Sekolah Ke Amerika Serikat (AS) kerap digambarkan Bersama deretan loker Ke lorong hingga pesta dansa menjelang kelulusan. Akan Tetapi, kehidupan pelajar Ke Negeri Paman Sam ternyata menyimpan banyak Penghayatan lain yang tak kalah Menarik Perhatian.
Hal itu dirasakan Fidelma Zahria Saputri, pelajar asal Jawa Timur yang pernah mengikuti Inisiatif Inisiatif Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (KL-YES) Ke AS Ke 2021 lalu. Penghayatan pertukaran pelajar tersebut memberinya kesempatan Sebagai mengenal sistem Pembelajaran, keberagaman Komunitas, hingga kebiasaan sehari-hari yang berbeda Untuk Indonesia.
Fidelma, yang kini menempuh Pembelajaran Ke jurusan Politik Luar Negeri Universitas Negeri Jember (Unej), ditempatkan Ke Worcester, Massachusetts. Menurutnya, lingkungan tempat tinggalnya Memperoleh keberagaman yang sangat terasa, Justru melampaui gambaran yang Di ini ia lihat Ke layar kaca.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Worcester banyak didatangi pendatang, Dari Sebab Itu tidak seperti Ke Netflix yang semuanya kulit putih. Sekarang Lokasi itu sangat beragam, termasuk teman-teman saya, Untuk latar Di ras dan Karya apa pun. Saya tidak hanya bersekolah Bersama orang bule, tetapi punya teman Untuk berbagai Negeri,” ujar kepada detikEdu, Jumat (23/10/2026).
Menyesuaikan Diri Bersama Sistem Sekolah Ke AS
Fidelma ditempatkan Ke salah satu sekolah negeri bernama Burncoat High School. Salah satu perbedaan yang dialaminya adalah jumlah mata pelajaran yang diambil. Jika Ke Indonesia siswa umumnya mengikuti Disekitar lima hingga enam mata pelajaran Untuk sehari, Ke sekolahnya Ke AS ia hanya Membahas empat mata pelajaran.
Waktu Ke luar kelas pun bisa dimanfaatkan Sebagai mengikuti kegiatan lain. Pilihan mata pelajaran Ke sekolah tersebut juga memberi ruang Bagi siswa Sebagai menyesuaikan pembelajaran Bersama minat masing-masing.
Fidelma, misalnya, memilih mata pelajaran 3D Design Sebagai mempelajari pembuatan keramik dan kerajinan tanah liat. Ia juga Membahas kelas paduan suara Sebab menyukai kegiatan bernyanyi.
Ia mengaku Menyambut keleluasaan memilih mata pelajaran yang benar-benar diminatinya Sebab statusnya sebagai peserta pertukaran pelajar. “Sebab saya tidak Akansegera lulus Ke sana dan guru-guru sudah tahu, saya dibebaskan memilih mata pelajaran yang benar-benar ingin saya ambil,” jelasnya.
Penghayatan mengikuti paduan suara Justru mempertemukannya Bersama Kearifan Lokal yang berbeda Untuk kebiasaan Ke Indonesia. Bersama anggota kelompoknya, Fidelma beberapa kali diminta bernyanyi Ke gereja ketika ada kerabat atau guru yang meninggal dunia.
Awalnya, ia sempat bertanya-tanya apakah dirinya boleh mengikuti kegiatan tersebut Bersama mengenakan hijab. Akan Tetapi, kekhawatirannya ternyata tidak terbukti.
“Kalau Ke sini (Indonesia) kita mengaji atau tahlilan, Ke sana kita bernyanyi. Awalnya saya bertanya-tanya apakah tidak apa-apa bernyanyi Ke gereja Bersama memakai hijab. Ternyata aman-aman saja,” ceritanya.
Perbedaan sistem Pembelajaran juga terlihat Untuk penentuan kelulusan. Menurut Penghayatan Fidelma, siswa Ke sekolahnya harus memenuhi sejumlah kredit atau credit yang disyaratkan agar bisa lulus. Matematika dan Aktivitasfisik termasuk mata pelajaran yang wajib diambil.
Sistem pembelajaran juga menerapkan moving class. Artinya, siswa harus berpindah ruangan setiap kali berganti mata pelajaran, bukan menunggu guru datang Hingga kelas yang sama.
Bagi Fidelma, pola tersebut sempat membingungkan Ke awalnya. Akan Tetapi, ia terbantu Dari siswa lain yang bersedia mendampingi peserta pertukaran pelajar.
“Awalnya saya bingung, tetapi ada siswa Ke sana yang membantu siswa pertukaran, dan kalau bingung saya tinggal bertanya,” katanya.
Ke kelas, Fidelma juga terbiasa menyampaikan pendapat ketika guru Merundingkan materi pelajaran. Ia merasakan bahwa keaktifan tersebut membuatnya memperoleh Nilai sekaligus lebih dikenal Dari para guru.
