Jakarta –
Perdana Pembantu Presiden Pembantu Presiden (PM) Malaysia Datuk Tanpapemenang Anwar Ibrahim dan Perdana Pembantu Presiden Pembantu Presiden Singapura Lawrence Wong bertemu Ke Pertemuan Pemimpin Singapura-Malaysia Ke-12 Ke Kamis (4/12/2025) lalu. Di pertemuan tersebut, PM Malaysia dan PM Singapura, beserta para delegasi kedua Negeri, sama-sama mengenakan batik.
Dilansir Di The Straits Times, ini merupakan kali kedua pemimpin kedua Negeri tetangga bertemu Bersama mengenakan batik. Sebelumnya, Ke 2023, PM Singapura Pada itu, Lee Hsiong Loong dan PM Malaysia Anwar Ibrahim juga bersama-sama mengenakan batik Ke konferensi pers pertemuan mereka.
Ke Di Itu, Pada 10 tahun terakhir, para diplomat dan pemimpin Negeri tersebut biasanya mengenakan setelan jas gelap khas Barat Ke pertemuan sejenis. Pertemuan akhir tahun ini menjadi kontras, Bersama perwakilan kedua Negeri mengenakan Busana wastra Lokasi, termasuk macam-macam Busana Di batik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenapa Pertemuan Pemimpin Malaysia-Singapura Pakai Batik?
Ke konferensi pers pertemuan PM Malaysia dan PM Singapura kali ini, Lawrence Wong Mengungkapkan hubungan positif kedua Negeri Bersama semangat membangun dan saling menghormati. Sambil Anwar Ibrahim Mengungkapkan keduanya tidak berkonflik atas Permasalahan air kedua Negeri.
Dikutip Di Massachusetts Institute of Technology (MIT) Open Course Ware (OCW), Singapura mengimpor air Di Malaysia Dari merdeka Ke 1965. Sejumlah perjanjian memungkinkan Singapura Merasakan pasokan airnya Di sumber-sumber air Malaysia, yang Sebelumnya memicu sejumlah pertentangan tentang Syarat hingga harga.
Dosen Departemen Studi Melayu, National University of Singapore (NUS) Dr Azhar Ibrahim menjelaskan, mengenakan batik Ke pertemuan tertinggi kedua pemimpin Negeri bukan sekadar soal Tren dan Tren, tetapi juga simbol solidaritas regional dan hubungan Kebiasaan Global Di kedua Negeri.
Bersama bersama-sama mengenakan batik, menurutnya, muncul kesan keakraban dan saling paham, serta harmoni Melewati estetika Kebiasaan Global Nusantara Di konteks yang lebih luas. Ia mengatakan, Nusantara sendiri Di istilah Jawa kuno dipakai Untuk merujuk Ke Daerah kepulauan Indonesia dan kepulauan Melayu yang lebih luas.
“Menggunakan ‘semesta Kebiasaan Global batik’ sebagai Pada Di Hubungan Luar Negeri kita seperti bahasa bersama, baik Di bentuk tulisan maupun gaya,” kata Azhar.
“Ini adalah isyarat persaudaraan Kebiasaan Global dan titik Ke mana kita dapat berkumpul, terlepas Di perbedaan,” imbuhnya.
Azhar mengatakan, para petinggi Singapura kini juga mulai mengenakan batik Ke Peristiwa-Peristiwa resmi, pertemuan regional, serta inisiatif resmi dan publik.
“Dunia Kebiasaan Global batik Ke dasarnya adalah Kejadian Luar Biasa Terbaru, Ke era Negeri-bangsa membangun dan mengaitkan identitas mereka.”
Batik sebagai Simbol Menjaga Hubungan
Pengusaha batik Baju by Oniatta dan pendiri Galeri Tokokita, Oniatta Effendi, mengatakan hubungan Singapura Bersama batik sendiri bersifat relasional. Kendati tidak punya garis keturunan pengrajin atau komunitas pengrajin batik beserta workshop-nya, tetapi asal-usul Di Nusantara warganya mendukung hubungan Singapura Bersama batik.
“Banyak Ke Di kita membawa akar diaspora Di kepulauan ini, dan batik tertanam Di ingatan hidup kita,” ucapnya.
Pada pemimpin Singapura mengenakan kain tersebut, menurutnya, mereka menyimbolkan pemahaman tentang warisan Kebiasaan Global pembentuk kawasan Nusantara dan memilih Untuk menjaga hubungan Bersama kawasan tersebut Bersama penuh hormat.
“Baik Ke seorang pemimpin maupun orang biasa, batik menjadi pesan tentang literasi Kebiasaan Global, martabat, dan rasa Memperoleh Lokasi,” ungkapnya.
(twu/faz)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: PM Malaysia-Singapura Bertemu, Kenapa Bareng Pakai Batik?











