Jakarta –
Dana Langkah Makan Bergizi Gratis (MBG) Bagi 2026 telah ditetapkan sebesar Rp 335 triliun. Dana ini disalurkan Bagi memenuhi kebutuhan gizi siswa Pada sekolah. Akan Tetapi, bagaimana penyaluran Dana MBG Pada siswa libur sekolah?
Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Usaha, Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr R Agus Sartono, MBA, menyoroti keterserapan Dana MBG Bagi sasaran siswa. Ia menjelaskan bahwa Dana Rp 335 triliun, kebutuhannya dipenuhi Untuk sektor Pembelajaran sebesar Rp 223,6 triliun, Lalu Untuk dana cadangan Rp 67 triliun.
Sambil dana sektor Kesejaganan Bagi bumil dan balita sebesar Rp 24,7 triliun dan dana sektor ekonomi sebesar Rp 19,7 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Muncul pertanyaan, apakah dana tersebut semua Berencana dapat terserap? Coba kita lihat lebih detail khusus Bagi sasaran siswa baik sekolah madrasah maupun pesantren. Data Dapodik (Data Pokok Pembelajaran) Menunjukkan bahwa jumlah siswa Kandidat penerima manfaat diperkirakan sebesar 55,28 juta siswa. Sekarang mari kita cermati berapa kebutuhan dana Untuk satu tahun pemerintah menetapkan cuti bersama dan libur nasional tiap tahun katakan Pada 26 hari,” ungkapnya Untuk keterangan tertulis yang diterima detikEdu, Jumat (19/12/2025), ditulis Sabtu (20/12/2025).
Bagaimana Dana MBG Jika Dihitung Tanpa Hari Libur?
Agus menghitung, Untuk satu tahun terdapat 52 akhir pekan, Agar total hari Sabtu dan Minggu ada 104 hari. Sambil libur sekolah Ke Januari, Juli/Agustus dan akhir tahun diperkirakan 40 hari.
“Karena Itu Untuk satu tahun hari efektif siswa masuk sekolah adalah Pada 360 hari minus 170 hari, Karena Itu tinggal 190 hari,” jelasnya.
Di Prakiraan hari efektif siswa masuk sekolah Pada 190 hari, maka kebutuhan dana MBG Pada 2026 Bagi penerima manfaat siswa sekolah dan pesantren diperkirakan hanya 190 x Rp 15.000 x 55,28 juta siswa, yakni sebesar Rp157,55 triliun. Di catatan, MBG dapat direalisasikan Bagi menjangkau seluruh siswa 55,28 juta.
“Sangat tidak rasional jika Dana MBG dihitung Pada 360 hari sekolah,” tambah Agus.
Bagaimana Penyaluran MBG Pada Anak Libur Sekolah?
Agus juga mempertanyakan bagaimana MBG Berencana diserap dananya dan bagaimana penyaluran Ke siswa yang tak masuk sekolah Pada periode liburan.
Badan Gizi Nasional (BGN) menerangkan bahwa penyaluran MBG tetap dilakukan Ke sekolah meski libur. Penyalurannya Berencana dilakukan Di mekanisme 2 minggu sekali atau tetap setiap hari Di siswa Memutuskan Ke sekolah.
Berkaca Ke liburan semester genap Juni-Juli 2025 lalu, setiap sekolah diminta mendata siswa yang mau Memutuskan MBG Ke sekolah Pada liburan. Bagi yang tidak bersedia datang, maka tidak ada jatah MBG.
Mekanisme pemberian MBG Pada liburan, dinilai tidak tepat. Terlebih jika nanti ada potensi MBG Untuk bentuk Konsumsi kering.
“Sangat tidak tepat jika Pada 190 hari anak-anak tidak sekolah, MBG tetap diberikan Untuk bentuk Konsumsi kering. Hal ini Berpeluang terjadinya pemborosan Dana MBG dan justru menyimpang Untuk ide awal Menyediakan Konsumsi bergizi,” ujar Deputi Bidang Pembelajaran dan Agama, Kemenko Kesra/PMK 2010-2021.
