Jakarta –
Kisah Bariah menjadi salah satu sorotan Untuk Wisuda Lokasi Periode I Tahun 2026 Universitas Terbuka (UT) Jakarta Ke Universitas Terbuka Convention Center (UTCC). Perempuan 26 tahun asal Palembang itu meraih gelar Sarjana Manajemen Setelahnya Lewat perjalanan panjang.
Untuk wisuda yang mengukuhkan 1.930 lulusan tersebut, Bariah mengaku sudah menjalani banyak fase hidup Sebelumnya akhirnya berdiri Ke titik kelulusan. Ia menjadi yatim piatu, sempat putus sekolah Lantaran biaya, hingga merantau seorang diri Hingga Jakarta Untuk bertahan hidup.
“Saya Untuk Palembang, Untuk Sumatera. Saya sudah merantau kurang lebih 3 tahun Ke Jakarta,” ucap Bariah, kepada detikcom, Minggu (1/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bariah bercerita pendidikannya nyaris terhenti Di ia terkendala biaya Untuk melanjutkan sekolah. Ke masa SMA, ia Malahan sempat berjualan gorengan Untuk memperoleh uang saku.
“Setiap istirahat saya jualan,” tuturnya.
Selepas SMA, hidupnya Lebih berat. Ia sempat bekerja sebagai asisten Rumah tangga (ART) Ke Jakarta Didalam penghasilan terbatas. Akan Tetapi Untuk fase itu pula, ia Menyambut kesempatan Untuk kembali melanjutkan Belajar hingga akhirnya bisa menempuh kuliah Ke UT.
Meski mulai menemukan arah hidup, tantangan hidupnya belum juga usai, termasuk stigma dan komentar yang meremehkan dirinya. Tapi hal tak menyurutkan semangatnya Untuk maju. Malahan tantangan tersebut justru menjadi pemantik baginya Untuk membuktikan cita-citanya.
“Hal yang bikin saya sedih itu ketika saya diremehin. Buat apa kuliah toh nanti gak bakal Karena Itu apa-apa. Nah Untuk situlah, saya harus bangkit, saya pasti bisa,” ujar Bariah.
Soal Kemakmuran Penyandang Disabilitas, Bariah menyebut dirinya penyandang Penyandang Disabilitas daksa dan tidak ingin kondisinya menjadikan penghalang Untuk kuliah.
“Kalau menghambat, sepertinya nggak ada ya. Sebagai penyandang Penyandang Disabilitas daksa, saya kan nggak bisa jalan. Akan Tetapi Untuk saya hal itu nggak ngaruh buat belajar kok. Belajar bisa dimana aja,” katanya.
Ia juga mengatakan pernah Merasakan perundungan Untuk keseharian, Akan Tetapi Bariah memilih fokus Ke tujuan dan proses yang Untuk ia jalani.
Bariah menilai kuliah sambil bekerja menuntut disiplin. Kuliah Berencana memberi dampak besar Untuk cara pandangnya. Ia merasa Belajar membantunya mengasah pola pikir, lebih Damai Berusaha Mengatasi persoalan, serta lebih teratur mengelola waktu Ke Di Kegiatan yang padat.
Ia berharap kelulusan ini membuka jalan karier yang lebih baik. Ke tempatnya bekerja, gelar sarjana disebut menjadi bekal Untuk naik peran. Baginya, pencapaian ini juga menjadi cara Untuk mematahkan keraguan orang-orang Pada kemampuan penyandang Penyandang Disabilitas.
Bariah pun menyampaikan pesan Untuk sesama penyandang Penyandang Disabilitas dan siapa pun yang merasa terlambat belajar.
“Pesan Untuk sesama Penyandang Disabilitas, nggak ada kata terlambat buat belajar,” ujar Bariah.
Ia juga menilai sistem belajar Ke UT membantunya Lantaran fleksibel dan memungkinkan kuliah tetap berjalan meski sambil bekerja. Bariah mengatakan perkuliahan jarak jauh membuat mahasiswa dapat belajar Untuk mana saja dan menyesuaikan pengerjaan tugas Didalam Kemakmuran masing-masing.
Baginya, pola pembelajaran terbuka dan jarak jauh memberi ruang yang lebih ramah Untuk mahasiswa Didalam beragam Kemakmuran, termasuk Penyandang Disabilitas, Untuk tetap kuliah, bekerja, dan menyelesaikan studi hingga lulus.
(akn/ega)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Lawan Keterbatasan, Wisudawan Penyandang Disabilitas UT Jakarta Sukses Karena Itu Sarjana











