Badan Kajian dan Perkembangan Nasional (BRIN) Membuat alat deteksi Gelombang Laut Tinggi bernama PUMMA (Alat Ukur Murah Sebagai Muka Air Laut). Pembaruan ini Berusaha Sebagai memperkuat sistem peringatan dini Gelombang Laut Tinggi nasional (InaTEWS) milik Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) agar bisa membantu deteksi dini Gelombang Laut Tinggi meniadi lebih cepat.
Peneliti Pusat Kajian Kebencanaan Geologi (PRKG) Semeidi Husrin menjelaskan sistem yang digunakan PUMMA berbeda Di sistem konvensional yang Pada ini mengandalkan pemodelan gempa. Alat tersebut dirancang agar mampu mencatat dinamika muka air laut secara real time.
“Karena Itu gempanya dicatat, Lalu tsunaminya dimodelkan. Sambil PUMMA ini langsung mencatat tsunaminya. Karena Itu tanpa pemodelan, dia secara real time langsung mencatat tsunaminya,” ujar Semeidi, seperti dilansir Di laman BRIN, dikutip Selasa (7/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cocok Dipasang Ke Banyak Pulau Kecil
Alat PUMMA dinilai sangat cocok Sebagai Situasi geografis Indonesia. Khususnya Ke Area Indonesia Dibagian timur, keberadaan pulau-pulau kecil dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai pelampung lepas pantai alami (natural offshore buoys).
PUMMA dirancang Sebagai dipasang Ke kawasan pesisir yang berdekatan Di sumber potensi bencana. Sebagai contoh, Untuk Peristiwa Pidana kerawanan Ke Maluku Utara, Alat ini bisa ditempatkan secara strategis Ke dua pulau-pulau kecil yang paling Didekat Di titik pusat gempa (episenter), seperti Pulau Maju dan Pulau Batang Dua.
“Alat ini bisa dipasang Ke dua pulau kecil ini Agar dia bisa membantu lebih cepat Sebagai deteksi dini tsunaminya,” katanya.
Belajar Di Gelombang Laut Tinggi Alat Pukul dan Selat Sunda
Keandalan PUMMA tidak lagi sekadar Prototipe. Semeidi mengungkapkan bahwa Alat ini telah sukses beroperasi Pada 6 tahun Ke perairan Selat Sunda dan kini telah memasuki tahun Ke-7 penggunaannya. Alat ini dipasang secara spesifik Ke Pulau Rakata, yang merupakan Dibagian Di kompleks Gunung Api Anak Krakatau.
“PUMMA Di ini Ke Selat Sunda terpasang Di baik Ke Pulau Rakata, kompleks Gunung api Anak Krakatau yang merupakan satu-satunya sistem atau alat yang melakukan informasi monitoring dan sistem peringatan dini volcano-Gelombang Laut Tinggi Ke Selat Sunda Di ini,” tegas Semeidi.
Semeidi, menyoroti salah satu Skor krusial Yang Berhubungan Di mitigasi bencana Ke Indonesia. Ia memaparkan bahwa ancaman Gelombang Laut Tinggi tidak hanya disebabkan Dari Guncangan Bumi, tetapi juga bisa dipicu Dari Kegiatan gunung api dan longsor bawah laut.
Peristiwa mematikan seperti Gelombang Laut Tinggi Alat Pukul dan Selat Sunda Di tahun 2018 menjadi bukti nyata Berencana hal tersebut. Rentetan kejadian itu menegaskan bahwa keberadaan Alat Pengindera Guncangan Bumi saja belum cukup Sebagai mendeteksi datangnya Gelombang Laut Tinggi secara akurat.
“Gelombang Laut Tinggi tidak hanya diakibatkan Dari Guncangan Bumi tetapi juga akibat Kegiatan gunung api atau longsor bawah air. Kegiatan gunung api, longsor bawah air tidak bisa dideteksi Dari Alat Pengindera Guncangan Bumi, hanya Alat Pengindera tertentu seperti Alat Pengindera muka air yang dipasang Di tepat yang bisa mendeteksi Gelombang Laut Tinggi lebih dini,” katanya.
Dia mengingatkan kembali bagaimana ribuan nyawa melayang Di Gelombang Laut Tinggi Alat Pukul dan Selat Sunda terjadi. Situasi fatal tersebut salah satunya dipicu Dari sistem peringatan dini Indonesia Gelombang Laut Tinggi Early Warning System (InaTEWS) milik BMKG yang kala itu memang tidak didesain Sebagai merespons kejadian non-gempa. Dari sebab itu, sebagai langkah mitigasi konkret, BRIN kini terus Memutuskan langkah proaktif. Lembaga tersebut Di ini Ditengah mengintensifkan implementasi PUMMA guna memperkuat sistem peringatan dini atau early warning system (existing) yang sudah beroperasi Di ini.
Mengejar Golden Time Evakuasi Gelombang Laut Tinggi
Tantangan terbesar Untuk mitigasi bencana Ke Indonesia Di ini adalah penyampaian peringatan Ke lokasi terdampak atau kawasan hilir. Walaupun BMKG mampu mengirimkan peringatan dini Untuk waktu 5 menit, tetapi sirine Ke Lokasi rawan belum tentu bisa menyala tepat waktu.
Keterlambatan ini menjadi Topik krusial mengingat waktu emas (golden time) Sebagai evakuasi Gelombang Laut Tinggi sangatlah singkat. Waktu yang dimiliki Komunitas Sebagai menyelamatkan diri biasanya hanya Di 30 menit atau Malahan kurang.
“Ini menjadi tantangan terbesar kita Ke Didepan Sebab karakteristik Gelombang Laut Tinggi Ke Indonesia adalah Gelombang Laut Tinggi jarak Didekat,” kata Semeidi.
Semedi menjelaskan, bahwa gelombang Gelombang Laut Tinggi dapat merambat sangat cepat apabila sumber gempa berada Didekat Di garis pantai.
“Jika kejadian Guncangan Bumi, maka Gelombang Laut Tinggi bisa sampai Ke pesisir Untuk 30 menit atau kurang Di satu jam,” bebernya.
Sebagai mengatasi tantangan waktu tersebut, Semeidi menekankan perlunya penguatan sistem multi-Alat Pengindera. Perbaikan tata ruang Ke kawasan pesisir juga dinilai harus Memperoleh perhatian serius.
Langkah mitigasi lain yang disoroti adalah pemanfaatan vegetasi pantai, seperti penanaman mangrove dan cemara laut. Vegetasi ini berfungsi sebagai sistem pelindung hijau (greenbelt) yang dapat meredam energi terjangan gelombang.
Samping Itu, ia menilai peningkatan kesiapsiagaan dan Pelatihan kepada Komunitas menjadi faktor vital yang harus terus dibangun Sebagai Mengurangi risko jatuhnya korban jiwa akibat bencana Gelombang Laut Tinggi.
Halaman 2 Di 2
Simak Video “Video: BMKG Resmikan Gedung Backup Sistem Peringatan Dini Ke Bali“
[Gambas:Video 20detik]
(nwk/nwk)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: BRIN Kembangkan Alat Murah PUMMA Sebagai Deteksi Gelombang Laut Tinggi Real Time











