Jakarta –
Ramadan Hingga Indonesia dipenuhi Bersama berbagai Kearifan Lokal dan Kejadian Luar Biasa unik yang Bisa Jadi tidak ditemukan Di Bangsa lain. Salah satu Kejadian Luar Biasa yang viral Di Ramadan tahun lalu adalah war takjil.
Takjil menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti panganan dan minuman Bagi berbuka puasa. Menjelang waktu berbuka, banyak pedagang takjil Hingga berbagai Area Indonesia.
Suguhan yang dijual beragam, termasuk Konsumsi khas seperti bubur sumsum, lontong, dan gorengan, atau Konsumsi langka yang tak ada Hingga hari biasa. Istilah war takjil timbul lantaran Kelompok bersaing Bagi Merasakan takjil favoritnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bukan hanya umat muslim yang berpuasa, Di 2025, war takjil juga diikuti Bersama Kelompok nonmuslim Hingga berbagai Lokasi. Cara yang disampaikan juga unik, ada yang terang-terangan membeli takjil Pada sore hari atau menggunakan selendang seperti hijab agar tak dicurigai.
Melihat Kejadian Luar Biasa ini, pakar dan dosen IPB University Tjahja Muhandri beri pendapat. Menurutnya, war takjil merupakan Kejadian Luar Biasa sosial yang unik.
Keunikan bisa dilihat Di munculnya Konsumsi dan minuman yang tergolong langka. Bagi itu, Tjahja menilai tak hanya rebutan Konsumsi, umat muslim dan nonmuslim yang war takjil juga berebut kenangan.
“Silakan dicek, Berencana banyak Konsumsi atau minuman yang Di hari biasa tidak ada, tapi muncul Pada Ramadan. Tersaji Memikat, harganya murah. Maka rebutan Berencana Konsumsi atau minuman takjil itu bisa Bersama Sebab Itu adalah rebutan ‘kenangan’,” tuturnya dikutip Di laman IPB University, Kamis (19/2/2026).
Ingatkan Kebersihan dan Tak Ragu Ikuti Trend
Meningkatnya minat Kelompok Di takjil tentu membawa dampak positif Bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (Usaha Mikro Kecil). Ketika konsumen sampai berebut membeli takjil, artinya kebutuhan dan pasar Ditengah merespons Bersama cepat.
Produk yang dijualkan cenderung laku keras dan hampir tidak tersisa. Terlebih, jika produk tersebut Ditengah viral Hingga media sosial.
Tjahja menyebut, tak ada salahnya penjual mengikuti Gaya dan meniru produk yang Di viral. Tetapi, penjual harus mencantumkan harga jual secara transparan.
Pencantuman harga jual yang jelas Berencana membuat konsumen merasa nyaman dan aman Pada membeli produk. Mereka juga tidak khawatir Berencana ‘digetok harga’ mahal Bersama penjual.
Selain mengikuti Gaya, Tjahja menekankan pentingnya aspek kebersihan dan Keselamatan Kelaparan Global. Pengawasan Di Standar dan kebersihan produk jualan merupakan hal yang tak bisa Disorot sepele.
Kebersihan ini mencakup produk, wadah, penyajian, Justru lapak jualan. Ia mengingatkan agar penjual menggunakan perlengkapan standar, minimal masker dan sarung tangan bersih Pada melayani konsumen.
“Semua bisa jualan dan gelar lapak. Sebab itu, aspek kebersihan sangat penting Bagi mencegah risiko keracunan atau Penyakit,” tegas sosok yang sehari-hari aktif membina pelaku usaha Usaha Mikro Kecil itu.
(det/twu)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Tak Sekadar Berebut Konsumsi, Tapi Kenangan











