Edu  

Skor PISA 2025 Disorot, Pakar Unair Ungkap Masalah Belajar Indonesia



Jakarta –

Programme International Student Assessment (PISA) 2025 yang dirilis awal September 2026 lalu merupakan penilaian internasional Sebagai mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun Di bidang membaca, matematika, sains dan ditambah satu asesmen Terbaru yaitu computational problem solving (CPS).

Hasil penilaian tersebut dapat Menyediakan gambaran mengenai kinerja sistem Belajar masing-masing Negeri. Data PISA juga memungkinkan adanya perbandingan secara internasional dan menjadi salah satu bahan Untuk pemerintah serta pembuat Keputusan Di merumuskan langkah Sebagai memperbaiki sistem Belajar.

Studi ini diselenggarakan Dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) atau Organisasi Sebagai Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi. OECD merupakan organisasi antarpemerintah yang Memperoleh 38 Negeri anggota, yang sebagian besar merupakan Negeri maju.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hasil skor PISA 2025 Indonesia hampir sama Didalam periode Sebelumnya yaitu 2022. Matematika Didalam 364 Skor (turun 2 Skor), membaca 365 Skor (naik 7 Skor Didalam 2022), dan sains 389 (naik 6 Skor). Ke Pada Yang Sama CPS yang menjadi asesmen Terbaru Ke periode ini, menjadi yang tertinggi Didalam 427 Skor.

Asesmen ini melibatkan 14.168 siswa Didalam 419 sekolah Ke seluruh penjuru Indonesia. Jumlah ini diperkirakan mewakili 3.995.000 Penduduk Dunia siswa berusia 15 tahun.

Skor PISA 2025 Cerminan Belajar Indonesia?

Kendati terdapat kenaikan Di hal skor PISA 2025 bidang sains dan membaca, secara keseluruhan sistem Belajar Ke Indonesia masih belum bisa mengatasi tantangan yang ada.

Secara Internasional, Indonesia berada Ke Pangkat yang cukup rendah mengenai hasil skor PISA 2025. Ke Asosiasinegara-Negaraasiatenggara sendiri, Indonesia menempati Pangkat 6 Didalam 8 Negeri yang mengikuti survei ini.

Guru besar Sosiologi Belajar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Dr Tuti Budirahayu Dra Msi, rendahnya skor PISA Menunjukkan Keputusan Belajar belum terintegrasi Didalam baik. Ke Di Itu, memperlihatkan lemahnya kemampuan Negeri Di mengatasi persoalan Belajar.

“Menurunnya skor PISA dapat dibaca sebagai stagnasi Mutu Belajar Ke Indonesia yang berlangsung Pada bertahun-tahun dan berkaitan Didalam ketidaksesuaian Keputusan Belajar. Ke Di Itu, siswa kini dihadapkan Ke kemajuan Keahlian komunikasi. Seperti media digital dan kecerdasan buatan (AI), yang memudahkan proses belajar. Tetapi juga dapat menurunkan semangat siswa Sebagai belajar secara serius dan mendalam,” tuturnya dikutip Didalam laman resmi kampus, Kamis (24/9/2026).

Ke Di Itu, ia menyoroti partisipasi lingkungan sosial yang belum optimal. Kepuasan tersebut mencakup peran orang tua, iklim sekolah, pemerintah, dan Komunitas Di menyediakan Pemberian, materi, serta pengetahuan yang bermakna Untuk peningkatan Mutu belajar siswa.

“Keluarga berperan Menyediakan Pemberian belajar kepada anak. Ke Pada Yang Sama, iklim belajar Ke sekolah perlu Merangsang siswa berpikir kritis, inovatif, dan kreatif Melewati kurikulum formal maupun kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) Sebagai membentuk siswa yang berkualitas,” katanya.

Selain keluarga dan Komunitas, Prof Tuti juga menyampaikan bahwa perubahan sosial dan Keahlian yang sangat pesat menimbulkan adanya penurunan Inspirasi siswa Sebagai belajar secara serius. Padahal, perubahan tersebut juga membawa kemudahan Untuk siswa Sebagai belajar.

Berdasarkan rekomendasi OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development), selaku penyelenggara PISA, terdapat beberapa rekomendasi Sebagai Memperbaiki Mutu Belajar. Seperti misalnya pemerataan akses, fasilitas, dan sarana pembelajaran, terutama Ke Daerah terpencil, terluar, terdalam, dan terisolasi.

“Proses pembelajaran baik Ke kelas maupun Ke sekolah, seharusnya Memusatkan Perhatian Ke aspek-aspek dasar seperti kemampuan berpikir kritis, literasi keuangan digital, dan pemecahan masalah yang kolaboratif. Ke Di Itu, transformasi kurikulum, Perkembangan model-model pembelajaran yang responsif dan inovatif, serta pemerataan akses dan fasilitas belajar Ke Indonesia harus menjadi prioritas,” tutup sang guru besar.

(pal/pal)

Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Skor PISA 2025 Disorot, Pakar Unair Ungkap Masalah Belajar Indonesia

nagabet76slot gacorslot online slot gacor terpercaya
server slot thailand
slot gacor mudah maxwin
nagabet76 login
situs slot gacorbr