Jakarta –
Beberapa waktu lalu, Area Jakarta dan sekitarnya diguyur hujan cukup deras Ke Ditengah musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut hujan tersebut merupakan dampak Bersama operasi modifikasi cuaca (OMC).
Modifikasi dilakukan usai BMKG Meramalkan kemunculan hujan Ke Jabodetabek Ke periode 18-19 September 2026. Ke sisi lain, dinamika atmosfer masih aktif dan bisa memicu hujan lokal.
“Khusus Ke Jabodetabek, kami melihat bahwa ada Potensi Perkembangan awan hujan yang cukup baik Ke beberapa waktu dan juga hingga sepekan Ke Di. Maka, juga Sebagai Meningkatkan intensitas dan luasan, dilakukan OMC,” kata Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, Ke Selasa (22/9/2026), dikutip Kamis (24/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apakah Hujan Hasil Modifikasi Cuaca Berbahaya?
Andri menjelaskan bahwa Ke dasarnya modifikasi cuaca bukan menciptakan hujan Bersama ketiadaan. Modifikasi dilakukan Sebagai memperkuat potensi alam yang sudah ada.
Sederhananya, hujan bisa tercipta Melewati awan (hujan). Modifikasi cuaca dilakukan Sebagai Meningkatkan Perkembangan awan hujan Bersama melakukan penyemaian awan.
“Dari Sebab Itu, hujan yang kemarin adalah Potensi, lalu juga dikuatkan Dari OMC, Supaya intensitasnya Meresahkan dan skalanya lebih meluas,” imbuhnya.
Yang Terkait Bersama kandungan Untuk modifikasi cuaca, BMKG mengatakan bahwa bahan semai awan Memperoleh kandungan yang aman. Samping Itu, dosis yang digunakan juga sangat kecil.
“Memakai garam dapur (NaCl) atau KCl berkualitas food-grade (ramah lingkungan) non-toksik, tidak mengandung gas berbahaya,” jelas BMKG, Melewati unggahan resmi media sosialnya, Kamis (24/9/2026).
“Jumlah garam yang disebar Ke awan sangat sedikit dibanding jutaan liter air hujan yang turun,” lanjutnya.
Hasil uji laboratorium membuktikan bahwa air hujan hasil modifikasi cuaca ber-pH > 7 (netral/basa), yang artinya tidak berbahaya.
Kenapa Air Hujan yang Turun Pertama Bisa Kotor?
Menurut BMKG, air hujan pertama yang turun bisa kotor Lantaran Kepuasan atmosfer yang tercemar. Artinya, air hujan kotor bukan akibat Bersama bahan modifikasi cuaca.
“Tetesan air hujan mampu menyapu partikel debu, polusi kendaraan, Justru asap karhutla Ke udara Di jatuh Ke bumi,” papar BMKG.
Kapan Awal Musim Hujan 2026 Akansegera Datang?
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan musim hujan 2026 tidak dimulai bersamaan Ke setiap Area. Sebagian besar Area Ke Indonesia Akansegera mengawali musim hujan Ke November dan Desember 2026.
1. Cakupan Area yang Merasakan musim hujan mulai November Ke antaranya:
– Sumatera
– Sebagian Jawa
– Sebagian Kalimantan
– Sebagian Bali
– Sebagian NTB
– Sebagian kecil NTT
– Sulawesi
– Sebagian Maluku Utara
– Sebagian Maluku
– Papua Barat Pada utara
– Sebagian Papua Selatan
2. Area yang Merasakan musim hujan mulai Desember:
– Sebagian Lampung
– Sebagian besar Jawa
– Sebagian Kalimantan Selatan (Kalsel)
– Sebagian besar Bali
– Sebagian besar NTB
– Sebagian besar NTT
– Sebagian besar Sulawesi
– Sebagian Malut
– Sebagian Maluku
– Papua Selatan Pada selatan.
(faz/faz)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Tampak Kotor, Apakah Hujan Hasil Modifikasi Cuaca Mengandung Zat Kimia Berbahaya?











