Alfira, siswi MAN Insan Cendekia Tanah Laut, Kalimantan Selatan Terbaru saja menjalani sekolah 10 bulan Ke Iowa, Amerika Serikat yang Tenteram. Meski demikian, dia terkesan nilai-nilai tugasnya Ke sana sat-set, realtime dan nggak pakai lama!
Fira mengaku Sebelumnya tidak terlalu mengenal Iowa. Akan Tetapi Sesudah tinggal Di hampir satu tahun, ia justru menyukai suasana kota kecil yang Tenteram dan jauh Bersama keramaian.
“Nah, sebenernya kalau misalnya saya nggak dapet placement Ke Iowa, saya nggak tahu Iowa itu Ke mana,” ujar Fira Ke Peristiwa penyambutan peserta Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (YES) 2025-2026 Ke Hotel Gren Alia Jakarta, Jl Prajurit KKO Usman-Harun, Jakarta Pusat, Senin (8/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Inisiatif YES sendiri merupakan salah satu beasiswa pertukaran pelajar unggulan yang didanai penuh Bersama Pemerintah Amerika Serikat Lewat Departemen Luar Negeri AS. Skema ini dirancang khusus Untuk generasi muda Ke tingkat sekolah menengah agar dapat merasakan Penghayatan hidup mendalam dan memahami dinamika kultural Ke luar negeri secara langsung guna membangun perspektif Dunia Dari dini.
Menurut Fira, lingkungan tempat tinggalnya Ke Iowa Memperoleh karakter yang mirip Bersama Daerah asalnya Supaya membuat proses adaptasi terasa lebih mudah.
“Bersama Sebab Itu kayak, bener-bener sama kayak kota saya asal. Saya kan Ke Banjarmasin, bukan kayak kota besar. Bersama Sebab Itu saya bener-bener suka sama kotanya,” katanya.
Terkesan Nilai Tugasnya Real Time
Bersama madrasah Bersama aturan ketat, bagaimana Fira Mengadaptasi Bersama kehidupan sekolah Ke Iowa?
“Kalau misalnya, bener-bener beda itu Mungkin Saja Bersama sekolahnya sih. Kan saya asal madrasah, Bersama Sebab Itu Sesudah saya pergi Ke Amerika, wah tau kan Amerika bener-bener freedom. Kayak, sekolah aja kayak bisa pakai pajama, bisa pakai sebebas itu. Bersama Sebab Itu kayak, lebih Ke freedom-nya aja sih,” tutur Fira.
Fira juga Merasakan moving class alias murid yang bergerak Ke ruang kelas tiap mata pelajaran. “Secara Belajar sendiri, moving class pastinya kan Ke Amerika tuh. Kita tuh nggak, Untuk Ke Amerika sendiri, kita nggak dipaksa Untuk kayak, ada 12 mapel (mata pelajaran) kita harus semuanya bisa. Kalau Ke Amerika tuh kita bisa milih, milih apa gitu,” jelas Fira yang Memutuskan mapel sejarah AS, matematika dan bahasa Inggris.
Ke Di Itu, Fira Memutuskan mapel jurnalistik. Dia belajar menulis berita sekolah yang dimuat Ke website sekolahnya. Dia juga Memutuskan mapel Hidangan, semacam tata boga hingga Peregangan.
Sesudah Itu yang membuatnya makin terkesan, setiap tugas yang dikumpulkan, guru selalu cepat menilai dan nilainya bisa dilihat real time secara online, nggak pakai lama.
“Nah, terus tuh Ke Amerika tuh saya suka aja, mereka tuh kayak ada website, website yang transparansi. Bersama Sebab Itu setiap kita udah nge-submit tugas, langsung ada hasil nilainya itu. Bersama Sebab Itu kayak kalau misalkan Ke Indonesia kan secara besar kita udah Ke akhir semester Terbaru diakumulasikan nilainya berapa. Kalau Ke US nggak, saya sukanya, oh berarti saya kurangnya Ke sini, Ke sini harus saya tambahin gitu loh. Itu sih Bersama sistem penilaiannya Bersama sekolah,” celoteh Fira Bersama antusias.
Senang Lingkungannya Suka Belajar
Meski Di beberapa aspek, Fira menemukan freedom atau kebebasan, Akan Tetapi ternyata kebebasan itu cukup bertanggung jawab. Siswa Ke AS tidak sebodo amat itu Untuk belajar.
“Nah expectnya kalau dia Ke Amerika tuh kayak, anak-anak Amerika ini paling kayak bodo amat masalah pelajaran. Ternyata enggak, saya berteman sama kayak ketua OSIS, dia Terbaru aja kemarin dapet (tawaran kuliah) Ke Columbia University. Bersama Sebab Itu kayak, wah ternyata saya Ke sini masih kayak deket sama orang-orang yang suka belajar gitu loh,” tuturnya.
Tantangan Konsumsi Halal dan Sahur Sendirian
Di 10 bulan, Fira Mengadaptasi Di 3 bulan. Rasa ingin tahu dan senang yang tinggi dan penasaran Berencana hal-hal Terbaru, plus lingkungan sekolah yang terbuka dan sangat baik menerimanya, tantangan yang ditemui Fira bak kerikil.
Salah satunya adalah menemukan Konsumsi halal, juga melewati sahur Ramadan sendirian.
“Kayak Ramadan tuh kayak sahur, itu susah sih. Kayak sendiri, makan sendiri, biasanya kan ramai. Bersama Sebab Itu kayak Ramadan, terus kayak nyari halal food,” ucap Fira.
Akan Tetapi soal Konsumsi terobati Sebab ibu angkat Fira yang asli Taiwan selalu memasakkan nasi dan masakan-masakan China lainnya. Tentu, lebih familier Ke lidah Fira.
“Yang saya kangenin itu masa kan host mom saya. Sebab host mom saya itu kan Bersama China, Bersama Taiwan. Bersama Sebab Itu kayak, masih, nah, saya sukanya itu saya nggak pernah homesick pasal Konsumsi. Sebab mama saya itu masih masakin tentang nasi. Kayak, Chinese food kan sama Indonesia masih similar kan. Bersama Sebab Itu kayak, itu sih makanannya,” tutup Fira yang berharap bisa berkuliah Ke luar negeri selulusnya Bersama MAN ini.
Halaman 2 Bersama 2
Simak Video “Ramen YES Resmi Diluncurkan, Penghayatan Ramen Jepang Kini Lebih Di“
[Gambas:Video 20detik]
(nwk/nwk)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Cerita Fira Bersama Kalsel Sekolah Ke Iowa yang Tenteram, Terkesan Nilai Tugasnya Real Time











