Jakarta –
Ini cerita Nico Sitanggang, mahasiswa Indonesia peserta pertukaran pelajar Hingga Korea University, Korea Selatan (Korsel). Meski tak semeriah Hingga tanah air, Akan Tetapi pihak kampus memfasilitasi musala Bagi tarawih para mahasiswa muslimnya. Masjid-masjid pun ramai.
“Kalau Bersama lingkungan kampus tuh, ada tarawih gitu Hingga musala kampus aku, dan aku lihat langsung kayak Hingga Didepan mata aku gitu, kalau seramai itu yang ikut (tarawih) Hingga kampus aku,” ujar Nico Pada berbincang Bersama detikEdu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga Di Itu, ada banyak komunitas mahasiswa muslim Hingga kampusnya yang Melakukan buka puasa bersama. Bagi lingkungan yang lebih besar Hingga luar kampus, Nico mengatakan masjid-masjid Hingga kota Seoul sangat ramai jemaah.
“Masjid-masjid pun banyak yang melangsungkan kegiatan tarawih sendiri Bagi foreigners yang Untuk berwisata Hingga Korea, dan memang rame banget sih, jujur, Hingga bulan Ramadan. Terus, Bagi buka bersama pun banyak sekali Hingga masjid-masjid yang Hingga kota besar, salah satunya Hingga kota, Hingga Lokasi Itaewon, seperti itu,” urai Nico.
Tak ketinggalan, kegiatan buka bersama yang diadakan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Seoul menjadikan ‘Perawatan rindu’ Berencana kebersamaan Pada Ramadan Hingga Indonesia.
“Dan kemarin juga ada buka bersama orang Indonesia Hingga Korea Selatan, bersama KBRI Hingga Seoul. Tandanya walaupun tidak Hingga Indonesia, ternyata orang Indonesia juga masih bisa merasakan suasana Ramadan seperti soal tarawih, buka puasa bersama yang disediakan Hingga fasilitas kampus ataupun Bersama KBRI sendiri,” tutur Nico yang Hingga Korea University Sebelum akhir Agustus 2026.
Belajar Makna Keberagaman
Menjalani Ramadan Hingga Negeri Bersama mayoritas non-Muslim, diakuinya Menyediakan Penghayatan yang berbeda Bagi sebagian mahasiswa Indonesia. Tidak ada suasana khas seperti penjual takjil Hingga jalan atau restoran yang menyesuaikan jam operasional Di waktu berbuka.
Walaupun begitu, Penghayatan tersebut justru membuka perspektif Mutakhir tentang bagaimana ibadah dijalankan Hingga Ditengah lingkungan yang beragam. Keterlibatan Bersama orang Bersama berbagai latar Dibelakang Kearifan Lokal Global dan agama menjadi Pada penting Bersama Penghayatan tersebut.
Selain suasana Ramadan Hingga Korsel tidak semeriah Hingga Indonesia, pula banyak Kelompok Korsel yang belum begitu familiar Bersama Konsep Ramadan maupun puasa.
Ia mengatakan, Hingga lingkungan yang cukup homogen, sebagian orang Korsel Malahan belum mengetahui apa itu Ramadan. Meski begitu, ada juga yang mulai memahami dan Menunjukkan sikap saling menghormati.
“Bagi Ramadan Hingga sini memang tidak terlalu signifikan ya, Lantaran bukan national holiday juga terlebih, Hingga lingkungan yang sangat homogenik ini, aku melihat kalau banyak juga orang yang masih belum tahu Ramadan itu apa, Malahan Konsep puasa pun masih banyak yang belum tahu, khususnya orang Koreanya sendiri,” demikian celoteh Nico.
Menurutnya, meski tidak ada penyesuaian khusus seperti Hingga Indonesia, orang yang sudah mengetahui tentang Ramadan biasanya tetap Menunjukkan sikap saling menghargai.
Komunitas Internasional Dari Sebab Itu Ruang Kebersamaan
Meski jauh Bersama Indonesia, mahasiswa Muslim Hingga Korsel tetap bisa merasakan kebersamaan Di Ramadan. Hingga lingkungan kampus maupun komunitas internasional, berbagai kegiatan seperti buka puasa bersama tetap dilakukan.
Nico menyebutkan bahwa mahasiswa Bersama berbagai Negeri seperti Indonesia, Malaysia, Pakistan, hingga Amerika Serikat (AS) sering berkumpul Bagi berbuka bersama atau sekadar berbagi cerita Di Ramadan.
“Dan memang bukan cuma makan-makan doang, tapi ya lebih banyak ngobrolnya juga. Lantaran kita rasa kita perlu embrace teman-teman kita yang puasa supaya mereka tuh makin semangat puasanya Hingga negeri yang udah jauh banget Bersama Rumah,” katanya.
Bagi Nico, Penghayatan menjalani Ramadan Hingga luar negeri Menyediakan pemahaman Mutakhir tentang makna keberagaman. Ia menilai Penghayatan tersebut membuatnya melihat Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang saling memahami dan menghargai perbedaan.
(nwk/nwk)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Tarawih Hingga Musala Kampus, Masjid Ramai











