Jakarta –
Di dasarnya setiap orang tua menaruh harapan tinggi Di anak-anak mereka Sebagai tumbuh lebih baik. Tetapi, tak jarang para orang tua terlalu berambisi agar anak-anak mereka memenuhi ekspektasinya.
Psikolog klinis dan psikoanalis asal Amerika Serikat, Corinne Masur, Psy D, menyoroti bahwa orang tua perlu Memahami terlebih dahulu bahwa ekspektasi yang diberikan Ke anak tujuan dan dampaknya. Ekspektasi harus bisa tetap memberi ruang Untuk anak Sebagai menetapkan tujuan mereka, Lalu orang tua harus melihat dampaknya.
Ia menilai orang tua harus terus memahami anak-anak mereka. Jangan-jangan, ekspektasinya justru tidak membantu tumbuh kembang anak-anak mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Mungkin Saja kita perlu lebih sedikit memikirkan apa yang kita inginkan Untuk anak-anak kita dan lebih banyak memikirkan bagaimana membantu mereka,” katanya, seperti dikutip Untuk Psychology Today.
Menurutnya, hal yang lebih penting yakni bagaimana orang tua bisa berkomunikasi Didalam baik kepada anak. Misal ketika anak gagal, apa yang harus dilakukan agar anak tidak merasa sedih dan terlalu kecewa.
Maka itu, Masur mengusulkan beberapa pendekatan yang perlu dilakukan orang tua, Antara lain:
7 Langkah yang Perlu Dilakukan Orang Tua Sebagai Mendukung Anak
1. Tidak Membanding-bandingkan Anak
Dari usia bayi, Pada anak mulai belajar hal Mutakhir, hendaknya orang tua Menyediakan dorongan. Tetapi, tetap memperhatikan kenyamanan anak-anak tanpa membandingkan kemampuannya Didalam anak lain.
2. Fokus Memperhatikan Anak Sendiri
Perhatian yang terfokus Di anak sendiri, membantu orang tua lebih mengenal anak mereka Didalam baik.
3. Membuat Target Kecil Sebagai Melatih Anak
Setiap orang tua hendaknya membuat target-target capaian kecil Dari bayi Sebagai anak mereka, agar menghargai setiap perkembangannya. Seperti satu menit tambahan tengkurap, satu Alat Makanan Mutakhir, satu kata Mutakhir dan sebagainya.
4. Bantu Anak Sebagai Menoleransi Rasa Frustrasi
Pada anak kesulitan melakukan sesuatu, seperti Pada belajar berjalan, belajar huruf dan angka, alangkah baiknya orang tua berkata demikian “Ini sulit. Tapi tidak apa-apa. Kita Akansegera coba lagi nanti.”
Tanamkan Di benak anak-anak, bahwa rasa frustrasi adalah hal wajar Pada kesulitan, Sesudah itu jangan ragu Sebagai mencobanya lagi.
5. Periksa Kembali Ekspektasi Pribadi Orang Tua
Pada anak bertambah dewasa, orang tua harus mengecek ulang bagaimana ekspektasinya Pada anak mereka. Tetap konsisten Sebagai membuat target-target kecil, dan juga bantu anak Sebagai melakukan hal serupa.
Seperti, dibanding menargetkan nilai sempurna Di semua pelajaran, Mungkin Saja menambah waktu belajar Di Rumah jauh lebih ringan. Lantaran Untuk anak yang tidak Konsisten berlama-lama belajar Di Rumah, waktu 20 menit belajar adalah sebuah kemajuan dibanding Sebelumnya yang hanya bertahan 5 menit saja.
6. Menormalisasi Kegagalan
Tidak ada salahnya Sebagai menceritakan kegagalan pribadi orang tua Pada anak mereka sendiri. Ceritakan bagaimana reaksi mereka Pada Merasakan kegagalan. Mungkin Saja anak-anak dapat diceritakan tentang kisah-kisah kegagalan Untuk tokoh ternama. Pada anak-anak mendengarnya, mereka Akansegera merasa bahwa gagal adalah hal wajar, dan dapat terjadi Di siapa saja.
7. Membangun Komunikasi yang Baik Didalam Anak
Bercerita kisah kegagalan orang tua, serta betapa sulit dan frustrasinya mereka Pada itu. Lalu, arahkan anak-anak Sebagai beristirahat sejenak Pada Merasakan frustrasi, seperti Pada Berusaha Mengatasi soal matematika sulit atau Mungkin Saja kalah tanding basket. Lalu, dukung mereka Sebagai mengerjakan hal tersebut ketika rasa lelah dan frustrasi mulai cukup reda.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker Di detikcom.
(sls/faz)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Orang Tua Jangan Menaruh Ekspektasi Di Anak! Psikolog Beri Saran Ini











