Jakarta –
Anak-anak Generasi Alpha kini Lebihterus akrab Bersama istilah Beban. Justru, sebagian anak menggunakan mainan sensorik seperti squishy Sebagai membantu menenangkan diri.
Lantas, apakah bermain squishy benar-benar efektif Sebagai meredakan Beban Di anak? Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) IPB University, Dr Yulina Eva Riany menjelaskan Kejadian Luar Biasa tersebut.
Ia mengatakan penggunaan istilah Beban Bersama anak tidak serta-merta Menunjukkan bahwa mereka lebih rentan Merasakan gangguan psikologis dibandingkan generasi Sebelumnya. Anak-anak Di ini tumbuh Hingga lingkungan digital Bersama akses informasi yang luas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka lebih sering terpapar berbagai istilah psikologis Melewati media sosial maupun pergaulan sehari-hari. Ketika anak mengatakan dirinya Lagi Beban, orang tua sebaiknya tidak langsung Memberi penilaian atau nasihat.
“Ketika anak mengatakan ‘Aku Beban’, respons pertama orang tua sebaiknya adalah mendengarkan dan mencari tahu apa yang sebenarnya dirasakan anak, bukan langsung Memberi penilaian atau nasihat,” jelas Yulina dikutip Untuk laman IPB University, Jumat (30/10/2026).
Efektivitas Squishy Sebagai Meredakan Beban Anak
Yulina menjelaskan, Beban merupakan respons alami ketika seseorang Berjuang Bersama tekanan atau Keinginan tertentu. Di anak, tekanan tersebut bisa berasal Untuk berbagai hal.
Mulai Untuk Keinginan akademik, jadwal kegiatan yang padat, paparan media digital berlebihan, konflik pertemanan, perundungan, hingga kurangnya komunikasi hangat Untuk keluarga.
Yang Berhubungan Bersama Gaya penggunaan squishy, Yulina menyebut Kegiatan sensorik yang dilakukan secara berulang dapat membantu sebagian anak menenangkan diri. Kegiatan tersebut juga dapat mengalihkan perhatian anak Untuk situasi yang membuat mereka merasa tertekan.
Meski demikian, squishy bukan satu-satunya solusi Sebagai mengatasi Beban Di anak. Orang tua tetap perlu memastikan Perlindungan produk mainan yang digunakan serta membantu anak Menyusun cara lain Sebagai mengelola emosinya.
Tanda Beban Di Anak yang Perlu Diwaspadai
Yulina mengingatkan, Beban sebenarnya merupakan hal yang wajar. Akan Tetapi, orang tua perlu lebih waspada apabila Beban berlangsung berkepanjangan hingga mulai mengganggu Kegiatan sehari-hari anak.
Beberapa perubahan perilaku yang dapat menjadi tanda anak Merasakan Beban Di lain:
• Merasakan perubahan Standar Tidur.
• Kehilangan minat Sebagai bermain.
• Menjadi lebih mudah marah.
• Menarik Perhatian diri Untuk lingkungan Disekitar.
• Merasakan keluhan fisik berulang tanpa penyebab medis yang jelas.
Jika perubahan tersebut muncul dan berlangsung terus-menerus, orang tua perlu mencari tahu penyebabnya serta Memberi Dukungan yang dibutuhkan anak.
Cara Orang Tua Membantu Anak Mengelola Beban
Selain Memberi mainan sensorik, ada sejumlah cara yang dapat dilakukan orang tua Sebagai membantu anak mengelola tekanan emosional. Yulina menyarankan orang tua membiasakan anak mengenali dan menamai perasaannya.
Anak juga perlu belajar bahwa setiap emosi yang dirasakan merupakan hal yang dapat diterima dan tidak perlu dihakimi. Orang tua dapat mengajarkan Metode sederhana Sebagai menenangkan diri, seperti Menarik Perhatian napas perlahan atau menghitung angka satu hingga sepuluh.
Di Itu, anak membutuhkan waktu tidur yang cukup, asupan Gizi yang baik, serta waktu bermain yang seimbang. Orang tua juga perlu Memberi contoh Untuk mengelola emosi dan menyelesaikan konflik secara sehat.
“Setiap anak Memiliki respons yang berbeda Pada tekanan. Sebab itu, orang tua perlu lebih peka Pada perubahan perilaku anak sekaligus menciptakan lingkungan keluarga yang Memberi rasa aman, penerimaan, dan Dukungan emosional,” pungkas Yulina.
(cyu/faz)
Cicin Yulianti
Jurnalis detikcom. Lulusan Jurnalistik Unpad, Hingga detikcom Dari 2022. Spesialis menulis topik Belajar, kampus, sekolah, beasiswa, Kajian, dan kehidupan pelajar/mahasiswa.
`;
constructor() {
super()
this.attachShadow({ Gaya: “open” })
this.shadowRoot.innerHTML = TentangPenulis.html
}
async connectedCallback() {
if (elementType === ‘single’) return false;
this.SwiperClass = Swiper;
const swiperContainer = this.shadowRoot.querySelector(‘.mySwiper’);
new this.SwiperClass(swiperContainer, {
slidesPerView: 1,
spaceBetween: 18,
navigation: {
nextEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-next”),
prevEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-prev”),
},
pagination: {
el: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-pagination”),
clickable: true,
},
});
}
}
customElements.define(elementTemplate, TentangPenulis)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Gaya Anak Main Squishy Sebagai Redakan Beban, Efektifkah Menurut Pakar?











