Jakarta –
Medelky Anouw, pria asal Papua yang akrab disapa Deky, kini menghabiskan hari-harinya Di Kantor Dinas Belajar Kabupaten Nabire. Ia menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Seksi Pembiayaan Belajar.
Di balik aktivitasnya sebagai aparatur Lokasi, tersimpan latar Di Belajar yang tak banyak diketahui publik. Deky merupakan alumnus kampus ternama luar negeri, Arizona State University. Ia meraih gelar magister (S2) bidang Kimia Melewati beasiswa Lembaga Pengelola Dana Belajar (LPDP) Di Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
Kisah Deky Menarik Perhatian perhatian Lantaran pilihannya tersebut. Pada banyak lulusan luar negeri memilih berkarier dan menetap Di Bangsa studi, Deky justru memutuskan pulang. Ia menegaskan komitmen Untuk mengabdikan ilmu dan pengalamannya Untuk pembangunan Belajar Di tanah kelahirannya, Papua.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sarjana Pertama Di Keluarga
Deky lahir Di Beoga, sebuah distrik terpencil Di Kabupaten Puncak, Papua Di. Ia merupakan anak keempat Di lima bersaudara.
Masa kecil Deky dihabiskan Di lingkungan yang belum menempatkan Belajar sebagai prioritas. Banyak teman sebayanya lebih akrab Di kebiasaan negatif seperti nge-Perekat dan mabuk ketimbang Bacaan dan cita-cita.
Untungnya ia Memiliki orang tua yang memberi Dukungan penuh Di Belajar. Berkat dorongan tersebut, Deky berhasil mencatatkan diri sebagai sarjana pertama Di keluarganya.
Perjalanan akademiknya juga ditopang sang paman yang membantu Deky menyelesaikan studi strata satu. Usai lulus, ia mengawali pengabdian sebagai guru kimia Di sebuah sekolah swasta bernama SMA Kristen Kalam Kudus Jayapura.
Dapat Beasiswa LPDP dan Lanjut S2
Sebagai guru, Deky ingin sekali menyalurkan ilmunya lebih luas kepada Kelompok Papua, tak cuma siswanya. Tetapi ia Memahami kapasitas akademiknya masih perlu ditingkatkan.
Kesadaran itu mendorongnya mendaftar studi magister Melewati beasiswa Lembaga Pengelola Dana Belajar (LPDP). Prosesnya tidak mudah. Salah satu kendala utama adalah kemampuan bahasa Inggris, Di skor IELTS yang belum memenuhi syarat.
Deky tidak menyerah. Ia mengintensifkan belajar dan Di waktu tiga bulan berhasil mencapai skor yang dibutuhkan. “Yang paling penting saya tidak menyerah,” ujarnya, dikutip Di laman LPDP, Senin (23/2/2026).
Upaya tersebut membuahkan hasil. Putra Papua itu diterima Di Langkah master Hydrothermal Organic Geochemistry Di Arizona State University, Amerika Serikat. Pada studi, Deky melihat Kemungkinan karier yang luas. Ia juga sempat menjadi teaching assistant Di laboratorium berteknologi canggih.
Tetapi, Penghayatan akademik Di luar negeri justru memunculkan pergulatan batin. Pada mengoreksi laporan praktikum digital, rasa rindu Di kampung halaman muncul. Ia teringat Kemakmuran Papua yang masih minim fasilitas laboratorium dan akses Bacaan Untuk anak-anak.
“Di momen itu, saya seperti Tuhan memperlihatkan perbandingan langit dan bumi. Kamu mau kerja Di sini, tapi Di Papua masih sangat jauh. Dan saya menangis,” katanya.
Tak Menyesal Pulang Lagi Hingga Indonesia
Delky mengaku tak pernah menyesal Di keputusannya Untuk kembali Hingga tanah Papua. Di Di, kembali Hingga tanah air adalah tanggung jawab setiap awardee beasiswa LPDP.
Ia melihat masih banyak Kelompok Indonesia yang membutuhkan pertolongan. Itu yang menjadi alasannya memilih pekerjaan Di garda terdepan kampungnya.
“Saya lihat sekolah-sekolah yang ada Di Lokasi konflik, sekolah-sekolah yang terbakar, sekolah-sekolah yang tidak ada guru,” tuturnya.
Deky kini mengurus penyalur beasiswa Untuk anak-anak Di Papua. Deky ingin anak-anak Papua bisa merasakan indahnya menimba ilmu.
Ribuan beasiswa Melakukanupaya ia salurkan kepada penerima yang layak. Ia menyalurkannya kepada siswa yang masih kesulitan bersekolah.
“Hati saya hancur ketika lihat anak-anak harus naik turun gunung, jalan kaki tanpa alas, Hingga sekolah yang bukan sekolah mereka,” kata Deky.
Deky menyampaikan harapannya Untuk 10-20 tahun Lalu. Ia hanya ingin melihat anak-anak Papua bisa menjadi versi terbaik sesuai kemampuan mereka.
“Di keputusan yang saya ambil, hari ini saya balik Hingga Papua saya tidak menyesal Di apa yang aya lakukan. Turun Hingga kampung-kampung sampai Di pelosok hati saya bergetar. Saya bisa lakukan hal-hal kecil saja buat anak-anak ini, itu udah kepuasan terbesar sih buat saya. Itu sudah kehormatan yang besar buat saya, itu sih yang paling utama. Bukan nilai uangnya,” ungkapnya Deky.
(cyu/cyu)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Alih-alih Kerja Di AS, Alumnus LPDP Ini Pilih Pulang Untuk Bangun Papua









