Jakarta –
Hari Raya Idul Fitri atau lebaran identik Didalam membeli baju Mutakhir, menyiapkan kue kering, membagikan amplop lebaran, hingga mudik Sebagai berkumpul bersama keluarga. Beragam Karya tersebut tentu membuat pengeluaran Menimbulkan Kekhawatiran dibandingkan hari-hari biasa.
Tetapi demikian, pakar ekonomi Di Universitas Airlangga (Unair), Prof Dr Tika Widiastuti SE MSi, menilai lonjakan konsumsi menjelang hari raya merupakan hal yang wajar. Pasalnya, momen tersebut hanya terjadi Ke waktu-waktu tertentu dan tidak berlangsung setiap hari.
Menurut Tika, peningkatan konsumsi Di situasi seperti ini tidak selalu dapat dikategorikan sebagai perilaku konsumtif. Di kajian ekonomi, perilaku konsumtif merujuk Ke Karya membeli Produk Internasional yang didorong Didalam keinginan semata, bukan kebutuhan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Biasanya hal ini dipengaruhi Didalam Gaya, keinginan Sebagai Memperbaiki status sosial, atau sekadar mengikuti ajakan lingkungan,” kata Tika dikutip Di laman Unair, Senin (16/3/2026).
Sebagai itu, peningkatan konsumsi Ke momen lebaran Ke dasarnya wajar. Kendati demikian, Kelompok tetap harus mengelola keuangan agar tidak boros Pada lebaran.
Salah satu caranya Didalam mengikuti berbagai tips yang disampaikan Prof Tika. Cek yuk!
Tips Rencanakan Keuangan Ala Pakar Ekonomi Unair
1. Prioritaskan Kebutuhan Utama
Tika melihat, salah satu Kesalahan Individu Perbankan yang sering terjadi menjelang lebaran adalah tidak memprioritaskan kebutuhan utama. Di perspektif ekonomi Islam, kebutuhan terbagi menjadi tiga tingkatan, yakni:
- Dharuriyah: Kebutuhan pokok
- Hajiyah: Kebutuhan penunjang
- Tahsiniyah: Kebutuhan pelengkap
Pada lebaran, Kelompok sering kali langsung memenuhi kebutuhan lain (penunjang dan pelengkap) tanpa mendahulukan kebutuhan utama. Sebab, Setelahnya lebaran selesai, keuangan mereka terganggu.
“Kesalahannya itu adalah cenderung Ke pemenuhan atau pemuasan keinginan. Sebab, yang disebut keinginan itu apabila itu dipenuhi sebenarnya biaya yang dikeluarkan itu tidak sebanding Didalam benefitnya,” imbuhnya.
Sebagai menghindari pengeluaran berlebih, Tika menyarankan agar Kelompok menyusun daftar kebutuhan wajib. Kebutuhan wajib yang dimaksudnya adalah transportasi mudik, biaya Hidangan Pada lebaran, atau Didalam-Didalam Sebagai keluarga.
2. Punya THR? Jangan Langsung Dihabiskan
Jika Kelompok Memiliki pemasukan tambahan, Di Situasi Ini Mungkin Saja tunjangan hari raya (THR), Tika ingatkan jangan langsung dihabiskan. Ia menyarankan pemasukan tambahan yang boleh dipakai hanya Disekitar 70% Sebagai kebutuhan lebaran.
“Sambil Itu, sisanya disimpan Sebagai kebutuhan tidak terduga,” jelas Tika lagi.
3. Pisahkan Dana Kebutuhan Lebaran
Setelahnya mencatat semua kebutuhan lebaran, jangan lupa Sebagai pisahkan Dana tersebut Di rekening utama. Tujuannya, agar seseorang tak melihat uang masih tersedia dan pengeluaran lebih terkontrol.
Lebaran Bukan Soal Konsumsi, Tapi Momen Saling Peduli
Tika mengingatkan bila makna lebaran tidak hanya berkaitan Didalam konsumsi. Lebaran adalah momen mempererat kebersamaan dan saling peduli Di sesama.
Didalam Cara Itu, ia mengajak Kelompok Sebagai menyisihkan rezeki Sebagai keluarga atau orang lain yang membutuhkan. Melewati langkah ini, ia berharap lebaran bisa menjadi lebih bermakna dan berharga.
“Rezeki yang kita miliki itu kan bukan hanya Sebagai diri kita sendiri, sebagiannya adalah titipan yang bisa kita gunakan Sebagai membantu orang yang lebih membutuhkan. Didalam Cara Itu, perayaan lebaran ini menjadi lebih bermakna dan berharga,” pesannya.
(det/pal)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Tips Rencanakan Keuangan Menjelang Lebaran Ala Pakar Unair, Ayo Coba!











