Jakarta –
Menentukan usia alam semesta masih menjadi salah satu pertanyaan terbesar Untuk kosmologi modern. Pada ini, para ilmuwan Mengantisipasi usia alam semesta Untuk seberapa cepat ia mengembang.
Dilansir Untuk Phys.org, Studi terbaru menawarkan pendekatan berbeda. Alih-alih melihat laju ekspansi, para peneliti mencoba Mengantisipasi usia alam semesta Bersama mempelajari usia bintang-bintang tertua Di galaksi Bima Sakti.
Bintang Tertua Digunakan Sebagai Menghitung Usia Alam Semesta
Peneliti Untuk University of Bologna dan Leibniz Institute for Astrophysics Potsdam (AIP) mengusulkan pendekatan Mutakhir Sebagai memahami usia alam semesta. Mereka menggunakan data presisi tinggi Untuk bintang-bintang sangat tua Di galaksi Bima Sakti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada beberapa dekade, para astronom mengandalkan konstanta Hubble Sebagai menghitung usia alam semesta. Konstanta ini menggambarkan seberapa cepat ruang kosmos mengembang.
Akan Tetapi muncul masalah besar, dua metode utama menghasilkan angka pengukuran yang berbeda. Pengukuran yang menggunakan objek astronomi relatif Didekat seperti bintang Cepheid dan supernova Menyediakan nilai konstanta Hubble yang lebih tinggi, yang berarti usia alam semesta lebih muda.
Sebagai Gantinya, pengukuran berdasarkan radiasi latar gelombang mikro kosmik (cosmic microwave background) Menunjukkan usia alam semesta lebih tua. Perbedaan inilah yang Lalu dikenal sebagai Hubble tension, salah satu teka-teki terbesar Untuk kosmologi modern.
Studi ini mencoba melihat persoalan tersebut Untuk sudut pandang lain. Mereka meneliti usia bintang-bintang tertua Di Bima Sakti Sebagai Mengantisipasi batas minimum usia alam semesta. Logikanya sederhana, alam semesta tidak Bisa Jadi lebih muda daripada bintang tertua yang ada Di dalamnya.
Yaitu, jika usia bintang tertua bisa diukur secara akurat, ilmuwan dapat menentukan batas minimum usia alam semesta. Peneliti Lalu Meneliti katalog usia lebih Untuk 200.000 bintang Di Bima Sakti yang dihitung Untuk data kecerahan, posisi, dan jaraknya.
Berapa Usia Alam Semesta?
Sebagai memperoleh hasil yang lebih presisi, Regu peneliti menggunakan data Untuk misi antariksa Gaia milik European Space Agency (ESA) yang Menyediakan pengukuran jarak dan spektrum bintang secara sangat akurat.
“Bersama menggunakan data bintang yang sangat presisi, kami menentukan usia bintang-bintang sangat tua Di Bima Sakti yang dipilih secara hati-hati,” tulis para peneliti Untuk laporan tersebut.
Untuk kumpulan data besar tersebut, para peneliti memilih Di 100 bintang tertua Bersama estimasi usia paling andal. Hasil analisis Menunjukkan usia paling Bisa Jadi Untuk bintang-bintang ini Di 13,6 miliar tahun.
Temuan ini memberi gambaran Mutakhir Untuk perdebatan usia alam semesta. Angka itu lebih konsisten Bersama estimasi usia kosmos Untuk pengamatan radiasi latar gelombang mikro kosmik, dibandingkan Bersama metode lain yang menghasilkan usia lebih muda.
Penulis utama studi, Elena Tomasetti Untuk University of Bologna, menjelaskan pentingnya pendekatan lintas bidang Untuk Studi ini.
“Proyek ini Menunjukkan bagaimana menggabungkan keahlian Untuk berbagai bidang dapat membuka jendela Mutakhir Sebagai menjawab pertanyaan mendasar. Mengukur usia bintang memang tantangan yang kompleks, tetapi sekarang kita hidup Di era ketika jumlah dan Standar data memungkinkan kita mencapai presisi yang belum pernah ada Sebelumnya Itu,” ujarnya.
Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa hasil ini belum menjadi jawaban final. Bersama rilis data Gaia berikutnya Di masa Didepan, ilmuwan berharap bisa Mengantisipasi usia bintang Bersama lebih akurat dan mempersempit lagi Prakiraan usia alam semesta.
(rhr/pal)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Berapa Usia Alam Semesta? Ilmuwan Cari Petunjuk Untuk Bintang Tertua











