provinsi dan kota-kota besar Di Indonesia dapat belajar Prefektur Tokyo Untuk mengelola sampah Di jumlah penduduk dan pendatang yang besar. Kota yang bersih dan tertata Berencana Merangsang Kemajuan ekonomi yang signifikan serta membuat Kelompok dan pendatang nyaman Bagi beraktifitas. Indonesia Memiliki produk pengolahan sampah yang lebih bervariasi.
Berdasarkan hasil kajian IIGF Institute tahun 2024, setidaknya ada 5 produk olahan sampah yang dapat dikembangkan Indonesia berdasarkan tipologi jenis sampahnya, yaitu termal Bagi listrik, RDF (Refuse-Derived Fuel, bahan bakar alternatif yang dihasilkan Di pengolahan limbah padat), biogas,dan kompos. Penentuan produk olahan sampah tersebut, tergantung Di kapasitas fiskal dan offtaker Di produk tersebut.
Di ini, merupakan momen yang tepat Bagi turning point Di pengelolaan sampah Di Indonesia Lantaran beberapa kota besar sudah darurat sampah dan terdapat komitmen Pemimpin Negara Bagi memasukan Pembelajaran lingkungan Di sekolah serta memanfaatkan sampah menjadi waste to energy atau derrivative product lainnya Di sampah.
*)Dr Yuki MA Wardhana
Knowledge and Research Advisor IIGF Institute dan Dosen Di Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (SIL UI/ kini SPPB (Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan)) yang fokus Di pemberdayaan Kelompok Melewati pengurangan limbah sampah plastik.
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis berdasarkan studi pengolahan sampah Di Prefektur Tokyo Di 8-12 Desember 2025, dan bukan pendapat redaksi detikcom.
(nwk/nwk)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Belajar Konflik Bersenjata Melawan Sampah Di Tokyo, Kurikulum Lingkungan Masuk Sebelum SD