Penghayatan itu Sesudah Itu membuka kesempatan lain. Ia berpeluang mengikuti Inisiatif BUBW (Better Understanding for a Better World), sebuah konferensi yang diikuti pelajar Untuk berbagai Negeri dan Memperoleh proses seleksi tersendiri.
Salah satu persyaratannya adalah surat rekomendasi Untuk guru Ke AS. Fidelma menilai keterlibatannya secara aktif Di pembelajaran membuat para guru bersedia Memberi rekomendasi tersebut.
“Ke Amerika ada Inisiatif seperti BUBW, semacam konferensi yang diikuti pelajar Untuk Negeri-Negeri Ke seluruh dunia. Ada seleksinya dan butuh surat rekomendasi Untuk guru Ke Amerika. Sebab saya aktif dan mereka termotivasi, mereka Memberi surat rekomendasi Bersama sukarela. Itu alasan saya harus aktif,” tambahnya.
Ke Di Itu, sebagai seorang muslim, Fidelma juga perlu menyesuaikan diri agar tetap bisa menjalankan ibadah Ke Di Karya sekolah. Ia berkomunikasi Bersama konselor atau guru bimbingan konseling (BK) Sebagai meminta waktu Disekitar 10 menit Sebagai beribadah.
Keterbatasan fasilitas tempat wudu Ke sekolah membuatnya harus mencari cara sendiri. Ia pun membawa botol minum agar tetap dapat beribadah. Menurut Fidelma, Penghayatan itu mengajarkannya pentingnya komunikasi ketika berada Ke lingkungan Mutakhir.
“Semuanya berjalan lancar Sebab saya berkomunikasi. Kalau tidak bicara, orang tidak Akansegera tahu apa yang saya butuhkan. Dari Sebab Itu, komunikasi harus jalan,” jelasnya.
Bergabung Bersama Regu Sebagai Memperluas Pertemanan
Kehidupan sekolah Ke AS tak hanya berlangsung Ke Untuk kelas. Berbagai kegiatan ekstrakurikuler menjadi kesempatan Bagi Fidelma Sebagai mengenal lebih banyak orang dan membangun pertemanan.
Tidak semua kegiatan Aktivitasfisik dapat diikutinya Sebab sejumlah cabang Memperoleh jadwal yang menyesuaikan musim. Sebagai gantinya, ia aktif Untuk beberapa komunitas sekolah, seperti book club, student council, dan teater musikal.
Bagi Fidelma, Regu menjadi tempat yang efektif Sebagai membangun hubungan lebih Disekitar Bersama teman-temannya. Pertemuan yang berlangsung rutin membuat mereka Memperoleh lebih banyak waktu Sebagai berinteraksi dibandingkan ketika berada Ke kelas.
“Saya menjalin pertemanan Ke luar kelas, lewat Regu. Ke Regu kita bisa bertemu setiap hari sesuai jadwal Supaya pertemanannya bisa bertahan lama, sedangkan Ke kelas waktunya sedikit Sebagai sekadar mengobrol. Dari Sebab Itu saya tetap berteman Ke kelas, tetapi sahabat Disekitar saya ada Ke Regu atau ekstrakurikuler,” jelasnya.
Sambil Itu, interaksinya Bersama sesama peserta pertukaran pelajar asal Indonesia tidak terlalu intens. Fidelma biasanya berkomunikasi Bersama mereka Lewat media sosial.
Ia sengaja menjaga jarak agar tidak terlalu sering membandingkan Penghayatan masing-masing. Menurutnya, setiap peserta Memperoleh cerita dan tantangan yang berbeda Supaya perbandingan yang berlebihan justru Berpeluang memengaruhi Kesejajaran Emosional.
“Tetapi kalau terlalu sering, takutnya Dari Sebab Itu membanding-bandingkan (Penghayatan dan masalah sesama siswa Untuk Indonesia), dan itu tidak sehat Bagi mental kita. Penghayatan setiap peserta berbeda,” ungkapnya.
Sebelumnya berangkat Hingga AS, Fidelma juga Menyambut pesan Di mengikuti orientasi Ke Jakarta agar tidak memasang ekspektasi terlalu tinggi. Ia diminta membuka diri Pada Penghayatan Mutakhir dan tidak terpaku Ke gambaran tertentu tentang kehidupan Ke Negeri tujuan.
Nasihat tersebut menjadi salah satu pegangan Di menjalani Inisiatif. “Kalau datang Sebagai belajar hal Mutakhir, buka mata selebar Mungkin Saja dan jangan menutup diri. Hasilnya, setiap hari penuh kejutan dan semuanya luar biasa. Itu pelajaran terpenting saya.”
