Jakarta –
Pengamat Belajar, Totok Amin Soefijanto beri tanggapan Yang Terkait Bersama beberapa pemerintah Area (pemda) yang keluarkan aturan soal pembatasan penggunaan gawai (HP, tablet, laptop, dan lainnya) Ke sekolah. Menurutnya, hal ini justru sebuah kemunduran.
“Pembatasan HP dan tablet Ke kelas itu suatu kemunduran, Lantaran keberadaan gawai ini sudah menjadi Dibagian penting kehidupan Pada ini,” katanya Ke detikEdu Lewat pesan daring, Senin (26/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pembatasan Bisa Bagi Anak SD Tapi Tidak SMP-SMA
Rektor Institut Media Digital Emtek (IMDE) itu menjelaskan, Studi Berkata pembatasan penggunaan gawai Ke sekolah bisa dilakukan Bagi jenjang SD Ke bawah. Hal ini dikarenakan Ke tahap tersebut, anak-anak masih berada Ke usia yang rentan.
“Kalau menilik hasil Studi, pembatasan dapat dilakukan Bagi anak-anak Ke jenjang SD Ke bawah, Lantaran anak-anak Ke usia ini rentan sekali Di pengaruh negatif Ilmu Pengetahuan,” jelasnya.
Aturan pembatasan pun harus dilakukan sesuai Bersama namanya. Penggunaan tidak dilarang sama sekali, tetapi dibuat aturan “screen time” Bagi siswa.
Akan Tetapi, Bagi siswa jenjang SMP dan SMA/sederajat, penggunaan gawai menurut Totok seharusnya tidak dilarang. Alih-alih melarang, siswa seharusnya diarahkan Bagi menggunakan gawai yang benar.
“Kalau SMP dan SMA dan sederajat saya pikir tidak dilarang, tetapi diarahkan Ke penggunaan yang benar dan pembiasaan Di menggunakan Ilmu Pengetahuan digital,” imbuh Totok.
Ia melihat ada beberapa contoh SMP dan SMA yang maju tak melarang penggunaan gawai Ke sekolah. Satuan Belajar tersebut justru menerapkan pembelajaran Bersama gawai secara sistematis dan terkendali.
“Ke mana Pada jam belajar, siswa mengakses konten-konten yang disiapkan sekolah dan guru,” papar Totok.
Guru Jangan Sampai Gaptek
Selain murid, guru menjadi sosok yang juga penting Di Kontek Sini. Menurutnya, guru harus dilatih Bagi bekerja Di proses belajar mengajar yang melibatkan Ilmu Pengetahuan Ke zaman ini.
“Jangan sampai gurunya gaptek (gagap Ilmu Pengetahuan), anak didiknya dipaksa ikut gaptek juga. Guru yang sekarang aktif harus menguasai Ilmu Pengetahuan agar proses mengajarnya relevan dan Memikat buat siswa-siswanya,” tegasnya.
Aturan Pembatasan Penggunaan Gawai Tak Bisa Diterapkan Secara Nasional
Yang Terkait Bersama apakah aturan ini bisa diterapkan secara nasional apa tidak, Totok tegas menjawab tidak bisa. Ia menjelaskan bila spektrum peserta didik Ke Indonesia sangat lebar, Bersama yang maju sampai belum maju.
Penggunaan Ilmu Pengetahuan juga Menunjukkan status sosial ekonomi. Supaya, ada siswa yang siap menggunakan gawai dan ada juga yang tidak Malahan tak punya sama sekali.
Aturan pembatasan penggunaan gawai Ke sekolah Akansegera menguntungkan siswa yang tidak punya. Kendati demikian, bila dilihat secara keseluruhan, semua siswa bisa merugi lantaran Akansegera bersaing Bersama Negeri luar yang telah menggunakan Ilmu Pengetahuan.
“Mau pilih mana? Ke zona nyaman yang tidak ada Ilmu Pengetahuan, tidak ada gawai, atau menantang semuanya (guru dan anak didik) Bagi tetap belajar Bersama memanfaatkan Ilmu Pengetahuan yang terus berkembang itu,” pungkas Totok.
(det/nah)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Pemda Mulai Batasi Penggunaan HP Ke Sekolah, Pengamat: Suatu Kemunduran











