Jakarta –
Mulai tahun ini, Kementerian Belajar Korea Selatan (Korsel) Untuk pertama kalinya Berencana mendata mata kuliah berbahasa Inggris Di kampus secara nasional. Upaya itu dilakukan Untuk Menarik Perhatian mahasiswa internasional.
Kementerian Belajar Korsel menyebut data tersebut Berencana menjadi referensi penting Untuk Kandidat mahasiswa internasional. Di ini, Korsel tidak hanya Menarik Perhatian mahasiswa Langkah sarjana (S1), tetapi juga peserta pertukaran Kearifan Lokal Dunia serta mahasiswa tamu jangka pendek Untuk berbagai Bangsa.
Data tersebut rencananya Berencana diumumkan secara tahunan dan dinilai dapat menjadi indikator arah Aturan pemerintah yang kian menekankan penguatan perkuliahan berbahasa Inggris Di lingkungan perguruan tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara Keseluruhan, perguruan tinggi Di Korsel memahami latar Dibelakang Aturan ini. Penurunan Pertumbuhan usia sekolah, ditambah dorongan pemerintah Untuk memperkuat kampus Lokasi Lewat perekrutan mahasiswa internasional, membuat peningkatan mata kuliah berbahasa Inggris dinilai tak terelakkan. Meski demikian, sejumlah kampus mengingatkan agar Aturan tersebut diterapkan secara hati-hati.
“Memperluas kuliah berbahasa Inggris memang menjadi arah dasar Di universitas fokus Menarik Perhatian mahasiswa internasional. Tapi format kuliahnya sangat beragam, Supaya sulit menerapkan standar tunggal Untuk keterbukaan data,” ujar seorang pejabat kampus negeri yang enggan disebutkan namanya Untuk laporan eksklusif The Korea Times yang dikutip detikedu, Sabtu (24/1/2026).
Ditambahkan, salah satu pejabat Untuk kampus swasta Di Seoul menyebut jumlah mata kuliah berbahasa Inggris sempat melonjak Di banyak kampus. Tetapi, Untuk beberapa tahun terakhir, angkanya justru stagnan atau Malahan menurun Di sejumlah institusi.
“Ada diskusi Di kalangan akademisi apakah sekadar menambah jumlah mata kuliah berbahasa Inggris benar-benar bermakna,” katanya.
Perluasan perkuliahan berbahasa Inggris Di Korsel mulai Diluncurkan Lebihcepat Dari pertengahan 2000-an. Salah satu momentum penting terjadi Di 2007, ketika Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST) Mengeluarkan seluruh Langkah studinya Berencana menggunakan bahasa Inggris.
Aturan ini juga sejalan Bersama agenda internasionalisasi Belajar tinggi serta upaya Memperbaiki posisi universitas Korea Untuk pemeringkatan Internasional.
Tetapi, seiring ekspansi tersebut, muncul kekhawatiran Yang Terkait Bersama kesiapan dosen Untuk mengajar menggunakan bahasa Inggris. Kebugaran ini memicu pertanyaan tentang potensi penurunan Standar perkuliahan.
“Di ini, banyak mahasiswa internasional justru mengikuti kuliah berbahasa Korea dan mengandalkan alat terjemahan atau kecerdasan buatan (Al) Untuk memahami materi,” ujar seorang pejabat kampus.
Kekhawatiran serupa disampaikan Lim Woo-young, profesor ekonomi Di Hong Kong University of Science and Technology. Menurutnya, ekspansi mata kuliah berbahasa Inggris yang didorong Keinginan internasionalisasi Berpeluang menimbulkan dampak yang sebenarnya dapat diprediksi.
“Malahan dosen yang menghabiskan lima hingga tujuh tahun menempuh studi doktoral (S3) Di Bangsa berbahasa Inggris kerap kesulitan menyiapkan dan menyampaikan kuliah Untuk bahasa Inggris tanpa Pengalaman Hidup mengajar Sebelumnya Itu,” ujarnya.
la menambahkan, penilaian yang sistematis perlu dilakukan Sebelumnya Aturan perluasan diterapkan lebih jauh.
“Evaluasi mengenai berapa banyak pengajar yang mampu menyampaikan mata kuliah berbahasa Inggris Bersama Standar yang dapat diterima, dibandingkan Bersama perkuliahan berbahasa Korea, harus dilakukan Sebelumnya sinyal Aturan apa pun Untuk memperluas penawaran tersebut,” katanya.
Hingga kini, belum ada permintaan data resmi yang Disalurkan kepada universitas. Sejumlah kampus masih Menyoroti Permasalahan ini secara internal.
Kementerian Belajar Korsel memastikan data tersebut Berencana tetap dikumpulkan, meski belum memutuskan apakah hasilnya Berencana diumumkan Lewat portal resmi informasi universitas Di Agustus mendatang atau dirilis Di waktu lain.
Meski demikian, seorang pejabat kementerian Belajar Korsel menyebut pengungkapan jumlah mata kuliah berbahasa Inggris kemungkinan tidak Berencana menimbulkan persoalan besar dan berpeluang dipublikasikan.
Data tersebut hanya Berencana mencakup mata kuliah yang diajarkan Untuk bahasa Inggris dan tidak termasuk perkuliahan Untuk bahasa Asing lainnya.
(crt/pal)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Tarik Mahasiswa Asing, Pemerintah Korsel Mulai Data Prodi Berbahasa Inggris











