
Jakarta –
Sebuah klinik Hingga Desa Hoba Wawi, Kabupaten Sumba Barat ini sudah biasa dipenuhi antrean panjang. Nampaknya, antrean terjadi Lantaran keterbatasan tenaga medis.
Hapu Ammah, seorang pemuda asal Area itu memilih mengabdi Untuk klinik tersebut. Padahal ia adalah lulusan beasiswa LPDP Hingga University of Melbourne, Australia.
Ada banyak tawaran pekerjaan yang lebih baik Hingga luar sana, tetapi lelaki Bersama sapaan Endy tersebut memilih menetap Hingga kampungnya. Ia berdiri menjadi garda terdepan Di memberantas Penyakit malaria.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Hingga lima klinik malaria yang kami (Sumba Foundation) punya, hampir setiap hari selalu ditemukan pasien Bersama Penyakit Menyebar malaria,” katanya dikutip Di laman LPDP, Selasa (24/2/2026).
Berdasarkan data Annual Paracite Incidence (API) tahun 2025, Kabupaten Sumba Barat Daya menjadi Area penghasil Peristiwa Pidana malaria tertinggi Hingga-2 Hingga Indonesia. Pada tahun 2025, ada sebanyak 2.049 Peristiwa Pidana.
Perjalanan Endy Meraih Belajar
Kesempatan bersekolah Ke masa Endy kecil sangatlah sedikit. Justru, Hingga kampung asalnya tidak ada SMP Di itu.
Ia harus menumpang Hingga keluarga lain agar bisa menamatkan SMP-SMA. Karenanya, Endy sangat menghargai Belajar Lantaran baginya Untuk meraih itu tidak mudah.
“Untuk mau melanjutkan sekolah Hingga SMP, kita harus keluar Di Rumah dan pindah Untuk menumpang Hingga keluarga lain,” katanya.
Dari remaja, Endy telah memilih mimpinya Untuk mengabdi Untuk banyak orang. Dulu, ia memilih cita-cita sebagai guru.
Lulus SMA, Endy bingung lanjut kuliah Hingga mana Lantaran Hingga Sumba tidak ada kampus Bersama Inisiatif Belajar. Hingga sana hanya ada sekolah keperawatan yakni Akademi Keperawatan Waingapu.
“Akhirnya saya memilih sekolah keperawatan Lantaran satu-satunya sekolah yang ada Hingga Sumba Hingga tahun 2000 itu adalah sekolah keperawatan,” ujarnya.
Dari Sebab Itu Perawat dan Berantas Malaria
Setelahnya lulus, Endy bergabung Hingga Sumba Foundation, organisasi yang Menyediakan pelayanan Kesejaganan termasuk pengendalian malaria.
Ia bekerja Untuk menangani warga yang terkena malaria. Berbekal pengalamannya, Endy Lalu dipercaya sebagai Manajer Hingga Pusat Pelatihan Mikroskopis Malaria.
“Kami masih punya hutang Untuk terus memastikan ketersediaan tenaga mikroskopis yang mampu mendiagnosis malaria Bersama baik dan benar,” ujarnya.
Lanjut Studi Bersama Beasiswa LPDP Afirmasi
Kawan Endy dan pimpinan Hingga organisasi sangat berharap kemampuan Endy dimaksimalkan. Akhirnya, Endy memilih melanjutkan studi S2.
Endy pun mencoba Inisiatif Beasiswa Area Afirmasi LPDP. Tak langsung lolos, ia harus gagal tes IELTS terlebih dahulu sebanyak dua kali.
Ke 2023, ia lolos beasiswa Bersama tujuan kuliah Hingga University of Melbourne (Unimelb). Ternyata Endy bukanlah mahasiswa biasa.
Hingga sana ia dipercaya juga sebagai pembicara Hingga Rotary Club Melbourne. Ia menyampaikan materi tentang Peristiwa Pidana malaria Hingga kampung asalnya.
Pulang Hingga Tanah Air, Mengabdi Hingga Sumba
Di awal, ia Memperoleh tujuan pergi S2 Hingga Australia Untuk menimba ilmu Untuk Sumba. Selepas lulus, Endy memenuhi komitmennya.
“Alasan saya pulang pertama adalah Sumba adalah Rumah saya,” katanya.
Ia merasa punya tanggung jawab moral yang besar Untuk daerahnya. Ia melihat banyak tenaga medis Di luar Sumba datang Hingga sana Untuk membantu.
Karenanya, sebagai putra Sumba asli ia harus membantu daerahnya sendiri. Kini, hari-harinya ia jalani sebagai pegawai negeri sipil (PNS) sekaligus Volunteer Kesejaganan Hingga Sumba Foundation.
“Saya tahu ketika anak desa menempuh Belajar yang lebih tinggi, dampaknya tidak hanya berhenti Ke dirinya sendiri,” ujarnya.
(cyu/nah)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Kisah Alumnus LPDP Australia Pulkam Hingga Sumba, Kini Perangi Malaria









