Ratusan fosil dan lima bangkai paus ditemukan peneliti Hingga Zona Diamantina, Samudra Hindia Di 1.600 km sebelah barat Australia. Peneliti menyebut lokasi ini sebagai kuburan paus terbesar Hingga dunia.
Kuburan paus ini ditemukan Di ekspedisi yang dipimpin Bersama peneliti China. Beberapa fosil ditemukan Hingga dasar laut Zona Diamantina, sebuah area sepanjang 1.200 km yang terdiri Bersama punggungan (bukit Hingga dasar laut) dan palung bawah laut Hingga Samudra Hindia berusia 5,3 juta tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proses Penemuan Kuburan Paus Terbesar Hingga Dunia
Seperti yang disebutkan Sebelumnya Itu, kuburan paus itu ditemukan Pada ekspedisi kapal Eksperimen China, Tan Suo Yi Hao Di Maret 2023. Kapan itu memang sering digunakan Bagi Langkah Penjelajahan dan penyelaman palung Internasional, sebuah kolaborasi Eksperimen Di China’s Institute of Deep Sea Science and Engineering (IDSSE) dan beberapa Negeri termasuk Selandia Terbaru.
Wakil direktur IDSSE, Xiaotong Peng mengatakan Langkah itu bertujuan Bagi Mengusut keanekaragaman hayati, eksosistem, polusi, dan proses geologi Hingga Dibagian terdalam lautan. Ekspedisi menelusuri kedalaman 6-11 ribu yang dikenal sebagai zona hadal.
“Zona Diamantina adalah salah satu palung hadal utama Hingga Samudra Hindia,” kata Peng dikutip Bersama ABC News.
Australia disebut sebagai Negeri terdekat Bersama Zona Diamantina, yang terletak Di 1.600 km Hingga arah barat. Zona itu Lalu dijelajahi Bersama kapal selam berawak Fendouzhe hingga kedalaman 11 ribu meter.
Di kedalaman Di 4,2-7,2 ribu meter, fosil paus pertama ditemukan. Ahli geologi laut Di yang terlibat Di ekspedisi itu, Peng Zhou Mengungkapkan Pada pertama kali melihat fosil, tidak mengenalinya sebagai sisa-sisa paus Lantaran telah dilapisi oksida ferromangan.
“Akan Tetapi, kami dapat merasakan bahwa itu adalah sesuatu yang istimewa, Karena Itu kami mengumpulkan sampelnya. Yang mengejutkan, kami menemukan Lebih banyak fosil paus serupa Di penyelaman berikutnya,” paparnya.
Sebelum penemuan pertama, 30 kali penyelaman dilakukan Bagi memetakan sebaran fosil dan bangkai paus. Hasilnya, 476 fosil cetacea ditemukan, lima paus Lagi Merasakan dekomposisi aktif (penguraian Bersama jamur dan bakteri), dan satu Di penemuan ini adalah spesies punah Terbaru yang berusia 5 juta tahun.
Spesies Fosil Paus yang Ditemukan
Ada berbagai spesies paus yang fosilnya ditemukan Hingga lokasi tersebut, salah satunya adalah paus balin (Balaenoptera borealis). Di Itu ada lima spesies fosil paus berparuh yang kini telah punah.
Tiga Bersama lima bangkai paus yang Ditengah diuraikan termasuk Di spesies paus berparuh modern. Dr Song peneliti asal IDSSE Mengungkapkan spesies berparuh yang masih ada hingga Pada ini terlihat jika mereka terdampar.
Akan Tetapi, jika tidak terdampar keberadaanya sulit diketahui. Song menekankan jumlah, distribusi, ekologi, dan berbagai hal soal paus berparuh masih kurang dipahami.
Hingga Di fosil-fosil itu ditemukan fragmen tengkorak Bersama spesies paus yang tidak dikenal. Peneliti Lalu memberikannya nama sebagai Pterocetus diamantinae.
Ahli paleontologi dan penulis studi, Giovanni Biannuci menyebut ada anatomis fosil Pterocetus diamantinae yang berbeda dibanding spesies lainnya. Pembaruan ini tentu Meningkatkan pemahaman manusia tentang sejarah evolusi paus berparuh.
“Dan membantu memperjelas bagaimana kelompok yang sangat terspesialisasi ini berevolusi,” katanya.
Alasan Kuburan Paus Bisa Terbentuk
Berisi ratusan fosil paus, bagaimana fosil hewan-hewan ini bisa terawetkan Bersama baik? Ada beberapa hipotesis Bagi menjawab hal ini.
