Jakarta –
Lulus diterima Di fakultas kedokteran ternyata bukan impian akhir semua orang. Untuk Muhammad Hafiz Ridwan, kuliah kedokteran bisa saja dilepas jika bisa masuk kepolisian.
Hafiz, sapaannya, sebenarnya sudah diterima Di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) Melewati jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Akan Tetapi, alih-alih fokus sebagai mahasiswa Terbaru, ia masih punya mimpi lain yang ingin dikejar, yakni menjadi polisi.
Ayahnya yang seorang polisi, menginspirasinya Sebagai menekuni jalan yang sama. Ia Justru rela melepaskan statusnya sebagai mahasiswa FK Unair jika diterima Di Akademi Kepolisian (Akpol).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Saya sebenarnya sudah terdaftar sebagai mahasiswa FK Unair. Tapi kalau saya diterima Di Akpol, saya Akansegera meninggalkan FK Unair,” ucap Hafiz kepada detikcom, Di lokasi Seleksi Taruna Akpol 2026 Semarang, Sabtu (25/7/2026), dikutip Senin (27/7/2027).
Pernah Berganti Cita-cita
Hafiz tumbuh Di lingkungan keluarga polisi. Ayahnya merupakan seorang perwira polisi yang Memperoleh gelar doktor dan berpangkat AKBP.
Sebelumnya mengejar cita-citanya menjadi polisi, ia mengaku pernah bercita-cita menjadi Praktisi Medis, pilot, insinyur, hingga Olahragawan sepak bola. Akan Tetapi, cita-cita polisi terus Di pikirannya semasa SMA.
Di akhirnya, ia memantapkan diri Sebagai persiapan rangkaian seleksi Akpol, sembari tetap mendaftar SNBP.
“Di kelas 10, saya mulai Laga Persahabatan psikologi, jasmani, dan akademik. Di tingkat panitia Lokasi saya Posisi 4, tapi Di tingkat pusat agak turun. Saya juga tidak tahu kenapa tesnya terasa sangat sulit,” paparnya.
Di sisi lain, ia tetap aktif berorganisasi dan mengikuti perlombaan. Justru ia pernah meraih Gold Medal World Science Environmental and Engineering Competition 2024 Di Universitas Pancasila serta Gold Medal World Science Environmental and Engineering Competition 2025 kategori Kejuaraan daring
Meski terbiasa Bersama Kejuaraan, Hafiz mengakui seleksi Akpol Memperoleh tekanan mental tersendiri. Ia merasakan langsung tingkat kesulitan seleksi pusat yang Menimbulkan Kekhawatiran drastis dibandingkan seleksi Lokasi.
“Yang paling terasa itu matematika. Soalnya bukan lagi pertanyaan dasar, tapi lebih banyak Pembaruan yang membutuhkan analisis,” ucapnya.
Melihat Sosok Ayah yang Terus Belajar sampai S3
Hafiz mengatakan, ia telah Merasakan nilai jasmani tertinggi se-Polda Metro Jaya. Ia juga Merasakan nilai kesamaptaan mencapai 93,20.
Sebagai Kandidat taruna (catar) pengiriman Polda Metro Jaya, Hafiz mengaku semangat Bersama nilai-nilainya. Ia fokus mengejar cita-citanya menjadi perwira polisi, seperti ayahnya.
Hafiz mengaku tekadnya begitu kuat Sebab melihat sang ayah bertugas Menyediakan konseling dan pendampingan psikologis kepada Kelompok. Ia menilai ayahnya sebagai sosok yang pantang menyerah yang terus Membuat diri.
“Lihat ayah suka menangani korban bencana dan Menyediakan konseling, saya melihat pekerjaannya sangat mulia Sebab menolong orang yang Di kesusahan. Ayah saya bintara, tapi sekolah terus sampai S3,” cerita Hafiz bangga.
“S1 dan S2 Ilmu Psikologi, S3 Ilmu Kepolisian. Sekarang Ayah berpangkat AKBP, dinas Di Polda Jatim,” tambahnya.
(faz/twu)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Sudah Lolos Kedokteran Unair, Siswa ini Tetap Kejar Mimpi Sebagai Menjadi Polisi











