Kecilnya Biasa Saja, Dewasanya Karena Itu Kampiun? Ini Kata Sains


Jakarta

Wakil Pembantu Ri Pembelajaran Tinggi, Sains, dan Ilmu Pengetahuan (Wamendiktisaintek), Stella Christie ungkap orang tua tidak perlu khawatir bila anak menampilkan kemampuan yang biasa-biasa saja. Kemampuan yang dimaksud seperti tidak Kampiun kelas atau ahli Untuk suatu bidang Aktivitasfisik.

Melewati postingan Hingga media sosial Instagram miliknya, Stella awalnya bertanya kepada sang anak, Bayu. Ia menanyakan apakah anaknya selalu dapat nilai paling terbaik Hingga sekolah dan jawaban yang diberikan Bayu adalah tidak.

“Gak usah khawatir Bisa Jadi ini justru bagus,” katanya kepada Bayu dikutip, Minggu (4/1/2026).


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengapa demikian?

Kecilnya Biasa Saja, Dewasanya Karena Itu Jenius

Stella menyebutkan banyak orang yang bertanya-tanya tentang apa yang membuat sosok-sosok, seperti Michael Jordan, Beethoven, Charles Darwin, atau Copernicus menjadi seorang jenius. Asumsi kebanyakan orang adalah mereka semua sudah jenius Sebelum kecil.

Tetapi, asumsi itu kini terbantahkan Bersama bukti sains terbaru Melewati Studi yang terbit Hingga jurnal Science Di 18 Desember 2025. Studi berjudul ‘Recent discoveries on the acquisition of the highest levels of human performance‘ itu Menunjukkan bila Kemenangan Nobel dan Olahragawan-Olahragawan dunia Memperoleh kemampuan biasa saja ketika mereka kecil.

“Studi terbaru yang dipublikasikan Hingga jurnal Science (jurnal akademik paling bergengsi Hingga semua bidang) Menyediakan jawaban mengagetkan. Ternyata jenius Aktivitasfisik, Bunyi, catur, atau ilmuwan bukanlah jenius waktu kecil,” ungkap Stella.

Data Menunjukkan bila 90% Bersama Olahragawan dunia, grandmaster catur, Kemenangan Nobel, dan komposer Bunyi ternama bukanlah seorang Kampiun ketika mereka kecil. Sebagai Alternatif, lebih Bersama 80% kebanyakan Olahragawan kecil yang meraih Kampiun tidak menjadi Olahragawan dunia. Data ini juga berlaku Hingga berbagai bidang lainnya.

2 Faktor yang Membuat Seseorang Karena Itu Jenius

Bersama studi tersebut, Stella mencatat dua faktor yang berperan penting membuat seseorang menjadi jenius. Keduanya yaitu:

1. Proses dan Waktu

Stella Membahas pepatah Jawa yakni “alon-alon asal kelakon” yang berarti pelan-pelan asal selamat. Kemajuan perlu dilakukan secara bertahap.

2. Lintas Disiplin

Seseorang bisa menjadi jenius ketika dewasa bila sewaktu kecil atau muda mereka banyak melakukan Pelatihan Hingga bidang lain, bukan hanya bidang yang ditekuninya. Sebagai Alternatif, Kampiun-Kampiun kecil biasanya hanya intensif Pelatihan satu hal.

“Tapi sangat sedikit Bersama mereka yang Karena Itu Kampiun dunia,” jelasnya.

Stella mengajak orang tua, guru, pemerintah gunakan bukti sains ini Sebagai merancang Pembelajaran. Ia mengingatkan sudah saatnya Pembelajaran berpegang Di pendapat atau persepsi yang Bisa Jadi salah.

“Hingga Kementerian Pembelajaran Tinggi, Sains, dan Ilmu Pengetahuan kita Akansegera Melakukanupaya Sebagai menerapkan temuan sains ini baik Hingga sekolah Garuda maupun Hingga perguruan tinggi agar pemuda-pemuda Indonesia juga bisa mempunyai kesempatan menjadi Kampiun dunia Hingga bidang apapun,” tandasnya.

(det/nwk)

Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Kecilnya Biasa Saja, Dewasanya Karena Itu Kampiun? Ini Kata Sains

พัฒนาทักษะการเล่นของคุณไปกับ PG SLOT เพื่อเรียนรู้ฟีเจอร์ใหม่ๆ ก่อนใครได้แล้ววันนี้