Ia juga terus mengingat pesan yang diterimanya Di proses seleksi: jangan Memperkenalkan Akansegera pergi Hingga Amerika Sebelumnya benar-benar duduk Ke Bangku pesawat. Sebab, berbagai kemungkinan masih bisa terjadi Sebelumnya keberangkatan.
Sastra Inggris Dari Sebab Itu Tantangan Terbesar
Inisiatif pertukaran pelajar ini tidak mensyaratkan peserta Memperoleh sertifikat kemampuan bahasa Inggris seperti IELTS. Sebagai keperluan seleksi, Bina Antarbudaya memfasilitasi ELTiS, yaitu tes kemampuan bahasa Inggris yang ditujukan Bagi pelajar sekolah menengah.
Meski telah menjalani persiapan, Fidelma tetap Berjuang Bersama tantangan ketika mengikuti pembelajaran Ke AS. Baginya, sastra Inggris menjadi mata pelajaran yang paling sulit Sebab menuntut pemahaman bahasa yang lebih kompleks daripada percakapan sehari-hari.
Salah satu tantangannya adalah Membahas puisi dan memahami penggunaan bahasa yang lebih formal. “Mungkin Saja yang paling sulit adalah pelajaran sastra Inggris, yang sangat linguistik, seperti Membahas puisi. Tetapi secara keseluruhan masih aman, Di kita mau mengenali batas kemampuan diri, me-review materi Sebelumnya masuk kelas, dan bertanya kepada teman kalau ada PR yang tidak dimengerti,” jelas Fidelma.
Ke sisi lain, ia menilai sistem penilaian guru cukup adil. Siswa yang tidak mengerjakan tugas Akansegera Merasakan nilai buruk dan dapat diminta mengulang atau menyelesaikan tugas tersebut. Akan Tetapi, berdasarkan pengalamannya, guru biasanya Memberi peringatan terlebih dahulu Sebelumnya Membahas langkah Bersama Detail.
Penghayatan Ke AS Memengaruhi Pilihan Kuliah
Penghayatan pertukaran pelajar juga memengaruhi cara Fidelma melihat minat dan Ide pendidikannya. Di masih Ke sekolah, ia Membahas jurusan IPA dan sempat berencana melanjutkan kuliah Ke bidang Metode.
Akan Tetapi, Sesudah menjalani Penghayatan belajar dan berinteraksi Bersama orang-orang Untuk berbagai latar Di Ke AS, ia merasa minatnya lebih Disekitar Bersama ilmu sosial.
“Sepulang Untuk Amerika saya bilang Hingga orang tua, ‘kayaknya IPA bukan Sebagai aku, aku IPS aja’. Dari Di itu Ke kelas XII saya Membahas peminatan IPS, dan fokus Hingga UTBK Soshum,” lanjutnya.
Keputusan itu Sesudah Itu mengantarkannya Hingga jurusan Politik Luar Negeri Ke Universitas Negeri Jember. Di ini, Fidelma tercatat sebagai mahasiswa semester tujuh.
Baginya, Penghayatan Ke AS tidak hanya Menampilkan kenangan tentang sekolah dan perayaan Kearifan Lokal Global. Inisiatif tersebut juga memberinya ruang Sebagai mengenali minat, Menyusun Kekuatan komunikasi, serta Merencanakan kembali pilihan masa depannya.
Pesan Sebagai Kandidat Peserta Pertukaran Pelajar
Fidelma menilai manfaat mengikuti Inisiatif pertukaran pelajar tidak hanya ditentukan Dari Prestasi lolos seleksi. Proses pendaftaran itu sendiri sudah menjadi kesempatan Sebagai belajar, mengenali kemampuan diri, dan memperoleh Penghayatan Mutakhir.
Sebab itu, ia berpesan agar Kandidat peserta tidak menganggap kegagalan Untuk seleksi sebagai akhir Untuk kesempatan Sebagai berkembang.
“Saya suka sekali kutipan yang mengatakan everything is a win when the purpose is to experience. Kalau kita menganggap semua ini sebagai Penghayatan, entah gagal, Mendominasi, sukses, atau mencoba lagi, maka itu sudah Kemenangannya. Saya bukan gagal, saya berpengalaman,” tegasnya.
Menurut Fidelma, setiap tahapan, mulai Untuk menyiapkan dokumen hingga menjalani wawancara, dapat menjadi bekal berharga Sebagai masa Di. Apa pun hasil akhirnya, proses tersebut tetap bisa membantu peserta mengenali diri sendiri dan Menyusun langkah berikutnya.
Halaman 2 Untuk 3
Simak Video “Video: Unjuk Rasa Mahasiswa RI Ke Tunisia Perkenalkan Indonesia Lewat Pameran Literatur“
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Kisah Fidelma Sekolah Setahun Ke AS, Ternyata Tak Seperti Ke Layar Lebar-Layar Lebar









