Jakarta –
Penggunaan kecerdasan buatan (AI) Di tingkat Belajar tinggi Lebihterus disorot Didalam para profesor dan dosen. Banyak yang menilai, mahasiswa menggunakan AI Untuk mempermudah tugas, Malahan mengerjakan semua tugas mereka.
Berbagai cara pun dilakukan Didalam para dosen, termasuk mengubah sistem penilaian tugas. Salah satunya dilakukan Didalam seorang profesor matematika Di Universitas California (UC) Berkeley, Richards Borcherds. Ia menilai tugas para mahasiswanya berdasarkan ketepatan waktu pengumpulan, alih-alih memeriksa keakuratan jawabannya.
“AI sekarang dapat menyelesaikan banyak masalah matematika tingkat sarjana, sering kali lebih baik daripada mahasiswa itu sendiri. Hal ini membuat Lebihterus sulit Untuk mengetahui apakah solusi tugas tersebut mewakili pemahaman mahasiswa sendiri atau dihasilkan Didalam AI,” katanya kepada Newsweek, dikutip Jumat (30/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Borcherds mengatakan bahwa menilai tugas mahasiswa yang dikerjakan Di luar kelas menjadi sulit Sebelum ada AI. Menurutnya, metode ujian yang masih efektif adalah Melewati tatap muka.
Kini Tugas Bukan Tolok Ukur Pemahaman Mahasiswa
Sejalan Didalam pernyataan Profesor Richards Borcherds, seorang profesor Di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Eric Klopfer mengatakan bahwa penugasan mahasiswa Di ini telah berubah makna. Semula tugas merupakan sarana Untuk siswa supaya dapat lebih memahami materi yang telah dipelajari Di ruang kelas.
Di sisi lain, tugas-tugas juga dapat membantu pengajar Untuk Menilai sejauh mana pembelajaran dapat diterima Didalam siswa. Tetapi, kini, AI membuat tujuan tersebut sirna.
“Di ini, setidaknya Untuk sebagian siswa, tugas bukan lagi evaluasi yang valid atas pembelajaran mereka,” kata Klopfer.
Di intinya, menurut Klopfer, harus ada pemahaman yang setara Antara dosen Didalam mahasiswa. Di sisi dosen, harus percaya bahwa mahasiswa mampu diberi tanggung jawab penugasan. Di sisi mahasiswa, harus bisa memahami materi tanpa menggunakan terlalu banyak alat bantu seperti AI.
Di MIT sendiri, ada laporan tahunan 2026 Di Asosiasi Ad Hoc mengenai penggunaan AI Di pengajaran, pembelajaran, dan pelatihan Studi. Asosiasi tersebut mengimbau para dosen Untuk mengubah proses pengajaran dan penilaian Di ini agar lebih adaptif Pada perkembangan AI.
Kembali Hingga Metode Ujian Lisan dan Tatap Muka
Di berbagai kampus Di AS, dosen telah mulai menggunakan metode ujian lisan atau secara luring supaya meminimalkan penggunaan AI, yang Berpotensi Untuk tidak mencerminkan kemampuan mahasiswa sesungguhnya.
Universitas Cornell Memperkenalkan bahwa penilaian lisan dapat dipadukan Didalam tugas tertulis, proyek, atau kumpulan soal Untuk mencegah penggunaan AI yang tidak sah atau tidak kritis. Pilihannya Antara ujian lisan, sesi tanya jawab, presentasi, permainan peran, debat, hingga Protes.
Profesor madya Emily Hammer Di Universitas Pennsylvania melakukan ujian Didalam dua metode gabungan, yaitu lisan dan makalah tertulis Di kelas. Hal ini dilakukan bukan hanya sekadar adanya mahasiswa yang saling mencontek, melainkan Sebab khawatir Kemahiran, kapasitas kognitif, dan Imajinasi mahasiswa Akansegera hilang.
Di Di Yang Sama, MIT merekomendasikan agar setiap kelas secara jelas Berkata kebijakannya tentang penggunaan AI, termasuk apa yang diizinkan dan alasannya. Di ini, kampus Secara Keseluruhan belum memberlakukan aturan kelas yang berlaku secara serentak. Tetapi, kampus Memberi para dosen berbagai pendekatan yang bisa disesuaikan Didalam masing-masing mata kuliah.
Didalam Sebab Itu, solusinya bukan menghentikan penggunaan AI, tetapi merancang penilaian yang tetap objektif Di menilai pemahaman dan perkembangan mahasiswa itu sendiri.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker Di detikcom.
(faz/faz)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Gara-gara AI, Kampus Di AS Ubah Sistem Penilaian Tugas Mahasiswa Didalam Sebab Itu Lewat Lisan