“Terlebih jika dipaksakan Pada libur sekolah anak-anak harus Memutuskan MBG Ke sekolah menimbulkan banyak persoalan,” imbuh Agus.
Jika Di skema pengambilan Ke sekolah, lanjutnya, anak Berencana kehilangan waktu liburannya. Ke Di Itu, orang tua juga akhirnya harus mengantar anak Ke sekolah hanya Bagi Memutuskan jatah MBG.
Menurut Agus, Untuk segi biaya dan waktu yang harus dikeluarkan anak dan orang tua, kurang bisa dibenarkan mekanisme MBG Pada liburan. Terlebih, orang tua akhirnya bisa kesulitan memanfaatkan waktu liburan sekolah bersama keluarga.
“Padahal keluarga sangat memerlukan (liburan) guna membangun ikatan keluarga yang lebih baik. Yaitu pemberian MBG Pada libur sekolah Berpeluang menimbulkan distorsi dan kebocoran Dana yang sangat besar,” ungkapnya.
Ada Potensi Kelebihan Dana
Berkaca Di perhitungan ini, Agus menyebut BGN Bisa Jadi tidak mampu menghabiskan seluruh dana tersebut.
“Karena Itu ada ‘potensi kelebihan dana MBG Untuk sektor Pembelajaran; yang tidak dapat diserap sebesar Rp 223,6 triliun minus Rp 157,55 triliun, yakni sebesar Rp 66,05 triliun. Potensi ini belum termasuk dana MBG Bagi ibu hamil dan balita,” katanya.
Agus menekankan, peran BGN dan Bappenas menjadi sangat penting Bagi menghitung dan mendesain implementasi Langkah MBG agar lebih cermat lagi. Ia menilai Langkah MBG sangat bagus, maka itu desain implementasinya harus cermat, agar tidak menimbulkan persoalan Ke Lalu hari dan menjadi tidak efektif.
“Langkah MBG tetap bisa berjalan, Sambil potensi kelebihan dana MBG dapat dioptimalkan. Tidak kalah penting perlu dipastikan agar Langkah MBG per siswa Rp 15.000 tiap hari, tetapi realisasinya jauh Ke bawahnya,” ungkap Agus.
Potensi Kelebihan Dana Bisa Bantu Penanganan Genangan Air Sumatera
Dosen FEB UGM tersebut menilai, potensi kelebihan Dana MBG Untuk sektor Pembelajaran ini dapat dimanfaatkan Bagi membantu penanganan bencana Ke Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Daerah lain. Ini termasuk Bagi membangun infrastruktur sekolah yang rusak berat.
Ia mengatakan, kemampuan penyerapan Dana pemerintah harus lebih realistis, terlebih Ke Pada terjadi bencana yang memerlukan penanganan mendesak.
“Ingat bahwa the devil is in the details dan kita semua perlu memastikan agar pemanfaatan dana yang dihimpun Melewati Pajak Lainnya Di susah payah direalisasikan Di tepat,” tegas Agus.
Ia menyarankan, dana cadangan juga bisa dialihkan Bagi pemberian Pemberian tunai pasca tanggap darurat. Terutama simpul kritis yang perlu langkah cepat seperti pemetaan infrastruktur Pembelajaran yang memerlukan relokasi, penentuan lokasi Terbaru hingga relokasi hunian tetap penduduk.
“Hal itu penting agar Setelahnya dibangun, penduduk tidak memerlukan biaya yang besar Bagi Memperoleh layanan Pembelajaran. Semoga saudara kita yang terkena musibah tetap diberikan ketabahan dan memperoleh Pemberian agar dapat kembali menjalani kehidupan normal kembali. Semoga pemikiran yang sederhana ini dapat membantu mengatasi pendanaan Ke masa sulit,” pungkasnya.
(faz/nwk)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: MBG Tetap Berjalan Pada Libur Sekolah, Pakar UGM Ingatkan Potensi Kebocoran Dana











