Jakarta –
Viral tapir disembelih usai melintas Ke Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), Register 45, Kabupaten Mesuji, Lampung. Enam warga dinyatakan sebagai pelaku Di motif membunuh tapir Sebagai dimakan.
Tapir Malaya berperan penting Di menyebarkan biji Ke hutan hujan dataran rendah Ke Sumatera dan Kalimantan, dikutip Di laman Universitas Gadjah Mada (UGM). Tapirus indicus sendiri merupakan satu-satunya spesies tapir yang hidup Ke Asia dan termasuk satwa dilindungi, tetapi populasinya menurun akibat habitatnya rusak dan hilang, Diselidiki, dan berkonflik Di manusia, hingga berstatus Endangered atau terancam punah.
“Kehilangan satu individu tapir berarti hilangnya potensi regenerasi Pertumbuhan yang sudah tertekan,” kata Ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI) dan Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof Budi Setiadi Daryono, Ph D, dikutip Di laman UGM, Rabu (8/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kejahatan Keji Tapirus indicus adalah Pelanggar hukum sekaligus kemunduran upaya konservasi keanekaragaman hayati Indonesia. Tindakan ini tidak dapat dibenarkan Di alasan apapun,” sambungnya.
Mengapa Tapir Masuk Permukiman Warga?
Ke unggahan viral video tapir tersebut, sejumlah warganet mempertanyakan mengapa tapir muncul Ke permukiman. Tapir itu disebut berkeliaran Ke Di permukiman warga.
Akan Tetapi, Kepala Unit (Kanit) Kanit Polisi Kehutanan (Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung M Husen mengatakan, tapir tersebut tidak muncul Ke kawasan Register 45 Lantaran keluar Di habitatnya. Ia menjelaskan, kawasan Register 45 itu sendiri hingga Daerah Mesuji dan Tulang Bawang masih merupakan habitat alami tapir. Akan Tetapi, habitat tapir itu kini juga dihuni Komunitas.
“Kemungkinan tapir berasal Di Register 45 atau kawasan APL Ke sekitarnya Lantaran Daerah Mesuji dan Tulang Bawang memang merupakan habitatnya. Komunitas setempat Malahan cukup sering berjumpa Di tapir atau yang mereka kenal sebagai ‘tenuk’,” kata Husen, dikutip Di detiksumbagsel.
Selaras, Pakar Konservasi IPB University, Dr Abdul Haris Mustari menyebut Trend Populer tidak lazim kemunculan tapir Ke Di permukiman adal sinyal bahwa bahwa ekosistem hutan Lagi Merasakan gangguan serius. Biasanya, tapir merupakan hewan nokturnal yang justru menghindari manusia.
“Tapir adalah satwa pemalu yang sangat bergantung Ke habitat hutan. Kemunculannya Ke lingkungan manusia merupakan pertanda bahwa ada sesuatu yang salah Pada habitatnya,” ujarnya, dikutip Di keterangan kampus.
Mustari berpendapat, penyebab utama tapir keluar Di habitat alaminya yakni Lantaran hutan makin dialihfungsikan Karena Itu perkebunan, permukiman, kawasan pertambangan, maupun pembukaan lahan.
Sebab, Daerah jelajah tapir dan satwa lainnya Karena Itu makin sempit. Sumber makanannya pun Karena Itu makin sedikit, Supaya berisiko berkonflik Di manusia.
“Tapir yang keluar Di hutan, seperti Perkara Hukum Hukum Ke Mesuji, kemungkinan telah menempuh perjalanan panjang Di Situasi lemah, kekurangan makan dan air, serta sesungguhnya Lagi mencari tempat yang aman. Sangat disayangkan jika satwa yang dilindungi justru berakhir tragis akibat tindakan manusia,” kata Mustari.
Ia menekankan, keberadaan satwa merupakan Dibagian yang tidak terpisahkan Di Kesejaganan ekosistem.
“Apabila satwa dan tumbuhan terus Merasakan kepunahan akibat rusaknya hutan, Ke akhirnya manusia juga Akansegera merasakan dampaknya. Melindungi tapir berarti menjaga keberlangsungan hutan dan kehidupan kita bersama,” ucapnya.
Fakta-fakta Tapir
|
Tapir masuk perkampungan Ke Asahan, Sumatera Utara, Sabtu (17/8/2019). Foto: Dok. Istimewa
|
- Nama spesies Ke Indonesia dan Asia: Tapirus indicus
- Ciri fisik:
- Mamalia
- Berkuku ganjil
- Panjang Di 1,8 meter
- Berat hingga 300-350 kg
- Memiliki belalai pendek Di hasil evolusi hidung dan bibir Pada jutaan tahun
- Pemakan tumbuhan (herbivora murni)
- Belalai tapir berfungsi Sebagai memilih Konsumsi, mendeteksi bau, mengenali Situasi lingkungan, hingga membantu navigasi Ke habitatnya
- Tapir Asia hidup Ke hutan dataran rendah lembap
- Tapir Asia sangat bergantung Ke sumber air Sebagai minum, berkubang, dan menjaga suhu tubuh
- Peran penting ekologis:
- Penyebar biji (seed disperser) Ke hutan tropis, Di cara biji yang ia konsumsi Akansegera tersebar lewat feses (kotoran hingga tumbuh menjadi vegetasi Terbaru
- Sejumlah jenis biji Terbaru bisa berkecambah Setelahnya Melewati proses pencernaan tapir, Supaya sangat membantu regenerasi hutan
- Merupakan keystone species (sesies Kunci penjaga ekosistem), umbrella species (spesies yang keberadaannya memayungi/melindungi spesies lain Lantaran Daerah jelajahnya sangat luas), dan flagship species (spesies unggulan/ikonik) yang menjadi simbol penting Sukses konservasi hutan.
- Berstatus konservasi Endangered atau terancam unah Di Daftar Merah IUCN
- Merupakan satwa dilindungi dala regulasi nasional, termasuk:
- Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang – Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya
- Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan Dan Satwa
- Peraturan Pembantu Ri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK) Nomor 106 Tahun 2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pembantu Ri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MenLHK/Setjen/Kum.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.
(twu/nah)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Disembelih Ke Lampung, Mengapa Tapir Masuk Permukiman Warga?











