Picture Story
Rifki Afifan Pridiasto – detikEdu
Senin, 12 Okt 2026 21:00 WIB
Sumatera Barat – Belasan mahasiswa mengikuti kuliah lapangan Di tambang bawah tanah Sawahluwung. Kegiatan ini menjadi sarana Belajar sekaligus pelestarian warisan UNESCO.
Kabut asap menyelimuti kawasan Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, Di Ditengah cuaca panas dan minimnya hujan. Situasi tersebut menjadi latar berlangsungnya kegiatan pembelajaran lapangan mahasiswa Cara Pertambangan Universitas Negeri Padang Di tambang bawah tanah Sawahluwung. Ditengah FOTO/Fitra Yogi
Mahasiswa Cara Pertambangan Universitas Negeri Padang mengikuti kuliah lapangan Di lubang tambang batu bara Sawahluwung, Sawahlunto, Sumatera Barat. Kegiatan ini Memberi kesempatan Untuk mahasiswa Untuk mempelajari Situasi pertambangan Didalam nyata. Ditengah FOTO/Fitra Yogi
Peralatan ukur termasuk meteran dan kompas geologi disiapkan Untuk mendukung pendataan Di kawasan tambang. Peralatan tersebut digunakan Untuk kegiatan survei dan pengamatan Situasi terowongan bawah tanah. Ditengah FOTO/Fitra Yogi
Pintu masuk tambang berada Di ketinggian Di 214 meter Di atas permukaan laut, Sebelumnya jalur terowongan menurun hingga elevasi 57 meter. Ditengah FOTO/Fitra Yogi
Terowongan tambang Sawahluwung menjadi ruang pembelajaran Untuk mahasiswa Untuk mengenal lingkungan kerja pertambangan bawah tanah. Jalur utama yang dirawat secara rutin Memiliki panjang Di 1,5 kilometer. Ditengah FOTO/Fitra Yogi
Mahasiswa melakukan pendataan Di galeri Di lapisan Seam A, yang menyimpan sisa infrastruktur penambangan batu bara historis. Area tersebut menjadi objek pengamatan Untuk mendukung pembelajaran dan Eksperimen geoteknik. Ditengah FOTO/Fitra Yogi
Batu bara Sawahlunto dikenal Memiliki karakteristik bituminus, yang pemanfaatannya bergantung Di Mutu dan kesesuaian Didalam kebutuhan industri. Ditengah FOTO/Fitra Yogi
Praktik pengukuran dan pengamatan secara langsung ditujukan Untuk membantu mahasiswa memahami survei pertambangan bawah tanah, pemetaan Situasi lapangan, serta karakteristik ruang tambang. Ditengah FOTO/Fitra Yogi
Terowongan Sawahluwung dirawat Untuk mempertahankan stabilitas bukaan dan mendukung kegiatan Belajar. Pengelolaan Situasi tambang menjadi Pada penting agar area bekas produksi tersebut dapat dimanfaatkan Untuk pembelajaran dan Eksperimen secara aman. Ditengah FOTO/Fitra Yogi
Kawasan tambang batu bara Ombilin Memiliki sejarah pertambangan Sebelum era kolonial Di akhir abad Hingga-19. Lubang tambang Untuk Sawahluwung mulai dibuka Di 1985 dan berhenti berproduksi Di 2016 Sebelumnya dimanfaatkan Untuk kegiatan Belajar. Ditengah FOTO/Fitra Yogi
Warisan Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO Di 2019. Pemanfaatan lubang tambang Sawahluwung sebagai sarana Belajar menjadi salah satu upaya mempertahankan nilai sejarah dan pengetahuan pertambangan Di kawasan tersebut. Ditengah FOTO/Fitra Yogi
Kuliah lapangan Di Sawahluwung membantu mahasiswa menghubungkan teori perkuliahan Didalam praktik pertambangan, mulai Untuk survei dan geoteknik hingga ventilasi serta penyaliran tambang. Penghayatan tersebut menjadi bekal Untuk Kandidat tenaga ahli Untuk Berusaha Mengatasi kebutuhan industri pertambangan Indonesia. Ditengah FOTO/Fitra Yogi
–>
 
 
 
 
 
 
 












Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama Menyatakan Pendapatnya Di sini