Edu  

Kelasnya Masih Pakai Kayu Papan



Jakarta

Beredar sebuah video siswa sekolah dasar (SD) Ditengah bergelantungan Di Dibagian rangka atap kelas berbahan kayu papan. Video ini Memperoleh lebih Bersama 17 juta kali tayangan Di Instagram dan Memperoleh satu juta ‘like’.

Video tersebut diunggah Dari Afrizal Adi Prayoga, seorang guru lulusan S1 Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) yang Ditengah mengikuti Inisiatif Pijar (Pergi Mengajar) Bersama Yayasan CT ARSA Foundation. Afri, sapaannya, mengajar Di SDN 188 Nating, Kecamatan Bungin, Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan.

Kesehariannya mengajar sering ia abadikan Di akun @afrizaladii, termasuk Pada para siswa bergelantungan Di kelas.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Iya, betul, itu video saya. Yang Terkait Bersama video ‘Ninja Warrior’, emang anak-anak Di sini sangat aktif dan menyalurkan keaktifannya Di situ,” kata Afri kepada detikEdu Pada dikonfirmasi, Jumat (14/8/2026).

“Kronologinya itu Sebab ditinggal Di kelas sebelah, Dari Sebab Itu pas saya masuk sudah Ke gelantungan dan ada yang Mutakhir manjat. Dari Sebab Itu langsung saya abadikan momennya, Sebab hal Mutakhir Bagi saya, banyak sekali sebenarnya tingkah anak-anak Di sini Sebab sangat aktif dan semangat bersekolah,” tambahnya.

Sebelumnya mengabadikan momen, Afri telah mengimbau anak-anak Bagi berhati-hati dan setelahnya, anak-anak turun Bersama lincah. Di tiga bulan mengajar, ia Merasakan bahwa anak-anak Di Daerah sana unggul Untuk kinestetik. Terlebih Sebab daerahnya yang berada Di dataran tinggi bersuhu dingin.

“Memang harus gerak terus, apalagi kami berada Di Daerah dingin ya. Suhu Di sini kalau pagi 11°C, Dari Sebab Itu Mungkin Saja Karya gerak lebih diperlukan. Begitu juga orang dewasanya, semuanya suka Aktivitasfisik Di sini, apalagi voli dan sepak takraw,” tutur Afri.

Bangunan Kelas Bersama Kayu Papan

Afri menceritakan bahwa Situasi SDN 188 Nating berada Di bawah kaki gunung tertinggi Di Sulawesi, Gunung Latimojong. Akses jalan Di sekolah pun masih terbatas dan Pada musim menjadi Lebihterus sulit.

“Situasi sekolahnya seperti Untuk video: masih ada 3 kelas bangunan kayu papan dan 1 perpustakaan kayu. Ada 3 kelas permanen yang Memperoleh Pemberian revitalisasi Bersama Panitia Pembangunan Satuan Belajar (P2SP) sekolah dan juga toilet,” ungkapnya.

“Akan Tetapi, ada juga kelas yang sudah permanen sebanyak 3, Mutakhir-Mutakhir ini Memperoleh revitalisasi pembangunan sekolah,” tambahnya.

Ia mengaku terharu Pada mendengar cerita beberapa anak Bersama Dusun Katabi yang berada Di Di SDN 188 Nating. Daerah tersebut berada paling ujung Bagi pendakian Gunung Latimojong.

Bagi Di sekolah, anak-anak SD itu harus berangkat jalan kaki setiap hari Bersama waktu tempuh 30-40 menit.

“Menurut saya, itu perjuangan yang sangat berarti Bagi mereka berangkat sekolah setiap hari,” kata guru asal Sukoharjo, Jawa Ditengah tersebut.

Tak hanya siswa, sebagian guru juga rumahnya berjarak jauh Bersama sekolah. Mereka harus berangkat naik Di bukit Bersama jalanan yang masih tanah dan menanjak.

“Masih susah dijangkau (Daerah ini) apalagi kalau musim penghujan,” lanjutnya.

Mengabdi Satu Tahun lewat Inisiatif Pijar CT Arsa

Afri menjelaskan bahwa Untuk Inisiatif CT Arsa Foundation, yaitu Inisiatif Pijar (Pergi Mengajar), ia Akansegera mengabdi Di satu tahun sebagai Guru Muda (Pijar). Inisiatif ini juga mengirim guru-guru lain Di 27 titik Daerah pelosok Di Indonesia.

Afri sendiri mengakui bahwa Inisiatif ini bukan sekadar mengajar siswa Di pelosok. Akan Tetapi, pembelajaran berharga Bagi dirinya.

“Aku juga mau ngucapin banyak terima kasih kepada Inisiatif Pijar ini yang membuat saya banyak belajar Di sini. Terima kasih, terkhusus Bagi Ibu Anita Ratnasari Tanjung, Founder CT Arsa Foundation, yang sudah peduli Bersama Belajar anak-anak Di pelosok Indonesia,” ungkapnya.

“Sebagai anak muda yang belum berkarier apa-apa, saya sangat senang sekali bisa menjadi Dibagian Bersama Inisiatif hebat ini. Inisiatif ini tidak hanya membantu sekolah-sekolah terpencil, tetapi juga bisa memutus mata rantai Jurang Kaya Miskin. (Ini) tuh serasa mantra buat saya dan saya bangga menjadi salah satu anak muda yang ikut berkontribusi Bagi menjadikan Belajar Indonesia lebih baik. Saya harap Inisiatif Pijar selalu menjadi lilin-lilin kehidupan Di Daerah terpencil. Dan semoga semua guru muda yang terlibat bisa menjadi penerang Untuk gulita,” pungkasnya.

(faz/pal)



Fahri Zulfikar


Jurnalis detikcom. Bergabung Bersama detikcom Dari 2019. Aktif meliput Topik-Topik Belajar, iklim, Eksperimen & analisis, konten seputar Gen Z serta menyukai dunia sepak bola. Kini Dari Sebab Itu penulis Literatur.

`;
constructor() {
super()
this.attachShadow({ Tren: “open” })
this.shadowRoot.innerHTML = TentangPenulis.html
}

async connectedCallback() {

if (elementType === ‘single’) return false;

this.SwiperClass = Swiper;
const swiperContainer = this.shadowRoot.querySelector(‘.mySwiper’);
new this.SwiperClass(swiperContainer, {
slidesPerView: 1,
spaceBetween: 18,
navigation: {
nextEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-next”),
prevEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-prev”),
},
pagination: {
el: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-pagination”),
clickable: true,
},
});
}
}
customElements.define(elementTemplate, TentangPenulis)

Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Kelasnya Masih Pakai Kayu Papan

พัฒนาทักษะการเล่นของคุณไปกับ PG SLOT เพื่อเรียนรู้ฟีเจอร์ใหม่ๆ ก่อนใครได้แล้ววันนี้