Jakarta –
Selain momen bersilaturahmi, Lebaran juga identik Di hidangan yang melimpah. Hal ini biasanya dilakukan Untuk menjamu dan menghormati tamu yang datang. Meski niatnya baik, Kebiasaan ini juga dapat menimbulkan lonjakan sampah Hidangan.
Trend Populer tersebut disoroti Dari dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, Dr Meti Ekayani. Menurutnya, tujuan baik memuliakan tamu Di menyediakan hidangan melimpah bisa justru mengakibatkan pemborosan Hidangan.
“Kalau ditanya penyebabnya, sebenarnya ada dua hal, Kebiasaan Global konsumsi Komunitas dan sistem pengelolaan sampah yang belum efektif,” ucapnya dikutip Di laman resmi IPB University Ke Rabu (25/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kebiasaan: Tidak Sopan Jika Hidangan Kurang
Kebiasaan Global yang telah lama tertanam Ke sebagian besar Negeri Asia dan Timur Ditengah adalah, tidak sopan jika hidangan yang disiapkan kurang Untuk tamu. Sambil, menyediakan Hidangan berlebih ujung-ujungnya bisa justru mubazir. .
“Kita cenderung tidak mau Dikatakan tidak sopan kalau Hidangan kurang. Dari Sebab Itu lebih baik dilebihkan. Padahal sering kali akhirnya tidak habis,” tuturnya.
Kebiasaan ini juga diperburuk Di kurangnya Pendesainan konsumsi Ke tingkat Tempattinggal tangga. Banyak keluarga yang memasak dan menyajikan Hidangan melebihi jumlah anggota yang benar-benar makan Ke Tempattinggal.
“Misalnya Ke Tempattinggal ada lima orang, tapi ternyata tiga orang berbuka puasa Ke luar. Akhirnya Hidangan yang sudah disiapkan menjadi berlebih,” tuturnya.
Misalnya Pada Ramadan, banyak orang yang memilih buka puasa Ke luar Sambil sudah telanjur disiapkan masakan Ke Tempattinggal. Hal tersebut biasanya terjadi Sebab lapar mata Pada melihat Hidangan begitu enak dan terdorong Untuk membeli, tapi tidak dimakan.
“Sering kali kita merasa semua Hidangan terlihat enak Pada membeli. Tapi ketika waktunya makan, ternyata tidak habis,” ungkapnya.
Pengelolaan Sampah yang Belum Efektif
Peningkatan sampah Hidangan atau food waste Pada Lebaran bukan hanya berakhir Ke pemborosan Hidangan, tapi juga timbunan sampah kota. Apalagi sistem pengelolaan sampah Indonesia yang belum efisien Di mengatur Komunitas Untuk menekan jumlah sampah Di sumbernya.
“Pengelolaan sampah kita masih didominasi sistem kumpul,angkut-buang. Berapa pun sampah yang dihasilkan, iurannya sama. Dari Sebab Itu tidak ada insentif Untuk Komunitas Untuk Mengurangi sampah,” jelasnya.
Situasi ini berbanding terbalik Di sistem Ke luar negeri yang sampahnya telah diolah Ke tingkat Tempattinggal tangga. Iuran sampah Ke sana berbeda tiap rumahnya, yakni sesuai Di jumlah sampah yang dihasilkan.
Terlebih Komunitas Indonesia belum terbiasa Untuk memilah sampah Sebelumnya membuangnya. Hal ini Lebih merugikan Sebab sampah basah Di sisa Hidangan, dapat merusak sampah kering seperti Alattulis dan plastik yang masih punya nilai ekonomi dan dimanfaatkan kembali.
“Kalau food waste tercampur Di sampah kering, yang tadinya masih bisa dijual atau didaur ulang Dari Sebab Itu tidak bisa dimanfaatkan lagi,” ujarnya.
Maka Di itu, perlu adanya perbaikan perilaku Komunitas Di Pendesainan konsumsi dan kebiasaan memilah sampah Tempattinggal tangga. Samping Itu, sampah basah sisa Hidangan juga dapat diolah menjadi kompos dan pakan maggot.
“Kalau food waste tidak bisa sepenuhnya dicegah, setidaknya bisa diolah. Di Cara Itu, kita tidak hanya Mengurangi sampah tetapi juga menciptakan manfaat Mutakhir Di limbah Hidangan,” pungkasnya.
Penulis adalah peserta magang Kemnaker.
(nah/nah)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Pakar Sorot Kebiasaan Global Konsumsi Ke RI, Kebiasaan Lebaran Bisa Picu Lonjakan Sampah Hidangan











