Jakarta –
Rasa tidak nyaman hingga tekanan atau Tekanan Pada memasuki masa kuliah bukan hal yang jarang terjadi Ke mahasiswa Mutakhir. Situasi ini juga dapat dirasakan Bagi mahasiswa ongoing atau yang telah Mengadaptasi Ke semester-semester Sebelumnya.
Dosen sekaligus psikolog Layanan Psikologi Universitas Hasanuddin (Unhas), Syarifa Nadhrah Mustamin MSi MPsi Psikolog, mengatakan Tekanan dapat dialami mahasiswa Pada Berjuang Bersama Permintaan akademik, proses adaptasi perkuliahan dan pertemanan, maupun persoalan pribadi seperti Topik Bersama keluarga. Tekanan juga merupakan respons yang wajar Pada tekanan.
Ia menambahkan, Tekanan juga tidak selalu menjadi pertanda adanya gangguan Kesejajaran mental. Penting menurutnya Sebagai melihat kembali kemampuan individu Untuk mengenali dan mengelola tekanan Pada dirinya masing-masing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, kapan Tekanan perlu Merasakan perhatian tenaga ahli?
Perhatikan Tanda Kewalahan
Nadhrah mengatakan, penting Sebagai menghubungi tenaga ahli Pada mahasiswa mulai merasa kewalahan Berjuang Bersama Tekanan, kesulitan menentukan prioritas, atau tidak mampu mengelola beban yang dihadapi hingga memengaruhi Keadaan psikologisnya.
Ia menjelaskan, Pemberian sosial dan layanan psikologis Untuk tenaga ahli dapat membantu mahasiswa memahami serta Berjuang Bersama tekanan yang dialaminya.
Burnout
Salah satu tanda yang perlu disoroti yaitu burnout, Situasi kelelahan yang berkaitan Bersama tekanan berkepanjangan, termasuk tekanan akademik.
Nadhrah menjelaskan, burnout tersebut dapat muncul ketika mahasiswa Berjuang Bersama Permintaan perkuliahan yang sulit dikelola, terutama Ke masa peralihan Untuk Belajar sekolah Di perguruan tinggi.
Ke masa adaptasi, menurutnya, mahasiswa Mutakhir kerap Berjuang Bersama tantangan Sebagai menyesuaikan diri Bersama pola pembelajaran yang menuntut kemandirian lebih tinggi.
“Kalau Yang Terkait Bersama Bersama akademik, tentu pertama itu burnout biasanya. Banyak yang burnout, terlalu kaget sama, misalnya mahasiswa Mutakhir kaget sama Adat Istiadat Dunia universitas yang terlalu banyak tugasnya, yang harus banyak mandiri,” jelas Nadhrah Untuk Unhas TV, dikutip Selasa (13/10/2026).
Memasuki tingkat akhir studi, risiko burnout masih dapat muncul. Contohnya Ke masa penyusunan skripsi, yang mengharuskan mahasiswa mengatur jadwal bimbingan dan menyelesaikan Eksperimen secara mandiri.
Faktor Pemberat Tekanan Psikologis
Selain Permintaan akademi tersebut, ia menyoroti faktor persoalan keluarga, Penghayatan kehilangan, maupun kesulitan pribadi yang dapat menambah tekanan psikologis. Faktor-faktor tersebut menurutnya dapat saling berkaitan. Hal inilah yang membuat Penghayatan Tekanan setiap mahasiswa dapat berbeda-beda.
Evaluasi Diri Pada Kewalahan
Nadhrah mengingatkan, mahasiswa perlu mulai Menilai Situasi diri Pada merasa kewalahan (overwhelmed), kesulitan menentukan pekerjaan yang harus diprioritaskan, atau merasa tidak mampu mengatur berbagai tanggung jawab.
Sebagai langkah awal penanganan Tekanan, ia menyarankan agar mahasiswa merunutkan prioritas dan mengelola waktu.
“Atur waktu, bikin skala prioritas, jangan semuanya mau diambil,” tuturnya.
Lalu, ia mengingatkan agar mahasiswa yang Tekanan Sebagai menjaga hubungan sosial dan punya ruang Sebagai menyampaikan persoalan yang ia hadapi. Opsi mencari Pemberian sosial ini contohnya seperti Ke teman sebaya dan dosen pembimbing akademik.
Jika Tekanan atau tekanan Lebihterus sulit dikelola, Nadhrah mengimbau mahasiswa Sebagai tidak ragu meminta Pemberian tenaga profesional.
Bercerita dan memperoleh respons yang empatik menurutnya dapat bantu mahasiswa mengurai beban emosional yang Sebelumnya terpendam.
Konseling Bersama Tenaga Profesional
Ke Unhas sendiri, ia mencontohkan, Layanan Psikologi Ke bawah Perpustakaan Pusat Unhas bisa dimanfaatkan juga secara gratis Bersama dosen dan tenaga kependidikan yang memenuhi Syarat universitas.
Nadhrah menuturkan, ia dan rekan-rekan Di lain Menyediakan layanan konseling dan psikotes. Ke Pada konseling, mahasiswa bisa punya ruang Sebagai didengarkan Bersama empati dan tanpa dihakimi, sambil dibantu Untuk memahami Situasi yang Lagi ia hadapi.
Ia menggarisbawahi, konseling tidak selalu menghasilkan penyelesaian masalah secara langsung. Seseorang yang Lagi konseling juga tidak harus langsung menemukan jawaban atas seluruh persoalannya.
Psikolog maupun konselor Untuk Kontek Sini berperan Untuk Menyediakan pendampingan agar individu dapat memahami persoalan, mengelola Penghayatan emosional, serta Mengkaji opsi langkah tindak lanjut secara lebih jernih.
Tepis Stigma Hingga Psikolog-Psikiater
Atas manfaat tersebut, ia berharap agar mahasiswa tak abai Bersama Situasi Kesejajaran mentalnya Sebelumnya harusditangani ahli. Seperti halnya menjaga Kesejajaran fisik, perlu menurutnya Sebagai Menyediakan waktu Sebagai beristirahat, mengenali batas kemampuan diri, serta segera mencari Pemberian ketika diperlukan.
Ia mengakui masih ada stigma Ke orang yang mencari Pemberian ahli seperti Hingga
psikolog atau psikiater. Nadhrah menekankan, mencari Pemberian profesional merupakan tindakan yang wajar dan bukan kelemahan, serta orang yang sehat bukan berarti tidak Merasakan Tekanan.
Justru, menurutnya, kemampuan mampu mengenali Situasi diri, mengelola tekanan, serta mencari Pemberian ketika diperlukan adalah kemampuan penting Untuk menjaga Keadaan psikologis mahasiswa Di studi.
“Beranilah mencari Pemberian, Sebab mencari Pemberian itu adalah hal yang sehat, hal yang wajar,” pesannya.
(twu/pal)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Mahasiswa Tekanan Kuliah, Kapan Pada Mencari Pertolongan?











