Edu  

Tak Lolos Seleksi Masuk Kampus 7 Kali, Putri Kembar Dapat Kuliah Gratis Hingga UGM

Jakarta

Tujuh kali tak lolos seleksi masuk perguruan tinggi menguji persiapan akademik sekaligus kekuatan mental. Inilah yang dirasakan dua putri kembar asal Dukuh Klitik, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Ponorogo, Jawa Timur.

Mahmudah Lathif dan Muzdrickah Lathif (Rikah), kedua pelajar tersebut, mengaku sempat down Di belum lolos seleksi masuk kampus. Akan Tetapi, upaya keduanya mengantarkan mereka diterima Hingga Universitas Gadjah Mada (UGM).

Anak buruh serabutan dan ibu Rumah tangga ini juga Merasakan Bantuan Pemerintah uang kuliah tunggal (UKT) 100 persen. Bantuan Pemerintah ini memungkinkan keduanya kuliah gratis hingga lulus.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Orang Tua Utamakan Pembelajaran

Mahmudah dan Rikah lahir Untuk pasangan Meseri (48) dan Siti Rokhayati (43). Sang ayah sehari-hari menawarkan jasa Pertanian Di warga Di yang Lagi menggarap sawah.

Ia juga terkadang menjadi mandor ketika ada proyek bangunan Hingga kota Untuk Merasakan pemasukan. Di Di Yang Sama, sang ibu sesekali ikut Hingga sawah Untuk menambah penghasilan Rumah tangga.

Ketika melahirkan anak kembar, keduanya bersepakat Untuk cukup Memperoleh dua anak. Harapannya, mereka dapat Menyediakan yang terbaik dan sang anak bernasib lebih baik.

Untuk mengupayakannya, Mahmudah dan Rikah sudah dikenalkan Di Literatur dan Pelatihan menulis Dari Sebelumnya TK. Ayah dan ibunya menekankan, sekolah adalah jalan keluar Untuk nasib mereka Di ini.

“Setidaknya jangan sampai seperti orang tua, tidak punya penghasilan tetap Untuk menjamin Keadaan keluarga,” kata Siti, dikutip Untuk laman UGM, Kamis (23/7/2026).

Mengikuti pesan orang tuanya, Mahmudah dan Rikah tekun belajar dan aktif berkompetisi. Dari SD Hingga SDN 3 Krebet, Ponorogo, keduanya selalu masuk ranking tiga besar Hingga kelas dan sering berebut posisi ranking satu.

Mahmudah sendiri mengantongi 18, sedangkan Rikah 14, mulai Untuk Evenbesar tingkat karesidenan sampai Kemenangan esai dan poster tingkat nasional. Mengikuti Kejuaraan bantu mereka menyiapkan mental Untuk mampu bersaing.

“Untuk Kejuaraan memanglah Mengalahkan itu selalu ada, begitu juga Didalam Kegagalan,” kata Mahmudah.

Coba Terus Seleksi Masuk Kampus

Rikah semula ingin masuk UGM Dari gurunya Hingga kelas 4 SD menceritakan murid yang berhasil kuliah Hingga UGM Didalam beasiswa. Belakangan, Rikah dan Mahmudah tahu keduanya sama-sama ingin masuk UGM.

Akan Tetapi, keduanya belum diterima lewat berbagai seleksi masuk perguruan tinggi negeri (PTN).

“Kami merasa down pastinya, tapi akhirnya kami bangkit. Kami yakin bahwa masih ada banyak jalan lain yang terbuka,” ungkapnya.

Sempat diterima Hingga kampus Hingga Malang, keduanya masih berkeinginan melanjutkan Pembelajaran Hingga UGM. Meski tak yakin diterima, keduanya mendaftar Lewat jalur Penelusuran Bibit Unggul Tidak Mampu (PBUTM) UGM.

Rupanya, Mahmudah diterima Hingga D4 Manajemen dan Penilaian Properti, Sekolah Vokasi UGM, dan Rikah Hingga D4 Ilmu Pengetahuan Veteriner, Sekolah Vokasi UGM.

“Sesudah penantian yang panjang, perjuangan saya Untuk banyak belajar dan prestasi yang saya kumpulkan, akhirnya itu membuahkan hasil,” tutur Mahmudah bersyukur.

Di Di Yang Sama, Rikah berharap ilmunya kelak bisa menolong warga Di Rumah. Ia membayangkan, nantinya dapat membentuk komunitas penyuluhan ternak Untuk warga desanya.

Mematahkan Stigma Kampung Idiot-Kampung TKI

Desa tempat ia dibesarkan dihuni anak muda yang mayoritas tidak melanjutkan Pembelajaran tinggi Sesudah SMK. Para lulusan sekolah ini Sesudah Itu memilih langsung bekerja, termasuk Didalam menjadi buruh migran Hingga luar negeri, yang melatari julukan ‘kampung TKI’.

Sebelumnya, desa mereka Merasakan julukan yang menyakitkan, yakni ‘kampung idiot’. Sebutan tersebut muncul Untuk isolasi geografis akibat perkawinan sedarah antarpenduduk yang terjebak Untuk lingkaran Kemiskinan Global dan minim akses Pembelajaran dan melahirkan sejumlah anak Didalam retardasi mental.

Keyakinan dan upaya Mahmudah dan Rikah menurut pihak UGM Menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi dan latar Di desa terpencil bukan nasib akhir Untuk putra-putri setempat.

Atas diterimanya ia dan saudari kembarnya Hingga UGM, Rikah juga mengucapkan terima kasih Di orang tuanya.

“Terima kasih Untuk tidak menyerah dan selalu mendukung saya,” tuturnya.

Meseri sendiri Mengungkapkan bersyukur atas karunia anak Hingga keluarganya tersebut, kendati sempat gamang membayangkan anaknya pergi jauh Untuk kuliah Hingga Yogyakarta.

“Bersyukur, senang anak-anak bisa diterima Hingga UGM,” ucapnya.

Halaman 2 Untuk 2

(twu/pal)


Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Tak Lolos Seleksi Masuk Kampus 7 Kali, Putri Kembar Dapat Kuliah Gratis Hingga UGM

พัฒนาทักษะการเล่นของคุณไปกับ PG SLOT เพื่อเรียนรู้ฟีเจอร์ใหม่ๆ ก่อนใครได้แล้ววันนี้