Faktor Penyebab Jebloknya Nilai TKA: Distraksi Digital-Standar Pengajaran


Jakarta

Pakar sekaligus Guru Besar Sosiologi Pembelajaran Universitas Airlangga (Unair) Tuti Budirahayu soroti jebloknya nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA/SMK/sederajat. Hasil tersebut dinilai merosot drastis terutama Ke tiga mata pelajaran (mapel) wajib.

Seperti yang diketahui, terdapat tiga mapel wajib yang diujikan Ke murid jenjang SMA/SMK/sederajat, yakni matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Ke jenjang SMA, nilai rata-rata TKA murid yakni bahasa Indonesia 57,39, Matematika 37,23, dan bahasa Inggris 26,71.

Sedangkan Sebagai jenjang SMK, nilai rata-rata TKAnya yakni bahasa Indonesia 53,62, matematika 34,74, dan bahasa Inggris 22,55. Nilai ini tentu jauh Di skor maksimal yang ditetapkan Kementerian Pembelajaran Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yakni 100.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

3 Faktor Penyebab Nilai TKA Murid SMA/SMK/Sederajat Jeblok

Melihat hal itu, Tuti menyinggung ada 3 faktor penyebab utama nilai TKA murid bisa merosot drastis. Adapun ketiga faktor penyebab tersebut yakni:

1. TKA Bukan Ujian Penentu Masa Di

Tuti melihat banyak murid yang mengikuti ujian TKA tidak melihat ujian ini sebagai suatu tes yang menentukan masa Di mereka. Mengingat TKA bersifat tidak wajib dan bukan syarat kelulusan.

Hal ini tentu berbeda Di Ujian Nasional (UN) atau Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) yang kerap kali Dikatakan sebagai penentu nasib. Sifat itu membuat murid mau belajar sungguh-sungguh dan menjadi alat seleksi yang cukup baik Sebagai menyaring murid berprestasi menurutnya.

“Malahan saking menakutkannya jenis ujian tersebut, cara-cara curang ditempuh Di siswa yang memang tidak Memiliki moral dan etika baik Sebagai. Untuk dapat lolos Di dua jenis ujian tersebut,” ungkap Tuti dikutip Di rilis resmi Unair, Jumat (2/1/2026).

2. Pengaruh Era Digital

Faktor kedua yang mempengaruhi jebloknya nilai TKA murid adalah adanya pengaruh era digital. Ilmu Pengetahuan dan era digital dijelaskan Tuti ikut andil Di mengubah perilaku belajar murid masa kini.

Banyak murid terlalu terpapar Di Life Style instan seperti yang mereka lihat Hingga media sosial. Mereka menonton kemungkinan sukses Di waktu singkat dan mudah.

Tuti melihat distraksi digital ini membawa banyak dampak negatif Untuk murid. Di melemahkan daya kritis, melemahkan konsentrasi, melemahkan ketekunan membaca, serta membuat murid sulit berpikir analitis.

3. Standar Pembelajaran

Standar Pembelajaran Hingga sekolah-sekolah RI menjadi masalah yang lebih mendalam Di jebloknya nilai murid Hingga TKA. Di pandangan Tuti, hasil TKA adalah cerminan Standar pembelajaran Hingga sekolah-sekolah kita Pada ini.

“Jika Standar pengajaran rendah, maka hasil ujian yang siswa peroleh juga tidak memuaskan,” jelasnya.

Nilai TKA bisa menjadi indikasi bila metode pembelajaran Hingga sekolah belum cukup efektif. Terlebih Di membantu murid Di memahami sebuah Prototipe secara mendalam.

Melihat hal ini, Tuti menilai perlu adanya reformasi Pembelajaran besar-besaran Di menata ulang metode dan orientasi pembelajaran. Dibandingkan hafalan, murid seharusnya sudah menggunakan model pembelajaran yang menekankan penalaran.

“Jika ini yang terjadi maka harus ada upaya reformasi Pembelajaran besar-besaran. Hingga mana metode dan orientasi pembelajaran harus ditata ulang. Tidak lagi siswa disuguhi materi belajar hafalan tetapi sudah harus Di model pembelajaran yang menekankan penalaran, pemahaman Prototipe dan cara-cara berpikir tingkat tinggi (High Order Thinking Skill/HOTS),” katanya Tuti lagi.

Solusi Hadapi Jebloknya Nilai TKA

Tidak hanya menjabarkan faktor penyebab, Tuti juga Menyediakan 3 solusi Sebagai mengatasi jebloknya nilai TKA murid jenjang SMA/SMK/sederajat, yaitu:

1. Tekankan Pentingnya Makna Belajar

Murid masa kini perlu disadarkan Akansegera pentingnya makna belajar. Tidak hanya dibimbing agar bisa memahami materi, guru harus bisa mengaitkan materi pelajaran Di Topik-Topik aktual Hingga kehidupan nyata.

“Termasuk tantangan yang mereka Akansegera temui Hingga dunia kerja,” papar Prof Tuti.

Lebih derasnya paparan Ilmu Pengetahuan memang tak bisa dihindari, Akan Tetapi bisa ditanggulangi Di menekankan literasi digital secara kritis. Ketika literasi digital murid baik, mereka bisa memanfaatkan Ilmu Pengetahuan Sebagai Memperbaiki Standar pembelajaran mereka.

2. Reformasi Pembelajaran

Reformasi Pembelajaran secara mendalam perlu dilakukan. Reformasi ini mencakup penataan ulang Standar guru sebagai sumber daya manusia (SDM) utama Di Memperbaiki Standar Pembelajaran dan Standar diri murid dan meminimalisir kesenjangan atau ketimpangan Pembelajaran Hingga segala sektor.

“Meminimalisir kesenjangan atau ketimpangan Pembelajaran antarwilayah atau Daerah, antarsekolah negeri dan swasta, dan antarsekolah yang dikelola Di kementerian yang berbeda,” imbuhnya.

3. Kuatkan Sinergi Sekolah, Orang Tua, dan Pemda

Terakhir, Tuti menyarankan agar pemerintah pusat menguatkan sinergi Di sekolah, orang tua, dan pemerintah Daerah (Pemda). Terutama Di Menyediakan pendampingan belajar Ke murid.

Mentoring dan konseling adalah Langkah-Langkah penting yang harus diperkuat. Langkah ini berguna Sebagai membantu murid yang membutuhkan perhatian khusus, baik secara akademik maupun psikologis.

“Kerja sama Di semua pihak ini Akansegera menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan siswa secara menyeluruh, baik secara akademik maupun emosional,” pungkas Prof Tuti.

(det/nwk)

Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Faktor Penyebab Jebloknya Nilai TKA: Distraksi Digital-Standar Pengajaran

พัฒนาทักษะการเล่นของคุณไปกับ PG SLOT เพื่อเรียนรู้ฟีเจอร์ใหม่ๆ ก่อนใครได้แล้ววันนี้