Jakarta –
Perusahaan Perkembangan Inovasi Teknologi Hayati asal Amerika Serikat, Colossal Biosciences Memperkenalkan burung moa raksasa menjadi objek hewan yang Berencana mereka hidupkan kembali (de-extincion). Kabar ini kembali bikin heboh dunia sains, Sebelumnya perusahaan tersebut mengklaim telah menghidupkan serigala yang punah 12.500 tahun lalu.
Moa raksasa Pulau Selatan (Dinornis robustus) yang dulu menghuni Selandia Mutakhir dibangkitkan kembali Didalam memodifikasi genetik kerabat terdekatnya yang masih hidup.
Ide de-extincion burung yang punah 600 tahun lalu ini didukung Dari Pusat Eksperimen Ngāi Tahu Ke Universitas Canterbury, Selandia Mutakhir dan pembuat Layar Lebar Lord of the Rings, Sir Peter Jackson. Proyek Dibelakang ini menjadi perbincangan Ke kalangan ilmuwan dan memunculkan skeptisme Didalam Komunitas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Nenek moyang kami yang paling awal Ke tempat ini hidup berdampingan Didalam moa, dan catatan kami, baik arkeologis maupun lisan, memuat pengetahuan tentang burung-burung ini dan lingkungannya. Kami sangat antusias Bagi Merundingkan hal ini Didalam sains mutakhir Colossal sebagai Pada Didalam visi yang berani Bagi restorasi ekologi,” kata salah satu Skuat peneliti Didalam Maori, Kyle Davis dikutip Didalam The Guardian.
Seberapa besar kemungkinan moa raksasa bisa dihidupkan kembali Di zaman modern ini?
Keunikan Burung Moa Raksasa
Moa memang tidak seperti burung Di umumnya yang bisa terbang. Moa raksasa mempunyai tinggi sampai 10 kaki atau Disekitar 3 meter.
Direktur Fasilitas Lanjutan Bagi Eksperimen Unggas Ke Western University Ke London, Scott MacDougall-Shackleton menyebut para arkeolog telah menemukan fosil moa Untuk bentuk tulang, fragmen cangkang teluar dan bulu.
Hewan ini diperkirakan hidup Di ribuan tahun yang lalu. Kepunahan burung moa bersamaan Didalam kedatangan warga Polinesia awal Ke Selandia Mutakhir Di 600 tahun lalu.
“Penjelasan utama kepunahan mereka adalah perburuan berlebihan dan perubahan habitat Setelahnya kedatangan Komunitas Polinesia Ke pulau tersebut,” jelasnya dikutip Didalam CNN.
Ribuan tahun lalu, predator moa cukup sedikit. MacDougall-Shackleton mengatakan burung moa adalah spesies yang lemah dan rentan Di perburuan atau pemangsaan.
“Jika kita peduli Didalam konservasi burung Ke pulau ini, ada ratusan spesies yang terancam dan sangat terancam punah Ke Selandia Mutakhir, Hawaii, dan pulau-pulau Pasifik lainnya yang membutuhkan sumber daya konservasi yang lebih mendesak,” katanya.
Cara De-Extincian Burung Moa Raksasa
De-extincion burung moa raksasa Berencana memanfaatkan DNA Didalam fosil. Lalu, gen kerabat terdekat Berencana dimodifikasi, misalnya burung emu. Setelahnya melewati tahap lainnya, burung hasil rekayasa Berencana ditetaskan dan dilepaskan Ke lokasi rewilding yang tertutup.
Ke balik Ide-Ide tersebut, banyak pihak yang skeptis terhadapnya. Seperti yang disampaikan anggota Kelompok Kerja Pembaruan Aturan Persatuan Internasional, Aroha Te Pareake Mead. Ia khawatir bahwa projek ini keliru.
“De-extinction adalah istilah yang keliru, sebuah janji palsu, yang lebih berakar Di ego daripada upaya tulus Bagi melestarikan spesies. Ini adalah Laga Persahabatan Untuk kenikmatan egois Untuk produksi teatrikal ‘penemuan’ tanpa pertimbangan etika, lingkungan, dan Kekayaan Budaya Dunia. Mengembalikan moa? Ke mana? Ke Standar hidup apa? Bagi berkeliaran bebas?” ungkapnya.
Seorang ahli biologi evolusi Didalam Universitas Sheffield, Dr Tori Herridge pun sependapat. Ia adalah peneliti yang pernah ditawarkan Karena Itu dewan penasihat Colossal Biosciences, tetapi menolaknya.
“Saya rasa kita tidak Berencana bisa menciptakan sesuatu yang perilakunya mirip mammoth berbulu hanya berdasarkan genomnya. Banyak perilaku gajah yang dipelajari. Kita tahu ada masalah Didalam perilaku gajah Setelahnya kita memisahkan matriarki Didalam suatu kelompok,” ujarnya.
(cyu/pal)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Ambisi Hidupkan Burung Purba Moa, Raksasa yang Punah 6 Abad Lalu