Song berpendapat bila Zona Diamantina berfungsi sebagai habitat atau koridor Mobilitas Penduduk Bagi beberapa spesies paus. Artinya, sebagian besar sisa-sisa fosil tersebut Mungkin Saja berasal Bersama paus yang mati secara alami.
Lebih Jelas, Song mencatat banyaknya spesies paus berparuh yang ditemukan bisa berkaitan Bersama sebab lain. Penyebab yang dimaksudnya berhubungan Bersama perilaku.
“Paus berparuh yang menyelam hingga kedalaman lebih Bersama 3.000 meter Mungkin Saja mencapai batas fisiologis, Supaya Meningkatkan risiko kelelahan fatal atau Penyakit dekompresi,” ucap Song lagi.
Zona Diamantina Memiliki topografi berbentuk V. Kemakmuran ini membantu bangkai-bangkai bergerak Hingga arah dasar laut.
Sedangkan alasan mengapa fosil-fosil ini bisa terawetkan Bersama baik dijelaskan Bersama Dr Zhou. Ia menyebutkan ada beberapa faktor yang berperan Di proses ini, yaitu:
1. Fosil yang tersisa sebagian besar berupa rostrum (hidung) paus berparuh yang sangat padat dan kaya mineral, Supaya Konsisten Pada degradasi.
2. Laju sedimentasi Hingga Zona Diamantina sangat rendah.
3. Lapisan oksida ferromangan yang terbentuk menjadi kerak pelindung tulang paus.
4. Lingkungan laut Di dan suhunya stabil, Supaya pelapukan fisik dan kimia sedikit terjadi.
Perlu Dilestarikan
Walaupun Zona Diamantina Karena Itu Tempattinggal banyak paus mati, dasar laut Hingga sana dipenuhi Bersama kehidupan. Ketika paus mati, tubuhnya Akansegera dimanfaatkan berbagai makhluk lainnya.
Pakar bangkai paus Bersama Universitas Hawaii, Craig Smith mengatakan bila penemuan kuburan paus ini sangatlah berharga. Bangkai paus bisa Meningkatkan keanekaragaman hayati Hingga beberapa Dibagian terdalam lautan.
“Hasil Eksperimen ini mendukung gagasan bahwa bangkai paus Hingga laut Di merupakan pusat keanekaragaman hayati dan menyediakan jembatan penghubung Bagi taksa yang bergantung Di sulfida,” urai Smith.
Belum bisa berhenti, Smith menilai perlu ada Penjelajahan lanjutan Bagi mencari nekropolis (kuburan) paus serupa Hingga area tempat paus berparuh mencari makan. Hal ini juga diyakini ada Hingga suatu tempat Bersama Profesor Peng.
Dr Song menambahkan palung laut bisa menjadi Area yang sangat penting Bagi keanekaragaman hayati laut. Akan Tetapi, lokasi ini juga kini Berjuang Bersama ancaman polusi, Supaya ikut perlu dilestarikan.
“Melindungi palung laut melestarikan perbatasan terakhir Bumi dan warisan evolusi uniknya. Pembatasan kawasan lindung laut Hingga ekosistem palung perlu dipertimbangkan Hingga masa mendatang,” tandas Song.
Halaman 2 Bersama 3
(det/nwk)
Devita Savitri
Jurnalis detikcom. Jurnalis detikcom Sebelum 2023. Tertarik dan aktif meliput Permasalahan Yang Berhubungan Bersama Belajar dasar dan menengah. Wartawan Terproduktif Kemendikdasmen 2025.
`;
constructor() {
super()
this.attachShadow({ Tren: “open” })
this.shadowRoot.innerHTML = TentangPenulis.html
}
async connectedCallback() {
if (elementType === ‘single’) return false;
const { default: Swiper } = await import(
”
);
this.SwiperClass = Swiper;
const swiperContainer = this.shadowRoot.querySelector(‘.mySwiper’);
new this.SwiperClass(swiperContainer, {
slidesPerView: 1,
spaceBetween: 18,
navigation: {
nextEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-next”),
prevEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-prev”),
},
pagination: {
el: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-pagination”),
clickable: true,
},
});
}
}
customElements.define(elementTemplate, TentangPenulis)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Peneliti Temukan Kuburan Paus Terbesar Hingga Dunia, Ada Hingga Mana?











